KOMPAS.com - Sebagian besar negara terpantau semakin jauh dari target global PBB tahun 2030 untuk pengurangan risiko pestisida, menurut penelitian terbaru.
Hal tersebut membuat target pengurangan risiko pestisida PBB kemungkinan besar tidak akan tercapai tanpa adanya perubahan besar-besaran pada sistem pertanian di seluruh dunia.
Baca juga:
Sejumlah negara di dunia telah berkomitmen untuk memangkas hingga separuh ancaman terhadap keanekaragaman hayati yang berasal dari pestisida dan bahan kimia sangat berbahaya lainnya pada tahun 2030, dilansir dari Eco Business, Rabu (11/3/2026).
Komitmen ini disepakati dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-15 (COP15) pada tahun 2022.
Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa sebagian besar negara justru bergerak menjauh untuk memenuhi target terkait risiko ekologis dari pestisida itu.
Target pengurangan risiko global dari PBB tersebut pun kemungkinan besar tidak akan tercapai tanpa adanya perubahan besar-besaran pada sistem pertanian dunia.
Hanya satu negara, Chili, yang saat ini berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target PBB untuk mengurangi risiko pestisida sebesar 50 persen pada tahun 2030, menurut temuan terbaru oleh tim ilmuwan lingkungan dari universitas Jerman RPTU Kaiserslautern-Landau, yang diterbitkan dalam jurnal Science.
Sebagian besar negara terpantau semakin jauh dari target global PBB tahun 2030 untuk pengurangan risiko pestisida, menurut penelitian terbaru.Risiko pestisida dalam konteks ini didefinisikan sebagai kemungkinan senyawa kimia termasuk insektisida, herbisida, dan fungisida yang digunakan untuk membasmi hama pertanian, menimbulkan dampak buruk bagi spesies yang bukan merupakan target utama pestisida tersebut.
Dampak ini kemudian merambat ke ekosistem secara lebih luas, dan pada akhirnya berdampak pada manusia.
Untuk menentukan risiko pestisida secara global, para peneliti dalam studi ini mengamati data penggunaan pestisida dari tahun 2013 hingga 2019 di 65 negara yang secara kolektif mewakili hampir 80 persen luas lahan pertanian dunia.
Mereka kemudian menggabungkan statistik tersebut dengan data tingkat racun dari 625 jenis pestisida terhadap delapan kelompok spesies yang berbeda, termasuk invertebrata dan tanaman air, ikan, serangga penyerbuk, organisme tanah, serta artropoda, tanaman, dan vertebrata darat.
Pendekatan analitis baru ini disebut toksisitas total terapan (TAT), dikembangkan oleh para peneliti RPTU dan pertama kali digunakan tahun 2021.
TAT menghasilkan indikator sederhana yang dapat digunakan untuk menentukan sejauh mana negara-negara di dunia berhasil mengurangi risiko pestisida mereka.
“TAT pada dasarnya merupakan ekspresi dari jumlah pestisida yang digunakan dalam hal toksisitasnya dan bukan massanya, sehingga kita memiliki perkiraan penggunaan yang berbobot toksisitas,” jelas Ralf Schulz, seorang ahli ekotoksikologi dan profesor ilmu lingkungan di RPTU Kaiserslautern-Landau.
Peneliti kemudian menemukan bahwa toksisitas ekologis pestisida secara keseluruhan meningkat di seluruh dunia, dan hanya empat negara produsen pertanian utama yakni Brasil, Cina, India, dan Amerika Serikat yang menyumbang lebih dari setengah dari TAT global.
Mereka juga menemukan bahwa penggunaan pestisida pada buah-buahan, sayuran, jagung, kedelai, serealia, dan padi menyumbang lebih dari tiga perempat total toksisitas pestisida global.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya