Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Teknologi Lapangan Tenis Ramah Lingkungan, Bisa Jadi Penyerap Karbon

Kompas.com, 24 Maret 2026, 18:06 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Lapangan tenis dari tanah liat hijau (green clay) ternyata bisa menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Applied Geochemistry, rahasianya ada pada bahan batuan yang digunakan. Lapangan ini memakai jenis batu bernama metabasalt yang bisa menangkap polusi karbon dari udara saat terkena air hujan.

Baca juga: 

Teknologi ini dianggap sebagai cara baru untuk membantu mengurangi pemanasan global melalui fasilitas olahraga.

"Untuk mengatasi perubahan iklim, kita perlu mengembangkan teknologi baru sekaligus memanfaatkan sarana yang sudah ada," kata ilmuwan bumi dan asisten profesor tamu di NYU Gallatin di Amerika Serikat, Jonathan Lambert, dilansir dari Phys.org, Selasa (24/3/2026).

Lapangan tenis ramah lingkungan

Bisa serap sekitar 25.000 metrik ton karbon dioksida tiap tahun

Penerapan teknologi ini makin luas dan kreatif, seperti di garis pantai, lapangan golf, dan sekarang lewat penelitian kami di lapangan tenis.

Dalam studinya, peneliti menggunakan data seluruh lapangan tenis di Amerika Serikat. Mereka mencatat lokasi dan jenis lapangannya apakah lapangan semen, tanah liat, atau rumput, untuk menghitung seberapa banyak karbon yang bisa diserap.

Totalnya, mereka menganalisis data dari 17.178 lapangan tanah liat hijau.

Mereka menghitung jumlah karbon yang terserap setelah mempertimbangkan emisi dari proses penambangan, pengiriman material ke lokasi, pembangunan, dan perawatan lapangan.

Penyerapan karbon dihitung berdasarkan jenis batu basal yang dipakai, ukuran butiran batunya, suhu lapangan, dan kandungan kimianya. Mereka juga menggunakan cara hitung yang sama untuk memperkirakan emisi pada lapangan semen (hard court).

Para peneliti menemukan, secara keseluruhan, lapangan-lapangan tanah liat hijau menyerap sekitar 25.000 metrik ton karbon dioksida setiap tahunnya.

Baca juga:

Lapangan tenis dari tanah liat hijau (green clay) ternyata bisa menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar.Dok. Freepik/senivpetro Lapangan tenis dari tanah liat hijau (green clay) ternyata bisa menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar.

Dari jumlah tersebut, 80 persen lapangan mencapai net zero kurang dari 10 tahun setelah dibangun, dan 92 persen mencapainya dalam waktu kurang dari 20 tahun.

Tidak hanya itu, rata-rata lapangan tanah liat hijau ini sudah mulai aktif membersihkan udara (atau menjadi net negative) hanya dalam waktu sekitar 3,5 tahun.

Emisi dari pembangunan lapangan tanah liat juga 1,6 hingga tiga kali lipat lebih rendah, belum dihitung dengan kemampuannya menyerap polusi dari udara.

Sementara itu, lapangan semen yang terbuat dari beton tidak bisa menyerap karbon.

"Kami melihat penelitian ini sebagai titik awal untuk memperkenalkan solusi iklim yang menarik dan mudah dipahami masyarakat luas. Kami juga percaya bahwa strategi ini punya potensi nyata untuk diterapkan dalam skala yang lebih besar," ujar Lambert.

Membuat lapangan tanah liat hijau terbukti punya dampak lingkungan. Dengan sedikit mengubah campuran batuan hancur pada lapangan tersebut dan mencatat perawatannya secara lebih teliti, jumlah karbon yang diserap bisa meningkat pesat.

Hal ini jadi peluang besar bagi organisasi atau fasilitas olahraga yang ingin mengurangi jejak polusi mereka.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau