KOMPAS.com - Sebuah studi meneliti emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan selama pemeliharaan larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens atau black soldier fly).
Diterbitkan di jurnal Bioresource Technology, studi dari Lembaga Penelitian Biologi Hewan Ternak (FBN) ini mengukur emisi GRK karbon dioksida (CO2) dan amonia secara terus-menerus selama fase sensitif perkembangan larva atau maggot. Tepatnya antara hari kesembilan dan ke-16 usai penetasan.
Baca juga:
Temuan dari studi tersebut menunjukkan bahwa profil emisi gas sangat bergantung pada kualitas dan ketersediaan nutrisi biomassa yang diberikan.
Jika daya cerna dan degradasi substrat pakan lebih rendah, semakin kecil pula pertumbuhan dan akumulasi protein maggot, serta emisi CO2 justru bertambah tinggi.
Ilustrasi maggot lalat tentara hitam. Emisi CO2 yang terkait dengan produksi protein pada maggot berada di bawah nilai yang dijelaskan dalam literatur untuk sapi dan ayam.Seperti yang diharapkan, maggot tumbuh jauh lebih baik ketika diberi makan biomassa yang lebih kaya nutrisi.
Pada saat yang sama, peningkatan emisi amonia dapat terjadi dalam kondisi menjelang akhir fase pertumbuhan.
Kondisi itu kemungkinan terkait dengan rasio protein-energi yang tidak seimbang dalam substrat pakan menjelang akhir fase pertumbuhan. Namun, faktor penentunya erat kaitannya dengan bagaimana emisi ini dievaluasi.
"Emisi hanya dapat diklasifikasikan secara bermakna jika dikaitkan dengan hasil aktual — misalnya, hasil protein atau bahan kering larva. Emisi absolut yang lebih tinggi tidak selalu berarti jejak karbon yang lebih buruk jika emisi per unit protein berkualitas tinggi yang dihasilkan lebih rendah," ujar Manfred Mielenz dari kelompok kerja Fisiologi Nutrisi di FBN, dilansir dari Phys.org, Senin (16/3/2026).
Penilaian akhir emisi membutuhkan pertimbangan seluruh siklus hidup maggot. Selain pemeliharaan maggot, penghitungan emisi juga mencakup produksi substrat pakan dan penanganan bahan sisa di akhir fase pertumbuhan.
Studi tersebut tidak sekadar mengungkap data emisi kuantitatif yang penting. Studi tersebut juga menunjukkan bagaimana kandungan nutrisi substrat pakan dapat dioptimalkan secara spesifik untuk mengurangi emisi dan lebih meningkatkan efisiensi produksi serangga.
Dalam analisis perbandingan awal, emisi CO2 yang terkait dengan produksi protein pada maggot berada di bawah nilai yang dijelaskan dalam literatur untuk sapi dan ayam.
Di sisi lain, para peneliti menggarisbawahi perkiraan awal dan perlunya penelitian lebih lanjut.
Dengan latar belakang target iklim nasional, strategi bioekonomi Jerman, dan pendekatan "dari pertanian ke meja makan" Eropa, studi tersebut menekankan bahwa sistem produksi baru membutuhkan angka-angka kunci yang kuat dan bisa dibandingkan.
Temuan dari studi tersebut menyajikan panduan ilmiah awal dalam hal ini. Akan tetapi, tidak menggantikan analisis siklus hidup yang komprehensif, melainkan mengintegrasikan serangga ke dalam sistem produksi yang ada.
Hal ini agar dapat membantu menjadikan produksi protein hewani berkualitas tinggi lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya