Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?

Kompas.com, 12 Maret 2026, 09:07 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Studi terbaru mengidentifikasi 28 kebijakan iklim negara yang mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) di berbagai konteks secara konsisten. Temuan itu diperoleh setelah menganalisis 1.737 kebijakan iklim individual 40 negara selama 32 tahun.

Jumlah aksi iklim telah meningkat empat kali lipat sejak tahun 2000, dengan beberapa kumpulan data menunjukkan peningkatan 15 kali lipat. Selama 20 tahun terakhir, negara-negara di seluruh dunia memang telah secara dramatis meningkatkan kebijakan iklim mereka.

Baca juga:

Saat ini, pemerintah negara-negara menerapkan puluhan kebijakan berbeda secara bersamaan, di antaranya pajak karbon, subsidi energi terbarukan, peraturan bangunan, standar emisi, dan pendanaan penelitian.

Semua negara-negara itu saling memengaruhi dan secara bersama-sama berdampak pada penurunan emisi GRK, dilansir dari Phys.org, Rabu (11/3/2026).

Namun, kebijakan iklim mana yang pantas mendapatkan pujian atas penurunan emisi GRK, dengan dampak paling signifikan?

28 kebijakan iklim dinilai efektif kurangi emisi, seperti apa?

Dari pajak karbon hingga energi baru terbarukan

Studi terbaru mengidentifikasi 28 kebijakan iklim yang mengurangi emisi gas rumah kaca di berbagai konteks secara konsisten. Mana yang lebih efektif?Dok. SHUTTERSTOCK Studi terbaru mengidentifikasi 28 kebijakan iklim yang mengurangi emisi gas rumah kaca di berbagai konteks secara konsisten. Mana yang lebih efektif?

Para peneliti mengidentifikasi 28 kebijakan iklim dengan kepastian tinggi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK).

Ada delapan kebijakan iklim terkait penetapan harga dan pajak karbon. Dampak pajak karbon di berbagai sektor, skema perdagangan emisi, biaya kemacetan, dan pajak cukai bahan bakar fosil sangat kuat, bahkan saat dikendalikan oleh kebijakan-kebijakan lainnya. 

Hal itu membantah klaim bahwa penetapan harga karbon hanya tampak efektif karena biasanya disertai dengan langkah-langkah pelengkap.

Sementara itu, ada lima kebijakan iklim terkait efisiensi dan standar energi. Kode energi bangunan, standar emisi udara, standar kinerja energi minimum, dan batas kecepatan jalan raya secara konsisten mengurangi emisi GRK.

Kemudian, ada 11 kebijakan iklim terkait energi baru terbarukan (EBT) dan penelitian. Perencanaan untuk perluasan EBT dan skema lelang yang semuanya secara andal mendorong pengurangan emisi GRK. Lalu, pengeluaran Research and Development (R&D) untuk penangkapan karbon, nuklir, hidrogen, efisiensi energi, dan EBT.

Ada juga tiga kebijakan iklim terkait pelaporan dan akuntabilitas. Persyaratan pelaporan emisi GRK di berbagai sektor menunjukkan dampak yang signifikan.

Terakhir, ada satu kebijakan iklim terkait pengurangan subsidi bahan bakar fosil di sektor transportasi mengurangi emisi GRK.

Baca juga:

Strategi pengurangan emisi

Studi terbaru mengidentifikasi 28 kebijakan iklim yang mengurangi emisi gas rumah kaca di berbagai konteks secara konsisten. Mana yang lebih efektif?freepik Studi terbaru mengidentifikasi 28 kebijakan iklim yang mengurangi emisi gas rumah kaca di berbagai konteks secara konsisten. Mana yang lebih efektif?

Untuk mengilustrasikan dampak di dunia nyata, pada peneliti memodelkan emisi GRK di Portugal di empat sektor yaitu, bangunan, energi, industri, dan transportasi.

Jika Portugal telah menerapkan semua 28 kebijakan efektif dengan tingkat keketatan maksimum sejak tahun 2000, penghematan emisi kumulatif akan mencapai total 538 Mt karbon dioksida (CO2) ekuivalen. 

Angka tersebut setara dengan satu tahun bebas emisi di seluruh sektor tersebut untuk Korea Selatan, yang ekonominya sekitar enam kali lebih besar daripada Portugal.

Analisis secara spesifik negara tertentu sangat penting karena menunjukkan peluang yang jelas dan terarah. Misalnya, Jerman dapat meningkatkan aksi iklim melalui pembatasan kecepatan jalan raya yang lebih ketat.

Australia, Kanada, dan Jepang bisa secara signifikan meningkatkan kinerja melalui pajak cukai bahan bakar fosil yang lebih tinggi.

Analisis dari studi ini memungkinkan para pembuat kebijakan untuk mengidentifikasi titik buta dalam strategi iklim yang ambisius.

Studi ini menunjukkan bahwa aksi iklim yang efektif tidak bergantung pada penemuan satu solusi sempurna. Ada banyak jalur yang tersedia, dengan beberapa instrumen terbukti lebih andal daripada yang lain.

Penetapan harga karbon, perpajakan, dan investasi dalam penelitian energi terbarukan menjadi instrumen terbaik yang akan meningkatkan performa negara mana pun dalam mengurangi emisi GRK.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau