Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tumpahan Minyak Kapal Cemari Pantai di Phuket Thailand, Pariwisata Terancam

Kompas.com, 28 Februari 2026, 12:15 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Tumpahan minyak dari kapal kargo yang tenggelam di Samudera Hindia saat ini mencemari sejumlah pantai di Phuket, Thailand. Insiden ini memicu kekhawatiran karena minyak sudah mencapai pasir putih dan perairan jernih yang selama ini jadi daya tarik wisatawan.

Kapal berbendera Panama, Sealloyd Arc, tenggelam di lepas pantai Phuket saat berlayar menuju Chattogram di Bangladesh, Sabtu (7/2/2026). Otoritas Thailand menyebut sekitar 1.700 liter minyak tumpah ke laut akibat insiden tersebut.

Baca juga:

Tumpahan minyak dari kapal cemari perairan Phuket, Thailand

Ya Nui Beach dan Banana Beach terdampak

Ilustrasi Phuket Thailand. Tumpahan minyak dari kapal Sealloyd Arc mencemari Ya Nui Beach dan Banana Beach di Phuket, Thailand.PIXABAY/MICHELLE_RAPONI Ilustrasi Phuket Thailand. Tumpahan minyak dari kapal Sealloyd Arc mencemari Ya Nui Beach dan Banana Beach di Phuket, Thailand.

Dua pekan setelah kapal karam, residu minyak yang sudah menggumpal mulai terdampar di sejumlah pantai.

Salah satu yang terdampak adalah Ya Nui Beach, yang dikenal dengan pasirnya yang bersih dan airnya yang biru jernih.

Minyak juga mencemari Banana Beach di Koh Hey. Pantai ini populer di kalangan wisatawan yang gemar island hopping (jelajah pulau-pulau).

Anggota parlemen lokal, Chalermpong Saengdee, mengatakan bahwa situasi ini sangat mengkhawatirkan.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena insiden tersebut terjadi dua minggu yang lalu, tapi situasinya tidak membaik dan mengancam kehidupan laut serta terumbu karang pesisir," kata Saengdee, dilansir dari AFP, Sabtu (28/2/2026).

"Kami juga khawatir hal ini dapat berdampak pada pariwisata dan ekonomi Thailand," tambah dia. 

Baca juga:

Sulitnya hentikan tumpahan minyak

Ilustrasi Banana Beach di Phuket, Thailand. Tumpahan minyak dari kapal Sealloyd Arc mencemari Ya Nui Beach dan Banana Beach di Phuket, Thailand.Dok. Freepik/benzoix Ilustrasi Banana Beach di Phuket, Thailand. Tumpahan minyak dari kapal Sealloyd Arc mencemari Ya Nui Beach dan Banana Beach di Phuket, Thailand.

Kapal kargo itu kini berada di kedalaman sekitar 60 meter. Kedalaman ini menyulitkan penyelam untuk menghentikan kebocoran.

Upaya penanganan menjadi tidak mudah. Pemerintah harus mempertimbangkan langkah teknis yang aman dan cepat.

Rekaman dari stasiun televisi publik Thai PBS menunjukkan, warga setempat membersihkan pantai. Mereka menyisir pasir dengan garu dan ember, lalu gumpalan minyak hitam dikumpulkan secara manual. 

Angkatan Laut Thailand sudah menggunakan bahan dispersan untuk mengatasi tumpahan di laut. Dispersan berfungsi memecah minyak agar tidak menggumpal di permukaan, tapi langkah ini belum sepenuhnya menghentikan minyak yang terdampar.

Saengdee mendesak pemerintah untuk menyediakan dana penyelamatan bangkai kapal karena menurutnya langkah itu penting agar kebocoran tidak terus terjadi. 

Adapun data dari Department of Marine and Coastal Resources menunjukkan, Thailand mengalami 130 kasus tumpahan minyak antara tahun 2017 hingga 2021. Kasus tersebut berdampak pada lebih dari 23 provinsi. 

Organisasi lingkungan memperingatkan bahwa tumpahan minyak bisa menimbulkan dampak berat dan jangka panjang.

Minyak dapat melapisi tubuh satwa laut, lalu bulu burung dan kulit mamalia laut bisa rusak. Sumber makanan bisa ikut tercemar dan zat kimia beracun juga bisa dilepaskan ke perairan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Pemerintah
Samator Lanjutkan Revitalisasi Sungai Jagir, Targetkan Penataan Sepanjang 775 Meter
Samator Lanjutkan Revitalisasi Sungai Jagir, Targetkan Penataan Sepanjang 775 Meter
Swasta
PalmCo Dorong Pemerintah Perjelas Batas Kawasan Hutan untuk Beri Kepastian Hukum
PalmCo Dorong Pemerintah Perjelas Batas Kawasan Hutan untuk Beri Kepastian Hukum
BUMN
Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan
Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan
LSM/Figur
UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Emisi Perjalanan Penonton Piala Dunia Jauh Lebih Tinggi Dibanding Acaranya
Emisi Perjalanan Penonton Piala Dunia Jauh Lebih Tinggi Dibanding Acaranya
Pemerintah
Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan
Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan
LSM/Figur
ITB Kembangkan Pepton dari Maggot untuk Kurangi Ketergantungan Impor
ITB Kembangkan Pepton dari Maggot untuk Kurangi Ketergantungan Impor
LSM/Figur
Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
Pemerintah
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau