Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim dan Kapal Besar Ancam Laut Karimunjawa, Bagaimana Nasib Nelayan?

Kompas.com, 28 Februari 2026, 11:24 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim disebut telah memutihkan terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah.

Perwakilan masyarakat bahari Kepulauan Karimunjawa, Bambang Zakariya menuturkan, ia beberapa kali menyaksikan deretan terumbu karang yang "tiba-tiba" memutih. Padahal saat ini ada beberapa jenis biota di perairan Kepulauan Karimunjawa.

Baca juga:

Selain alam sudah tidak dapat diprediksi, perairan di Kepulauan Karimunjawa juga terkepung nelayan-nelayan berskala besar.

Posisi Kepulauan Karimunjawa, yang tepat di tengah antara Jawa dan Kalimantan, menjadikannya jalur kapal berlalu lalang.

"Kami nelayan Karimunjawa ini nelayan tradisional, tidak punya kami kapal sebesar-besar gross tonnage (GT)-nya itu ya paling cuma GT 3, kecil-kecil. Sementara laut kami itu dikelilingi oleh nelayan yang besar-besar. Terkadang mereka, sering mereka masuk ke kawasan tangkapan tradisional," ujar Zakariya dalam Diskusi Media Iklim, Perundingannya dan Realita yang Dihadapi Masyarakat Bahari, Jumat (27/2/2026).

Dampak krisis iklim dan kapal skala besar di Karimunjawa

Kapal skala besar yang berlabuh sebabkan masalah sosial dan lingkungan

Krisis iklim memutihkan terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa. Nelayan juga terdesak kapal besar dan alat tangkap tak ramah lingkungan.SHUTTERSTOCK Krisis iklim memutihkan terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa. Nelayan juga terdesak kapal besar dan alat tangkap tak ramah lingkungan.

Nelayan dengan kapal berskala besar yang memakai alat tangkap tidak ramah, masuk ke kawasan tangkapan tradisional di Kepulauan Karimunjawa.

Alat tangkapnya, seperti cantrang, menyapu banyak rumpon dan bubu milik nelayan tradisional dari Kepulauan Karimunjawa.

"Ya, karena mereka ya itu tadi, masuk ke kawasan-kawasan kami," tutur Zakariya.

Di sisi lain, lokasi Kepulauan Karimunjawa yang berada di tengah lautan terkadang menjadi dilema tersendiri. Ketika musim angin kencang dan ombak besar, nelayan-nelayan besar ini banyak yang merapat ke pulau-pulau tersebut untuk berlindung.

Menurut Zakariya, berlabuhnya nelayan-nelayan dengan kapal berskala besar menjadi permasalahan sosial di Kepulauan Karimunjawa.

Kebiasaan nelayan-nelayan dengan kapal berskala besar kerap mempengaruhi kehidupan di daratan Kepulauan Karimunjawa.

Secara sosial, kebiasaan mereka banyak yang tidak sesuai dengan kearifan lokal masyarakat Kepulauan Karimunjawa.

"Banyak sekali kalau musim angin kencang, laut bergelora itu mereka merapat ke darat untuk berlindung, bahkan bukan hanya nelayan-nelayan besar ini tapi kadang-kadang tongkang batu bara itu juga merapat untuk berlindung," ucapnya.

Baca juga:

Gamang ke mana harus berpijak

Krisis iklim memutihkan terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa. Nelayan juga terdesak kapal besar dan alat tangkap tak ramah lingkungan.shutterstock/Zakki Photo Creative Krisis iklim memutihkan terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa. Nelayan juga terdesak kapal besar dan alat tangkap tak ramah lingkungan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanaman Bisa Berhenti Tumbuh Sementara agar Tetap Hidup Saat Cuaca Ekstrem
Tanaman Bisa Berhenti Tumbuh Sementara agar Tetap Hidup Saat Cuaca Ekstrem
LSM/Figur
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
LSM/Figur
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
LSM/Figur
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau