Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental

Kompas.com, 9 Maret 2026, 19:48 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Forbes, BBC

KOMPAS.com - Sering cek e-mail pekerjaan pada akhir pekan, alias di luar jam kerja? Terkadang tidak semua orang bisa menutup laptop dan menikmati waktu libur dengan tenang. Apalagi ada yang masih harus "membawa" pekerjaan ke rumah. 

"Semua berawal saat saya kurang berpengalaman, saya khawatir akan melewatkan informasi penting. Sekarang, itu (mengecek e-mail pekerjaan) sudah menjadi kebiasaan, seperti memeriksa timeline Facebook atau Twitter," ucap ahli teknis di penyedia layanan IT, Smile, Romain Gonord, dikutip dari BBC, Senin (9/3/2026).

Baca juga:

Sementara itu, profesor di Departemen Geografi di University of Georgia, Amerika Serikat (AS), Marshall Shepherd juga terheran dengan koleganya yang mengecek e-mail pekerjaan di luar jam kerja.

"Seorang kolega mencatat, jika dia tidak memeriksa e-mail akhir pekan, dia tidak dapat mengikuti perkembangan. Dari sudut pandang saya, itu adalah inersia budaya, bukan hasil yang diinginkan," tutur Shepherd, dikutip dari Forbes

Mengecek e-mail kantor di luar jam kerja dan overwork

Berdampak negatif untuk kesehatan fisik dan mental pekerja

Jangan sepelekan kebiasaan cek email kantor pada hari libur. Aktivitas ini picu kecemasan, dan menekankan budaya overwork.DOK. SHUTTERSTOCK Jangan sepelekan kebiasaan cek email kantor pada hari libur. Aktivitas ini picu kecemasan, dan menekankan budaya overwork.

Di balik "kebiasaan" mengecek e-mail di luar jam kerja, ada kenyataan tentang overworking (bekerja berlebihan) yang seolah menjadi hal yang diwajarkan. 

Dalam profesi akademisi, misalnya, terdapat konsekuensi "memuliakan" kelelahan dan perasaan selalu terbebani.

Budaya akademisi terwujud secara struktural melalui ketidakpastian, beban kerja yang tidak terkendali, ketidaksetaraan, dan perundungan, menurut dosen senior di The University of Manchester, Inggris, Jenna Mittelmeier. 

“Secara individu, kita tidak selalu dapat memperbaiki ketidaksetaraan struktural yang menjadikan dunia akademis sebagai tempat kerja yang menindas (walaupun kita harus mendorong perubahan di mana pun kita bisa). Tetapi kita dapat memilih untuk berhenti melanggengkan pengagungan kerja berlebihan dalam hal-hal kecil dalam peran kita sehari-hari,” jelas Mittelmeier.

Di balik ekspektasi budaya kerja itu, terdapat beberapa potensi dampak terhadap kesehatan fisik dan mental dan penurunan produktivitas. Apalagi kerja akademisi berbeda dengan pekerjaan dengan susunan shift

Baca juga:

Selain budaya overworking, saat ini e-mail mudah diakses lewat ponsel sehingga ada anggapan bahwa semua orang bisa dihubungi dengan cepat. 

"Semakin tinggi ekspektasi untuk memantau e-mail organisasi, semakin sulit orang untuk melepaskan diri, semakin banyak waktu yang mereka habiskan untuk e-mail terkait pekerjaan di luar jam kerja, dan semakin mereka merasa kelelahan emosional, kata associate professor di Lehigh University, AS, Liuba Belkin.

Menurut dia, terlepas dari durasi yang dihabiskan pekerja untuk mengecek e-mail pada akhir pekan, aktivitas tersebut tetap berdampak negatif.

Bisa memicu kecemasan

Jangan sepelekan kebiasaan cek email kantor pada hari libur. Aktivitas ini picu kecemasan, dan menekankan budaya overwork.UNSPLASH/TIM GOUW Jangan sepelekan kebiasaan cek email kantor pada hari libur. Aktivitas ini picu kecemasan, dan menekankan budaya overwork.

Menurut studi yang dilakukan Belkin dan rekan-rekannya, ekspektasi untuk mengecek e-mail saat akhir pekan atau di luar jam kerja bisa memicu kecemasan. Hal tersebut tidak hanya berdampak pada pekerja, tapi juga orang-orang di sekitar mereka. 

Makin banyak durasi yang dihabiskan untuk melakukan aktivitas tersebut, semakin tinggi tingkat kelelahan secara emosional para pekerja.

Rasa cemas juga bisa dipicu bahkan ketika para pekerja tidak mengecek e-mail mereka di luar jam kerja, tapi merasa diharapkan untuk melakukannya, menurut studi dari Virginia Tech University, AS.

"Jika kita tidak memuuts koneksi dari pekerjaan, kita tidak pulih dari pekerjaan," ucap profesor interaksi manusia-komputer di University College London, Inggris. 

"Awalnya hal itu mulai memengaruhi produktivitas Anda. Saat bekerja, Anda lelah. Pada akhirnya, jika Anda tidak pulih dari pekerjaan dengan benar, hal itu dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan fisik dan mental," tambah dia.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau