KOMPAS.com - Penelitian baru dari University of Texas di Austin, AS menunjukkan investor rela membayar lebih mahal untuk membeli obligasi hijau.
Hal ini menurut peneliti, menjadi peluang bagi pemerintah untuk mengumpulkan lebih banyak pendanaan dari investor untuk proyek keberlanjutan. Studi tersebut dipublikasikan dalam Journal of Financial Economics.
Melansir Phys, Rabu (18/3/2026) pemerintah Jerman menyebut di pasar obligasi, para investor diam-diam rela membayar lebih mahal untuk obligasi hijau dengan cara menerima imbal hasil yang lebih rendah.
Temuan ini diungkapkan oleh Aaron Pancost, asisten profesor keuangan University of Texas, yang menyebut selisih harga tersebut sebagai "greenium."
Namun pertanyaannya adalah seberapa besar greenium tersebut.
Baca juga: Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
"Seberapa besar investor bersedia membayar untuk investasi yang ramah lingkungan?" katanya.
Bersama Stefania D'Amico dari Federal Reserve Bank of New York dan Johannes Klausmann dari University of Houston, Pancost meneliti obligasi pemerintah Jerman dari tahun 2009 hingga 2023.
Jerman menjadi studi kasus yang bagus, karena setiap obligasi hijau di sana memiliki "saudara kembar" yang hampir identik: yaitu obligasi biasa dengan penerbit, jangka waktu, dan bunga yang sama persis.
Dengan begitu, setiap perbedaan harga di antara keduanya murni menunjukkan seberapa besar uang ekstra yang rela dikeluarkan orang-orang demi label hijau tersebut.
Data tentang obligasi juga sangat transparan. Ada seluruh proses untuk mengauditnya sebelum dan sesudah untuk menunjukkan apa yang mereka investasikan dan bagaimana investasi tersebut menghasilkan.
Namun, mengukur greenium tidak sesederhana membandingkan suku bunga obligasi hijau dengan obligasi reguler yang sejenis, demikian temuan para peneliti.
Selisihnya tidak hanya mencerminkan preferensi lingkungan. Selisih tersebut dapat melebar dan menyempit karena alasan lain. Misalnya, investor terkadang bergegas membeli obligasi Jerman reguler untuk mengamankan dana yang aman atau untuk digunakan sebagai jaminan pinjaman.
Jadi, para peneliti juga menggunakan cara ukur kedua. Mereka membandingkan pola harga semua obligasi pemerintah Jerman: satu untuk obligasi biasa dan satu lagi untuk obligasi hijau.
Selisih antara keduanya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang nilai greenium.
Hasilnya, rata-rata selisihnya adalah empat poin basis, atau sekitar 4 persen dari total keuntungan (yield) pada obligasi berjangka 10 tahun.
Nilai ini tidak tetap, melainkan melonjak setelah terjadinya peristiwa iklim besar seperti banjir parah di Jerman dan selama masa krisis energi.
Setelah invasi Rusia ke Ukraina, selisihnya bahkan mencapai puncaknya di angka tujuh poin basis.
Baca juga: Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Pada tahun 2023, greenium ini lebih tinggi untuk obligasi jangka pendek dibandingkan jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa para investor memperkirakan nilai tersebut akan menurun di masa depan.
Pancost merasa terkejut karena selisih antara obligasi biasa dan obligasi hijau ternyata sangat tipis.
"Harga kedua surat berharga tersebut sangat mirip, meskipun salah satunya sedikit lebih mahal. Dalam skala besar, perbedaannya tergolong sangat kecil," katanya.
Lebih lanjut, secara praktis, dengan rela menerima keuntungan yang sedikit lebih rendah pada obligasi hijau, para investor sebenarnya sedang membantu mendanai transisi menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan.
"Para investor rela melepas sebagian keuntungan demi berinvestasi pada sesuatu yang ramah lingkungan," kata Pancost.
"Jika orang-orang memang ingin berinvestasi di sektor hijau, kita sebaiknya membiarkan mereka melakukannya," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya