Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Investor Rela Bayar Lebih Mahal untuk Obligasi Hijau

Kompas.com, 21 Maret 2026, 10:04 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru dari University of Texas di Austin, AS menunjukkan investor rela membayar lebih mahal untuk membeli obligasi hijau.

Hal ini menurut peneliti, menjadi peluang bagi pemerintah untuk mengumpulkan lebih banyak pendanaan dari investor untuk proyek keberlanjutan. Studi tersebut dipublikasikan dalam Journal of Financial Economics.

Melansir Phys, Rabu (18/3/2026) pemerintah Jerman menyebut di pasar obligasi, para investor diam-diam rela membayar lebih mahal untuk obligasi hijau dengan cara menerima imbal hasil yang lebih rendah.

Temuan ini diungkapkan oleh Aaron Pancost, asisten profesor keuangan University of Texas, yang menyebut selisih harga tersebut sebagai "greenium."

Namun pertanyaannya adalah seberapa besar greenium tersebut.

Baca juga: Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor

"Seberapa besar investor bersedia membayar untuk investasi yang ramah lingkungan?" katanya.

Bersama Stefania D'Amico dari Federal Reserve Bank of New York dan Johannes Klausmann dari University of Houston, Pancost meneliti obligasi pemerintah Jerman dari tahun 2009 hingga 2023.

Jerman menjadi studi kasus yang bagus, karena setiap obligasi hijau di sana memiliki "saudara kembar" yang hampir identik: yaitu obligasi biasa dengan penerbit, jangka waktu, dan bunga yang sama persis.

Dengan begitu, setiap perbedaan harga di antara keduanya murni menunjukkan seberapa besar uang ekstra yang rela dikeluarkan orang-orang demi label hijau tersebut.

Data tentang obligasi juga sangat transparan. Ada seluruh proses untuk mengauditnya sebelum dan sesudah untuk menunjukkan apa yang mereka investasikan dan bagaimana investasi tersebut menghasilkan.

Mengukur Minat Obligasi Hijau

Namun, mengukur greenium tidak sesederhana membandingkan suku bunga obligasi hijau dengan obligasi reguler yang sejenis, demikian temuan para peneliti.

Selisihnya tidak hanya mencerminkan preferensi lingkungan. Selisih tersebut dapat melebar dan menyempit karena alasan lain. Misalnya, investor terkadang bergegas membeli obligasi Jerman reguler untuk mengamankan dana yang aman atau untuk digunakan sebagai jaminan pinjaman.

Jadi, para peneliti juga menggunakan cara ukur kedua. Mereka membandingkan pola harga semua obligasi pemerintah Jerman: satu untuk obligasi biasa dan satu lagi untuk obligasi hijau.

Selisih antara keduanya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang nilai greenium.

Hasilnya, rata-rata selisihnya adalah empat poin basis, atau sekitar 4 persen dari total keuntungan (yield) pada obligasi berjangka 10 tahun.

Nilai ini tidak tetap, melainkan melonjak setelah terjadinya peristiwa iklim besar seperti banjir parah di Jerman dan selama masa krisis energi.

Setelah invasi Rusia ke Ukraina, selisihnya bahkan mencapai puncaknya di angka tujuh poin basis.

Baca juga: Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya

Pada tahun 2023, greenium ini lebih tinggi untuk obligasi jangka pendek dibandingkan jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa para investor memperkirakan nilai tersebut akan menurun di masa depan.

Pancost merasa terkejut karena selisih antara obligasi biasa dan obligasi hijau ternyata sangat tipis.

"Harga kedua surat berharga tersebut sangat mirip, meskipun salah satunya sedikit lebih mahal. Dalam skala besar, perbedaannya tergolong sangat kecil," katanya.

Lebih lanjut, secara praktis, dengan rela menerima keuntungan yang sedikit lebih rendah pada obligasi hijau, para investor sebenarnya sedang membantu mendanai transisi menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan.

"Para investor rela melepas sebagian keuntungan demi berinvestasi pada sesuatu yang ramah lingkungan," kata Pancost.

"Jika orang-orang memang ingin berinvestasi di sektor hijau, kita sebaiknya membiarkan mereka melakukannya," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau