KOMPAS.com - Tercatat ada 273 juta anak-anak dan remaja yang tidak bersekolah pada tahun 2024, menurut laporan terbaru UNESCO.
Angka ini bahkan belum termasuk sekitar 13 juta anak lainnya yang berada di 10 negara yang paling parah terkena dampak konflik atau perang.
Baca juga:
Laporan UNESCO tahun 2026 yang berjudul Access and equity: Countdown to 2030 menyoroti, satu dari enam anak usia sekolah di seluruh dunia tidak mendapatkan pendidikan.
Selain itu, hanya dua dari tiga siswa yang berhasil menyelesaikan sekolah menengah mereka.
Dilansir dari Down to Earth, Jumat (27/3/2026), kenyataan ini terasa sangat mendesak di Asia Barat saat ini. Sebab, ketegangan wilayah yang terus berlangsung memaksa banyak sekolah untuk tutup.
Akibatnya, jutaan anak tidak bisa belajar di kelas dan menghadapi risiko besar tertinggal jauh dalam pendidikan mereka.
Analisis ini pun memberikan penilaian tepat waktu mengenai sejauh mana kemajuan dunia dalam mewujudkan pendidikan yang adil dan merata bagi semua orang pada tahun 2030.
Baca juga:
Tercatat ada 273 juta anak-anak dan remaja yang tidak sekolah tahun 2024, menurut laporan terbaru UNESCO. Apa saja hambatan lainnya?Lebih lanjut, salah satu kekhawatiran utama dalam penilaian ini adalah bahwa sekadar bisa masuk sekolah saja tidak menjamin anak benar-benar belajar.
Meskipun jumlah pendaftaran SD sudah membaik di banyak negara, jutaan anak tetap tidak sekolah, terutama di wilayah miskin dan daerah konflik.
Anak perempuan, anak penyandang disabilitas, penduduk desa, dan pengungsi masih menghadapi hambatan besar yang membatasi mereka untuk sekolah maupun ikut belajar dengan baik.
Bahkan, bagi mereka yang sudah sekolah, banyak yang harus belajar dalam kondisi yang tidak layak seperti kelas yang terlalu penuh sesak, guru yang kurang terlatih, serta kurangnya buku dan alat belajar.
Hambatan-hambatan ini menyebabkan hasil belajar siswa menjadi buruk. Kesenjangan pendidikan ini mengancam pembangunan sosial dan ekonomi dalam jangka panjang, serta memperparah lingkaran kemiskinan dan ketidakadilan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya