Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut

Kompas.com, 27 Maret 2026, 10:26 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Salah satu dampak konflik geopolitik Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran adalah kenaikan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Lonjakan harga CPO berisiko berdampak sistemik terhadap pasar di Indonesia.

Diketahui, harga CPO pada PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Kamis (26/3/2026), sebesar Rp 15.615 per kilogram.

Baca juga:

"Kalau seandainya perang berkepanjangan sampai dengan (bulan) Juni nanti masih belum berakhir, itu kami prediksi harga CPO bisa tembus di 160 dollar AS (sekitar Rp 2,7 juta) per barel. Nah, itu bisa berdampak sistemik pada harga CPO yang bisa mencapai harga Rp 20.000 per kilo di dalam negeri ya, di domestik," kata Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2026).

"Jadi, memang kalau diproyeksikan akan terjadi lonjakan harga yang luar biasa ya kalau misalnya perang berkepanjangan," tambah dia. 

Harga CPO di Indonesia naik akibat konflik AS-Israel vs Iran

Arah alokasi CPO

Konflik AS-Israel vs Iran picu lonjakan harga CPO global, termasuk Indonesia. Ini prediksi ahli soal dampak sistemik bagi pasar domestik.BPDP Konflik AS-Israel vs Iran picu lonjakan harga CPO global, termasuk Indonesia. Ini prediksi ahli soal dampak sistemik bagi pasar domestik.

Konflik AS-Israel versus Iran menguatkan urgensi produksi bahan bakar nabati di dalam negeri sebagai salah satu strategi mengurangi impor minyak bumi. 

Dimas memperkirakan, program mandatori B50 atau kewajiban mencampurkan 50 persen kelapa sawit ke dalam solar berpotensi akan dipaksakan bulan depan.

Porsi ekspor CPO akan berkurang sebesar 20 persen seiring kenaikan campuran biodiesel dari B40 ke B50. Peningkatan campuran biodiesel akan meningkatkan kebutuhan CPO hingga tiga juta ton.

"Itu skenario terburuk kalau memang dipaksakan ya, mau enggak mau pasti industri (kelapa sawit) akan mendukung. Saat ini masih wacana ya, belum ada keputusan, tetapi potensi itu tetap ada karena memang terjepit dari sisi suplai minyak impor minyak bumi, mau enggak mau kita akan gunakan bahan yang ada di dalam. Kalau enggak ya, akan terjadi kelangkaan bahan bakar solar," jelas Dimas.

Dalam mengalokasikan pasokan CPO, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto disebut senantiasa memprioritaskan untuk kebutuhan pangan.

Setelah pangan terpenuhi, terdapat alokasi CPO untuk kebutuhan energi melalui biodiesel. Disusul pengalokasian CPO untuk bahan baku biokimia.

Menurut Dimas, porsi untuk ekspor kerap dikorbankan, yang mana pemerintahan saat ini dinilai lebih memprioritaskan kepentingan di dalam negeri.

Pasokan CPO paling banyak dialokasikan untuk kebutuhan energi melalui program mandatori B40. Bahkan, program mandatori B40 saja, pada 2025 menyerap CPO hingga 14,2 juta kiloliter (kl).

Alokasi CPO ke energi jauh lebih besar daripada untuk kebutuhan pangan. Misalnya, produksi minyak goreng untuk pasar dalam negeri menyerap CPO sekitar enam sampai tujuh juta ton per tahun.

Kendati demikian, secara keseluruhan, industri di bidang pangan membutuhkan pasokan CPO dalam jumlah besar.

"Kalau makanan kemasan, mi instan itu ada minyak juga di dalamnya, itu dari CPO. Kalau biskuit, nugget, dan makanan siap saji itu diproses dengan minyak juga. Nah, belum lagi kalau bicara margarin, mentega, dan segala macam itu juga bahannya dari CPO," ucap Dimas.

"Nah, jadi cukup besar permintaan pangan, baik itu rumah tangga maupun juga industri terhadap feedstock dari CPO ya," imbuh dia. 

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus  Rp178.600 Triliun
Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus Rp178.600 Triliun
Pemerintah
Rekor Baru, Gelombang Panas Eropa Catat Suhu dan Kelembapan Tertinggi
Rekor Baru, Gelombang Panas Eropa Catat Suhu dan Kelembapan Tertinggi
Pemerintah
UMKM Perlu Mulai Perhatikan Aspek Keberlanjutan
UMKM Perlu Mulai Perhatikan Aspek Keberlanjutan
Swasta
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
Swasta
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
Pemerintah
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Pemerintah
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pemerintah
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Swasta
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
LSM/Figur
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Pemerintah
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
LSM/Figur
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Pemerintah
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
LSM/Figur
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau