Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?

Kompas.com, 27 Maret 2026, 08:19 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bahan bakar nabati, seperti biodiesel dan bioetanol, dinilai dapat menjadi pengganti bahan bakar minyak (BBM) bagi Indonesia di tengah tekanan kenaikan harga minyak global, imbas konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran sejak akhir Februari 2026 lalu.

Namun, penggunaan bahan bakar nabati tidak memadai sebagai solusi atas krisis energi saat ini.

Baca juga:

Krisis energi di Indonesia, cukup pakai bahan bakar nabati? 

Produksi biodiesel mahal

Untuk mengurangi impor BBM, campuran biodiesel ke dalam solar harus ditingkatkan dari 40 persen (B40), menjadi 50 persen (B50).

Namun, pelaksanaan program mandatori B50 akan mengurangi porsi ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), mengingat produksi CP, sebagai bahan baku utama biodiesel, di Indonesia relatif tidak bertambah.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, kalau memang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, B40 sudah paling optimal.

Jika persentase campuran biodiesel ke dalam solar lebih dari 40 persen, akan mengurangi porsi ekspor CPO, yang pada gilirannya berdampak pada penerimaan pajak ekspor CPO.

"Walaupun sekarang (harga CPO) cenderung naik, karena permintaan banyak. Biodiesel tidak hanya dipakai di Indonesia, negara lain juga tinggi. Tetapi, kalau nanti penerimaan ekspornya berkurang, siapa yang akan membayar subsidi bahan bakar ini (biodiesel)? Pasti akan disubsidi oleh APBN dan itu pernah kejadian kan ketika Covid-19. Dana dari BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) untuk membayar subsidi biodiesel itu kurang, akhirnya dianggarkan dari APBN, saat itu diambil dari dana darurat Covid-19," jelas Fabby kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2026).

Selama ini, program mandatori B40 bisa terlaksana lantaran Pemerintah Indonesia memungut pajak ekspor CPO, yang dananya dikumpulkan BPDP dan dipakai untuk menyupsidi produsen biodiesel.

Ia mengingatkan bahwa harga biodiesel lebih mahal daripada solar atau bahan bakar hasil olahan minyak bumi yang diperoleh Indonesia dari impor.

"Harganya mahal, iya. Kan tapi bukan lebih murah. Kalau biodiesel lebih murah pemerintah enggak mensubsidi kan? Berarti malah risiko menambah subsidi lebih tinggi. Berarti dana subsidinya naik. Berarti bukan solusi dari permasalahan kenaikan harga BBM akhir-akhir ini ya, kan lebih mahal," tutur Fabby.

Baca juga:

Impor bioetanol

Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa. Indonesia masih belum mampu penuhi produksi bahan baku untuk bioetanol di dalam negeri, terkait krisis energi imbas konflik AS-Israel vs Iran. DOK. IESR Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa. Indonesia masih belum mampu penuhi produksi bahan baku untuk bioetanol di dalam negeri, terkait krisis energi imbas konflik AS-Israel vs Iran.

Indonesia disebut masih belum mampu memenuhi produksi bahan baku untuk bioetanol di dalam negeri.

Misalnya, sebagai bahan baku bioetanol, tetes tebu (molase) di Brasil dan Thailand sudah sangat murah, sedangkan harga molase di Indonesia masih relatif mahal karena belum membangun perkebunan tebu yang memadai.

Berdasarkan perhitungan kapasitas produksi, hingga tahun 2028, Indonesia kemungkinan hanya bisa meningkatkan campuran bioetanol ke dalam bensin sebesar tujuh persen atau E7.

Jika masih ingin mempercepat kenaikan persentase campuran menjadi E10, Indonesia harus mengimpor bioetanol.

"Nah, Indonesia bisa impor dari Brasil yang kelebihan produksi bioetanol. Itu bisa jadi solusi ya," ucapnya.

Di sisi lain, Indonesia perlu mendiversifikasi bahan baku untuk produksi bioetanol. Negara ini bisa memakai tebu, sorgum, jagung, dan singkong sebagai bahan baku untuk produksi bioetanol.

"Nah, pertanyaannya tadi biayanya berapa kalau kita produksi sendiri? Semua bahan baku untuk bahan bakar nabati itu bersinggungan dengan pangan dan komoditas. Mungkin sorgum yang tidak, tetapi kalau kelapa sawit, jagung, singkong itu kan bersingungan dengan pangan. Jadi, ada trade-off ya," ujar Fabby.

Baca juga: Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil

Optimalisasi potensi bahan bakar nabati

Ilustrasi biodiesel. Indonesia masih belum mampu penuhi produksi bahan baku untuk bioetanol di dalam negeri, terkait krisis energi imbas konflik AS-Israel vs Iran. Dok Kontan.co.id Ilustrasi biodiesel. Indonesia masih belum mampu penuhi produksi bahan baku untuk bioetanol di dalam negeri, terkait krisis energi imbas konflik AS-Israel vs Iran.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengoptimalisasi seluruh potensi bahan bakar nabati di Indonesia untuk ketahanan energi.

Prabowo meminta Bahlil mempercepat transisi energi dengan mendorong produksi bahan bakar alternatif terbarukan, seperti bioetanol dan biodiesel dari minyak kelapa sawit. 

"Bapak Presiden memerintahkan untuk mengoptimalkan seluruh potensi-potensi energi yang ada di kita, baik itu (bio)etanol, baik itu biodiesel dari CPO-CPO, termasuk kami bagaimana mendorong agar transisi energi lewat energi baru terbarukan juga kami bisa segera lakukan," ujar Bahlil dalam keterangan pers usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, pada Rabu (25/3/2026), yang disiarkan melalui akun Youtube Sekretariat Presiden.

Baca juga: Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Momentum Indonesia Percepat Penggunaan BBM Bersih

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Pemerintah
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Swasta
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
LSM/Figur
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Swasta
Emisi AS Picu Kerugian Global hingga Rp 155.000 Triliun dalam 30 Tahun Terakhir
Emisi AS Picu Kerugian Global hingga Rp 155.000 Triliun dalam 30 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?
Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?
LSM/Figur
Ketergantungan Gas Impor ASEAN Bisa Ditanggulangi dengan Tenaga Surya
Ketergantungan Gas Impor ASEAN Bisa Ditanggulangi dengan Tenaga Surya
Pemerintah
Meski Potensial Ganti Minyak Bumi, Sejumlah Bahan Baku Produksi Biodiesel Masih Impor
Meski Potensial Ganti Minyak Bumi, Sejumlah Bahan Baku Produksi Biodiesel Masih Impor
LSM/Figur
Cegah Konflik Manusia-Gajah, Kemenhut Pasang Pembatas di TN Way Kambas
Cegah Konflik Manusia-Gajah, Kemenhut Pasang Pembatas di TN Way Kambas
Pemerintah
Gejolak LPG Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, Bisakah Indonesia Beralih ke EBT?
Gejolak LPG Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, Bisakah Indonesia Beralih ke EBT?
Pemerintah
Krisis Energi, Indonesia Bisa 'Tanam' BBM demi Ketahanan Nasional
Krisis Energi, Indonesia Bisa "Tanam" BBM demi Ketahanan Nasional
Pemerintah
Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu
Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu
LSM/Figur
Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin
Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin
LSM/Figur
Sektor Ritel Pangan di Asia Dinilai Minim Komitmen Tekan Emisi Metana
Sektor Ritel Pangan di Asia Dinilai Minim Komitmen Tekan Emisi Metana
LSM/Figur
Krisis Timur Tengah, China Gandeng Asia Tenggara Perkuat Pemanfaatan Energi Terbarukan
Krisis Timur Tengah, China Gandeng Asia Tenggara Perkuat Pemanfaatan Energi Terbarukan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau