KOMPAS.com - Hidrogen hijau berisiko gagal menjadi bahan bakar yang benar-benar berkelanjutan.
Sebagai landasan strategi nol emisi bersih (net zero emission/NZE) di seluruh dunia, hidrogen hijau perlu didukung dengan partisipasi negara-negara dalam melakukan dekarbonisasi jaringan energi mereka secara cepat.
Baca juga:
Studi terbaru menyoroti peran penting bauran energi nasional dalam menentukan tingkat emisi gas rumah kaca (GRK), yang terlibat dalam produksi bahan bakar dan dampaknya terhadap lingkungan.
Apalagi, hidrogen hijau dapat berperan penting dalam transisi energi bersih jika listrik untuk produksinya berasal dari sumber yang benar-benar rendah karbon.
Saat ini, sekitar 96 persen hidrogen masih diproduksi menggunakan listrik yang berasal dari energi fosil.Studi yang diterbitkan dalam jurnal Communications Sustainability ini menunjukkan, hidrogen hijau bisa memenuhi "janjinya" kalau seluruh rantai pasokan dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan.
Hidrogen hijau dapat menjadi jawaban untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor. Namun, saat ini, sekitar 96 persen hidrogen masih diproduksi menggunakan listrik yang berasal dari energi fosil.
"Kita tidak akan berhasil menggunakan hidrogen untuk mencapai nol emisi bersih, jika bahan bakar fosil masih memainkan peran yang sangat besar dalam rantai pasokan hidrogen," ujar Profesor Manajemen Operasi di Universitas Sheffield, Lenny Koh, dilansir dari TechXplore, Kamis (5/3/2026).
Koh memimpin para peneliti dalam mengevaluasi 20 skenario yang mungkin untuk memproduksi dan mengangkut hidrogen hijau di 14 negara selama periode tahun 2023-2050.
Sebanyak 14 negara yang dipilih merupakan pemimpin dunia dalam pengembangan hidrogen, termasuk Inggris, Jepang, China, Perancis, Norwegia, Kanada, Jerman, Korea Selatan, Amerika Serikat (AS), Austria, Irlandia, Polandia, Italia, dan Belanda.
Studi tersebut berfokus pada lima cara berbeda untuk membuat bahan bakar hidrogen yaitu tiga menggunakan elektrolisis dan dua lainnya sistem biomassa, metode produksi utama saat ini secara global.
Temuan dari studi mengungkapkan, teknologi elektrolisis menghasilkan emisi GRK tertinggi pada tahun 2023. Tahap pengoperasian, pemeliharaan, dan manufakturnya intensif energi, dengan jaringan listrik yang sebagian besar ditenagai oleh minyak, gas, atau batu bara.
Baca juga:
Saat ini, sekitar 96 persen hidrogen masih diproduksi menggunakan listrik yang berasal dari energi fosil.Namun, produksi hidrogen melalui membran pertukaran proton, sejenis elektrolisis, bisa menjadi pilihan paling berkelanjutan pada tahun 2050. Syaratnya, jaringan listrik yang memasok telah beralih dari fosil ke energi baru terbarukan (EBT).
Banyak skenario dalam studi ini memproyeksikan pengurangan emisi GRK yang signifikan pada 2050, selama jaringan listrik menjadi lebih bersih dan negara-negara beralih ke energi terbarukan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya