KOMPAS.com-Hampir setengah satwa liar yang bermigrasi dan yang dipantau dalam perjanjian global Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) kini terus berkurang populasinya. Selain itu persentase spesies yang menghadapi kepunahan kembali merangkak naik.
Laporan pembaruan State of the World’s Migratory Species sementara pun memperingatkan bahwa tren ini semakin memburuk hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, meski ada beberapa keberhasilan pemulihan.
Melansir Earth, Jumat (6/3/2026) hewan migran bukanlah bagian kecil atau sampingan dari keanekaragaman hayati. Mereka ada di mana-mana, dan mereka menjalankan peran yang sangat penting saat mereka berpindah tempat.
Misalnya saja, burung menyerbuki tanaman dan mengendalikan hama. Ikan dan mamalia laut membantu menjaga agar jaring makanan laut tetap berfungsi. Kawanan hewan di darat memindahkan nutrisi dan membentuk bentang alam.
Baca juga: Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
Secara keseluruhan, hewan-hewan ini mendukung mata pencaharian, budaya, dan ekosistem yang bergantung pada manusia.
Masalah terbesar hewan-hewan ini justru ada pada kebiasaan mereka sendiri, yaitu bermigrasi. Karena berpindah tempat, mereka sangat bergantung pada banyak lokasi yang menyambung seperti mata rantai, mulai dari rawa, muara sungai, pegunungan, hingga lautan luas.
Jika satu tempat saja rusak, seluruh rute perjalanan mereka bisa hancur. Itulah sebabnya melindungi mereka sangat sulit.
Satu negara bisa saja sudah menjaga alamnya dengan sangat baik, tapi tetap akan kehilangan hewan-hewan ini jika wilayah lain di rute perjalanan mereka sudah rusak atau berbahaya.
Pembaruan laporan sementara menyebutkan bahwa 49 persen populasi spesies migran yang dilindungi dalam perjanjian Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) kini terus berkurang. Angka ini lima persen lebih buruk dibandingkan data dasar dari dua tahun lalu.
Laporan itu juga menyatakan bahwa 24 persen spesies kini menghadapi ancaman kepunahan, alami kenaikan sebesar dua persen.
Salah satu contohnya adalah burung pantai. Laporan terbaru ini mencatat bahwa 26 spesies yang terdaftar dalam perjanjian telah naik ke kategori risiko kepunahan yang lebih tinggi, termasuk di antaranya 18 spesies burung pantai migran.
Laporan ini juga mengidentifikasi 9.372 Area Kunci Keanekaragaman Hayati (KBA) yang sangat penting bagi spesies migran dalam perjanjian tersebut.
Namun, 47 persen dari total wilayah KBA ini ternyata tidak termasuk dalam area yang dilindungi atau dilestarikan.
Hal tersebut menggambarkan bahwa kita semakin pintar dalam mengetahui ke mana hewan-hewan itu pergi, tetapi kita belum konsisten mengubah pengetahuan tersebut menjadi tindakan perlindungan nyata.
Sekretaris Eksekutif Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) Amy Fraenkel mengungkapkan ada dua pendorong terbesar dalam penurunan populasi hewan migran yakni eksploitasi berlebihan, serta hilangnya dan fragmentasi habitat.
Baca juga: Kontaminasi Bahan Kimia dari Plastik Bikin Perilaku Hewan Laut Berubah
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya