KOMPAS.com - Karyawan perempuan dari kelompok minoritas yang sukses dinilai dapat menciptakan kesan keberagaman semu.
Sebab, menurut penelitian terbaru, hal itu membentuk ilusi bahwa perusahaan yang menaunginya lebih beragam daripada yang sebenarnya terjadi.
Baca juga:
"Merekrut perempuan sukses dari kelompok minoritas dapat mengurangi stereotip tentang kelompok mereka, membuka jalan bagi norma-norma yang lebih inklusif, serta menciptakan teladan bagi anggota kelompok yang sering menjadi sasaran stereotip," tulis para peneliti, dilansir dari laman American Psychological Association, Jumat (27/3/2026).
"Namun, upaya melawan stereotip tersebut juga membuat para karyawan ini menjadi sorotan khusus karena kesuksesan mereka di organisasi bertentangan dengan ekspektasi stereotip mengenai hasil karier mereka," lanjut para peneliti.
Kehadiran satu perempuan sukses dari kelompok minoritas bisa membuat perusahaan merasa sudah cukup beragam. Mengapa demikian?Studi di Journal of Applied Psychology menunjukkan, sebagai pemimpin perusahaan, perempuan dari kelompok minoritas akan sangat menonjol dan mudah diingat.
Orang-orang yang mengingatnya disebut melebih-lebihkan aspek keberagaman dalam perusahaan, yang dampaknya bisa mengurangi dukungan untuk upaya keberagaman tambahan.
"Orang-orang tidak hanya merasakan lebih banyak keberagaman ketika terpapar perusahan yang mempekerjakan perempuan sukses dan pekerja minoritas, tapi mereka juga secara konsisten melebih-lebihkan prevalensinya," tutur penulis bersama studi tersebut sekaligus asisten profesor organisasi dan sumber daya manusia di University at Buffalo School of Management, Daniela Goya-Tocchetto, dilansir dari Phys.org.
"Dan, karena upaya untuk memajukan keberagaman membutuhkan pengakuan adanya masalah sejak awal, orang cenderung kurang mendukung upaya tersebut ketika mereka percaya bahwa keberagaman sudah tinggi," tambah dia.
Baca juga:
Para peneliti berupaya memahami bagaimana orang berpikir tentang keberagaman di tempat kerja dengan menganalisis lebih dari 2.300 tanggapan peserta dari berbagai studi.
Hasil analisis juga dikombinasikan dengan data perusahaan dunia nyata, termasuk informasi tentang kepemimpinan dan dewan perusahaan Standard & Poor's (S&P) 500, distribusi gaji di tempat kerja, dan data kesenjangan upah gender dari lebih dari 10.000 organisasi di Inggris.
Lalu, temuan tersebut dianalisis lagi menggunakan metode statistik untuk membandingkan keberagaman yang dirasakan versus keberagaman aktual, dan menilai pengaruhnya terhadap sikap terhadap inisiatif keragaman.
Kehadiran satu perempuan sukses dari kelompok minoritas bisa membuat perusahaan merasa sudah cukup beragam. Mengapa demikian?Temuan dari studi ini mengingatkan perusahaan untuk menyadari potensi bias persepsi dan mengantisipasinya dengan mengomunikasikan keadaan keragaman yang sebenarnya di perusahaan.
Kesadaran akan potensi bias persepsi penting untuk memahami bahwa sejumlah pemimpin perempuan dari kelompok minoritas tidak selalu mewakili keberagaman tenaga kerja yang lebih luas.
Kesadaran tersebut penting untuk terus mendukung upaya keberagaman, bahkan ketika ada panutan minoritas yang sukses.
"Kehadiran perempuan yang sukses dan karyawan kelompok minoritas yang berbeda dari stereotip dalam organisasi memiliki dampak positif yang jelas, tapi persepsi tentang keberagaman sering kali berbeda dari realitas obyektif," tutur Goya-Tocchetto.
"Persepsi tersebut dapat membentuk dukungan terhadap inisiatif keragaman sehingga organisasi harus berhati-hati agar tidak hanya mengandalkan representasi simbolis saja ketika mengkomunikasikan kemajuan dalam hal keragaman," lanjut dia.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya