KOMPAS.com - Sering cek e-mail pekerjaan pada akhir pekan, alias di luar jam kerja? Terkadang tidak semua orang bisa menutup laptop dan menikmati waktu libur dengan tenang. Apalagi ada yang masih harus "membawa" pekerjaan ke rumah.
"Semua berawal saat saya kurang berpengalaman, saya khawatir akan melewatkan informasi penting. Sekarang, itu (mengecek e-mail pekerjaan) sudah menjadi kebiasaan, seperti memeriksa timeline Facebook atau Twitter," ucap ahli teknis di penyedia layanan IT, Smile, Romain Gonord, dikutip dari BBC, Senin (9/3/2026).
Baca juga:
Sementara itu, profesor di Departemen Geografi di University of Georgia, Amerika Serikat (AS), Marshall Shepherd juga terheran dengan koleganya yang mengecek e-mail pekerjaan di luar jam kerja.
"Seorang kolega mencatat, jika dia tidak memeriksa e-mail akhir pekan, dia tidak dapat mengikuti perkembangan. Dari sudut pandang saya, itu adalah inersia budaya, bukan hasil yang diinginkan," tutur Shepherd, dikutip dari Forbes.
Jangan sepelekan kebiasaan cek email kantor pada hari libur. Aktivitas ini picu kecemasan, dan menekankan budaya overwork.Di balik "kebiasaan" mengecek e-mail di luar jam kerja, ada kenyataan tentang overworking (bekerja berlebihan) yang seolah menjadi hal yang diwajarkan.
Dalam profesi akademisi, misalnya, terdapat konsekuensi "memuliakan" kelelahan dan perasaan selalu terbebani.
Budaya akademisi terwujud secara struktural melalui ketidakpastian, beban kerja yang tidak terkendali, ketidaksetaraan, dan perundungan, menurut dosen senior di The University of Manchester, Inggris, Jenna Mittelmeier.
“Secara individu, kita tidak selalu dapat memperbaiki ketidaksetaraan struktural yang menjadikan dunia akademis sebagai tempat kerja yang menindas (walaupun kita harus mendorong perubahan di mana pun kita bisa). Tetapi kita dapat memilih untuk berhenti melanggengkan pengagungan kerja berlebihan dalam hal-hal kecil dalam peran kita sehari-hari,” jelas Mittelmeier.
Di balik ekspektasi budaya kerja itu, terdapat beberapa potensi dampak terhadap kesehatan fisik dan mental dan penurunan produktivitas. Apalagi kerja akademisi berbeda dengan pekerjaan dengan susunan shift.
Baca juga:
Selain budaya overworking, saat ini e-mail mudah diakses lewat ponsel sehingga ada anggapan bahwa semua orang bisa dihubungi dengan cepat.
"Semakin tinggi ekspektasi untuk memantau e-mail organisasi, semakin sulit orang untuk melepaskan diri, semakin banyak waktu yang mereka habiskan untuk e-mail terkait pekerjaan di luar jam kerja, dan semakin mereka merasa kelelahan emosional, kata associate professor di Lehigh University, AS, Liuba Belkin.
Menurut dia, terlepas dari durasi yang dihabiskan pekerja untuk mengecek e-mail pada akhir pekan, aktivitas tersebut tetap berdampak negatif.
Jangan sepelekan kebiasaan cek email kantor pada hari libur. Aktivitas ini picu kecemasan, dan menekankan budaya overwork.Menurut studi yang dilakukan Belkin dan rekan-rekannya, ekspektasi untuk mengecek e-mail saat akhir pekan atau di luar jam kerja bisa memicu kecemasan. Hal tersebut tidak hanya berdampak pada pekerja, tapi juga orang-orang di sekitar mereka.
Makin banyak durasi yang dihabiskan untuk melakukan aktivitas tersebut, semakin tinggi tingkat kelelahan secara emosional para pekerja.
Rasa cemas juga bisa dipicu bahkan ketika para pekerja tidak mengecek e-mail mereka di luar jam kerja, tapi merasa diharapkan untuk melakukannya, menurut studi dari Virginia Tech University, AS.
"Jika kita tidak memuuts koneksi dari pekerjaan, kita tidak pulih dari pekerjaan," ucap profesor interaksi manusia-komputer di University College London, Inggris.
"Awalnya hal itu mulai memengaruhi produktivitas Anda. Saat bekerja, Anda lelah. Pada akhirnya, jika Anda tidak pulih dari pekerjaan dengan benar, hal itu dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan fisik dan mental," tambah dia.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya