Laporan UNESCO turut menyoroti kesenjangan digital yang semakin nyata setelah berbagai guncangan global baru-baru ini.
Meskipun teknologi berpotensi memperluas akses dan meningkatkan kualitas belajar, jutaan pelajar masih belum memiliki perangkat, seperti laptop atau ponsel, koneksi internet, dan keterampilan digital.
Tanpa tindakan nyata yang terarah, pendidikan berbasis digital justru berisiko memperlebar jurang ketimpangan, bukannya menjembataninya.
Namun, terlepas dari segala tantangan tersebut, Laporan mencatat adanya pencapaian-pencapaian signifikan dalam pendidikan global selama beberapa tahun terakhir.
Beberapa negara berhasil memangkas angka putus sekolah hingga setidaknya 80 persen sejak tahun 2000. Beberapa negara tersebut, misalnya Madagaskar dan Togo untuk kategori anak-anak, Maroko dan Vietnam untuk kategori remaja, serta Georgia dan Turkiye untuk kategori pemuda.
Pada periode yang sama, Pantai Gading berhasil memotong separuh angka putus sekolahnya di ketiga kelompok umur tersebut.
Laporan ini juga menyertakan 35 studi kasus negara yang menceritakan faktor apa saja yang membuat kemajuan di beberapa negara lebih cepat dibanding negara lain yang kondisinya senada, serta apa yang menghambat negara lainnya.
Menjelang tenggat waktu tahun 2030, laporan pun menekankan perlunya tindakan yang lebih cepat. Pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat harus bekerja sama untuk mengatasi hambatan mendalam serta memprioritaskan kelompok yang paling rentan.
Kebijakan yang dibuat tidak boleh hanya fokus pada cara memasukkan anak ke sekolah, tetapi juga memastikan mereka tetap bersekolah, benar-benar belajar, dan berkembang.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya