KOMPAS.com - Studi terbaru mengidentifikasi 28 kebijakan iklim negara yang mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) di berbagai konteks secara konsisten. Temuan itu diperoleh setelah menganalisis 1.737 kebijakan iklim individual 40 negara selama 32 tahun.
Jumlah aksi iklim telah meningkat empat kali lipat sejak tahun 2000, dengan beberapa kumpulan data menunjukkan peningkatan 15 kali lipat. Selama 20 tahun terakhir, negara-negara di seluruh dunia memang telah secara dramatis meningkatkan kebijakan iklim mereka.
Baca juga:
Saat ini, pemerintah negara-negara menerapkan puluhan kebijakan berbeda secara bersamaan, di antaranya pajak karbon, subsidi energi terbarukan, peraturan bangunan, standar emisi, dan pendanaan penelitian.
Semua negara-negara itu saling memengaruhi dan secara bersama-sama berdampak pada penurunan emisi GRK, dilansir dari Phys.org, Rabu (11/3/2026).
Namun, kebijakan iklim mana yang pantas mendapatkan pujian atas penurunan emisi GRK, dengan dampak paling signifikan?
Studi terbaru mengidentifikasi 28 kebijakan iklim yang mengurangi emisi gas rumah kaca di berbagai konteks secara konsisten. Mana yang lebih efektif?Para peneliti mengidentifikasi 28 kebijakan iklim dengan kepastian tinggi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK).
Ada delapan kebijakan iklim terkait penetapan harga dan pajak karbon. Dampak pajak karbon di berbagai sektor, skema perdagangan emisi, biaya kemacetan, dan pajak cukai bahan bakar fosil sangat kuat, bahkan saat dikendalikan oleh kebijakan-kebijakan lainnya.
Hal itu membantah klaim bahwa penetapan harga karbon hanya tampak efektif karena biasanya disertai dengan langkah-langkah pelengkap.
Sementara itu, ada lima kebijakan iklim terkait efisiensi dan standar energi. Kode energi bangunan, standar emisi udara, standar kinerja energi minimum, dan batas kecepatan jalan raya secara konsisten mengurangi emisi GRK.
Kemudian, ada 11 kebijakan iklim terkait energi baru terbarukan (EBT) dan penelitian. Perencanaan untuk perluasan EBT dan skema lelang yang semuanya secara andal mendorong pengurangan emisi GRK. Lalu, pengeluaran Research and Development (R&D) untuk penangkapan karbon, nuklir, hidrogen, efisiensi energi, dan EBT.
Ada juga tiga kebijakan iklim terkait pelaporan dan akuntabilitas. Persyaratan pelaporan emisi GRK di berbagai sektor menunjukkan dampak yang signifikan.
Terakhir, ada satu kebijakan iklim terkait pengurangan subsidi bahan bakar fosil di sektor transportasi mengurangi emisi GRK.
Baca juga:
Studi terbaru mengidentifikasi 28 kebijakan iklim yang mengurangi emisi gas rumah kaca di berbagai konteks secara konsisten. Mana yang lebih efektif?Untuk mengilustrasikan dampak di dunia nyata, pada peneliti memodelkan emisi GRK di Portugal di empat sektor yaitu, bangunan, energi, industri, dan transportasi.
Jika Portugal telah menerapkan semua 28 kebijakan efektif dengan tingkat keketatan maksimum sejak tahun 2000, penghematan emisi kumulatif akan mencapai total 538 Mt karbon dioksida (CO2) ekuivalen.
Angka tersebut setara dengan satu tahun bebas emisi di seluruh sektor tersebut untuk Korea Selatan, yang ekonominya sekitar enam kali lebih besar daripada Portugal.
Analisis secara spesifik negara tertentu sangat penting karena menunjukkan peluang yang jelas dan terarah. Misalnya, Jerman dapat meningkatkan aksi iklim melalui pembatasan kecepatan jalan raya yang lebih ketat.
Australia, Kanada, dan Jepang bisa secara signifikan meningkatkan kinerja melalui pajak cukai bahan bakar fosil yang lebih tinggi.
Analisis dari studi ini memungkinkan para pembuat kebijakan untuk mengidentifikasi titik buta dalam strategi iklim yang ambisius.
Studi ini menunjukkan bahwa aksi iklim yang efektif tidak bergantung pada penemuan satu solusi sempurna. Ada banyak jalur yang tersedia, dengan beberapa instrumen terbukti lebih andal daripada yang lain.
Penetapan harga karbon, perpajakan, dan investasi dalam penelitian energi terbarukan menjadi instrumen terbaik yang akan meningkatkan performa negara mana pun dalam mengurangi emisi GRK.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya