KOMPAS.com - Lapangan tenis dari tanah liat hijau (green clay) ternyata bisa menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar.
Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Applied Geochemistry, rahasianya ada pada bahan batuan yang digunakan. Lapangan ini memakai jenis batu bernama metabasalt yang bisa menangkap polusi karbon dari udara saat terkena air hujan.
Baca juga:
Teknologi ini dianggap sebagai cara baru untuk membantu mengurangi pemanasan global melalui fasilitas olahraga.
"Untuk mengatasi perubahan iklim, kita perlu mengembangkan teknologi baru sekaligus memanfaatkan sarana yang sudah ada," kata ilmuwan bumi dan asisten profesor tamu di NYU Gallatin di Amerika Serikat, Jonathan Lambert, dilansir dari Phys.org, Selasa (24/3/2026).
Penerapan teknologi ini makin luas dan kreatif, seperti di garis pantai, lapangan golf, dan sekarang lewat penelitian kami di lapangan tenis.
Dalam studinya, peneliti menggunakan data seluruh lapangan tenis di Amerika Serikat. Mereka mencatat lokasi dan jenis lapangannya apakah lapangan semen, tanah liat, atau rumput, untuk menghitung seberapa banyak karbon yang bisa diserap.
Totalnya, mereka menganalisis data dari 17.178 lapangan tanah liat hijau.
Mereka menghitung jumlah karbon yang terserap setelah mempertimbangkan emisi dari proses penambangan, pengiriman material ke lokasi, pembangunan, dan perawatan lapangan.
Penyerapan karbon dihitung berdasarkan jenis batu basal yang dipakai, ukuran butiran batunya, suhu lapangan, dan kandungan kimianya. Mereka juga menggunakan cara hitung yang sama untuk memperkirakan emisi pada lapangan semen (hard court).
Para peneliti menemukan, secara keseluruhan, lapangan-lapangan tanah liat hijau menyerap sekitar 25.000 metrik ton karbon dioksida setiap tahunnya.
Baca juga:
Lapangan tenis dari tanah liat hijau (green clay) ternyata bisa menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar.Dari jumlah tersebut, 80 persen lapangan mencapai net zero kurang dari 10 tahun setelah dibangun, dan 92 persen mencapainya dalam waktu kurang dari 20 tahun.
Tidak hanya itu, rata-rata lapangan tanah liat hijau ini sudah mulai aktif membersihkan udara (atau menjadi net negative) hanya dalam waktu sekitar 3,5 tahun.
Emisi dari pembangunan lapangan tanah liat juga 1,6 hingga tiga kali lipat lebih rendah, belum dihitung dengan kemampuannya menyerap polusi dari udara.
Sementara itu, lapangan semen yang terbuat dari beton tidak bisa menyerap karbon.
"Kami melihat penelitian ini sebagai titik awal untuk memperkenalkan solusi iklim yang menarik dan mudah dipahami masyarakat luas. Kami juga percaya bahwa strategi ini punya potensi nyata untuk diterapkan dalam skala yang lebih besar," ujar Lambert.
Membuat lapangan tanah liat hijau terbukti punya dampak lingkungan. Dengan sedikit mengubah campuran batuan hancur pada lapangan tersebut dan mencatat perawatannya secara lebih teliti, jumlah karbon yang diserap bisa meningkat pesat.
Hal ini jadi peluang besar bagi organisasi atau fasilitas olahraga yang ingin mengurangi jejak polusi mereka.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya