Danantara sebelumnya mengumumkan tender perusahaan pengelola WtE. Sebanyak 24 perusahaan internasional tercatat sebagai peserta dan diwajibkan membentuk konsorsium.
Dalam prosesnya, terpilih dua perusahaan raksasa asal China, antara lain Wangneng Environment Co Ltd sebagai operator untuk pembangkit di Bekasi dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd, operator untuk pembangkit di Denpasar.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir menyatakan, mitra operator diwajibkan membentuk konsorsium guna mendorong transfer teknologi, termasuk badan usaha milik pemerintah daerah dan perusahaan lokal Indonesia.
“Mitra operator terpilih diharapkan mampu menjaga kinerja operasional yang konsisten, memastikan kepatuhan terhadap seluruh ketentuan yang berlaku, serta mendorong keterlibatan yang berkelanjutan dengan masyarakat.” jelas Pandu.
Danantara memastikan, teknologi yang digunakan lebih canggih dibandingkan 80 persen teknologi serupa yang diterapkan China.
"Kami tidak menerapkan teknologi yang lama tetapi teknologi yang baru, yang setiap posisi memiliki karakteristik yang berbeda-beda tetapi standarnya jauh lebih tinggi daripada yang kami sudah set di proposal (WtE)," kata Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman, Rabu (22/1/2026).
Ia menambahkan, sistem insinerasi yang diterapkan pada fasilitas WtE tidak bisa disamakan dengan pembakaran sampah konvensional. Pembakarannya disebut sempurna, dengan suhu hingga 1.000 derajat celsius.
Sementara itu, pembakaran sampah atau insinerator biasa suhunya lebih rendah dan menimbulkan gas beracun.
"Teknologi yang kami pakai itu adalah teknologi dengan pembakarannya yang sempurna ditambah dengan beberapa filtering untuk memastikan gas-gas atau senyawa gas residu yang beracun ditangkap," ucap Fadli.
Asap yang keluar diklaim jauh lebih bersih dengan standar lebih ketat dibandingkan standar Eropa.
Baca juga:
Menteri LH, Hanif Faisol (kanan) meninjau TPST Bantargebang yang longsor, Minggu (8/3/2026). Proyek Waste to Energy (WtE atau PSEL) menjadi langkah besar pemerintah untuk mengurangi beban sampah di perkotaan. Simak beberapa faktanya.Pemerintah turut berencana membangun fasilitas WtE di tiga lokasi di Jakarta yakni di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat; serta Tanjungan dan Sunter, Jakarta Utara.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung tak berkomentar banyak terkait wacana tersebut. Hanya saja, dia memastikan telah menyiapkan lahan.
"Jakarta siap di tiga tempat. Sudah ada pembebasan lahan baru," ucap Pramono.
Pembangunan di Bantargebang bertujuan mengurangi sampah yang setiap harinya rata-rata hampir 8.000 ton masuk ke lokasi.
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) mini beroperasi di Bantargebang sejak 2020 dengan kapasitas pengelolaan mencapai 100 ton sampah per hari. PLTSa berdiri di atas lahan seluas empat hektar.
Setiap harinya, PLTSa ini menghasilkan 700 kilowatt hour (kWh) listrik.
Selain itu, TPST Bantargebang memiliki fasilitas landfill mining (tambang sampah) dan pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif (refused derived fuel/RDF) plant untuk menanggulangi tumpukan sampah.
Dengan adanya fasilitas ini, sebanyak 2.000 ton sampah dapat diolah menjadi 700 ton RDF per hari.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya