KOMPAS.com - Pemerintah berencana membangun 34 fasilitas proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk mengatasi permasalahan sampah perkotaan. WtE adalah penggunaan teknologi tertentu untuk mengubah sampah menjadi energi listrik bersih.
Beberapa negara maju, seperti Swedia, Denmark, Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan China, diketahui telah mengadopsi teknologi ini untuk mengatasi limbah masyarakat.
Simak beberapa fakta WtE di Indonesia yang wajib diketahui.
Baca juga:
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menjelaskan soal proyek PSEL, Kamis (12/3/2026), di Jakarta. Proyek Waste to Energy (WtE atau PSEL) menjadi langkah besar pemerintah untuk mengurangi beban sampah di perkotaan. Simak beberapa faktanya.Menurut Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), pembangunan tahap awal atau groundbreaking WtE akan dilakukan pada Juni 2026 di beberapa lokasi, seperti Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta.
Pada tahap kedua, rencananya WtE bakal dibangun di 14 lokasi lain termasuk Jakarta, Lampung, Medan, Semarang, Surabaya, Serang, dan Tangerang Raya.
"Janji kami, akhir 2027 Waste to Energy sudah ada yang jalan, yang jadi ya. Awal 2028 empat ini juga sudah jadi, menyusul yang 14 (lokasi) kami harapkan pertengahan 2028 sampai akhir 2028 juga sudah jadi," kata Zulhas dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026).
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menyiapkan lahan seluas enam hektar untuk bangunan WtE.
Sementara itu, Pemerintah Kota Bogor dan Pemerintah Kabupaten Bogor menyiapkan lahan lima hektar untuk mengelola 1.500 ton sampah per hari melalui proyek WtE.
Ada pula lahan seluas 5,7 hektar di Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, serta lahan lima hektar di Kota Bekasi yang siap digunakan untuk WtE.
Zulhas menilai, persoalan sampah di kota besar saat ini menjadi perhatian pemerintah pusat sehingga pembangunan PSEL ditargetkan selesai dalam dua tahun ke depan.
"Kita sudah masuk kategori darurat sampah. Oleh karena itu ada beberapa cara yang kami akan selesaikan sebagaimana sudah diketahui, ada Waste to Energy, ada lagi nanti yang (pengelolaan sampah) di bawah 1.000 (ton), dan seterusnya," jelas Zulhas.
Baca juga: Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Kemenko Bidang Pangan, dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta universitas untuk membuat alat pengolahan sampah proyek WtE.
Di sisi lain, dia menekankan bahwa fasilitas tersebut hanya menyelesaikan 20 persen sampah di dalam negeri.
"Memang PSEL efektif untuk memusnahkan sampah di kota-kota besar, tetapi ini baru menyelesaikan 20 persen. Diperlukan solusi teknologi untuk kabupaten/kota sampai kecamatan dengan timbunan sampah yang lebih kecil," ucap Zulhas.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahwa hampir seluruh tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia diproyeksikan mengalami kelebihan kapasitas atau overcapacity beberapa pada 2028 atau bahkan lebih cepat.
Maka dari itu, pemerintah membangun fasilitas WtE dengan total investasi hingga 3,5 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 58.918 triliun).
"Untuk itu tahun ini kita akan buka 34 proyek pembangunan Waste to Energy di 34 kota ini. Saya minta ground breaking beberapa bulan ini dilaksanakan, ini (WtE) kami perkirakan dua tahun lagi sudah berfungsi," ucap Prabowo, Senin (2/2/2026).
Baca juga: Zulhas Sebut Proyek WtE Hanya Selesaikan 20 Persen Sampah di Indonesia
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya