Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penguin di Kebun Binatang Hidup Lama tapi Cepat Tua, Kok Bisa?

Kompas.com, 30 Maret 2026, 12:37 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penguin di kebun binatang bisa hidup lebih lama, tapi menua lebih cepat. Hal ini berdasarkan penelitian terhadap penguin raja (king penguin) dari jurnal Nature Communications

"(Penelitian) kami menunjukkan, sama seperti manusia modern, penguin raja jantan yang dipelihara di kebun binatang mengalami peningkatan usia hidup, tapi hal ini terjadi dengan mengorbankan percepatan penuaan epigenetik sepanjang hidupnya," tulis para peneliti, dikutip dari Nature, Senin (30/3/2026).

Baca juga:

Penguin di kebun binatang hidup lama, tapi cepat tua

Diberi makan dengan baik dan dirawat dengan baik, tapi..

Penelitian ini menunjukkan, mengamati penguin dengan usia hidup sekitar 20-40 tahun bisa jadi cara untuk mempelajari penuaan. 

Hewan tersebut tidak mengalami pergeseran sosial-ekonomi secara signifikan selama beberapa abad terakhir, sebagaimana manusia, sehinggga menjadikan mereka model yang lebih terkontrol.

"Kami ingin menyelidiki apakah mengubah penguin-penguin ini menjadi individu yang acuh tak acuh, diberi makan dengan baik, dan dirawat dengan baik akan mengubah lintasan penuaan mereka. Gaya hidup ini sudah terjadi di kebun binatang sehingga pengaturan ini sangat ideal,” ujar penulis pertama studi ini, Robin Cristofari, dilansir dari SciTechDaily

Baca juga: Studi: Kotoran Penguin di Antartika Bisa Bantu Dinginkan Planet

Penguin di kebun binatang bisa hidup lebih lama, tapi menua lebih cepat. Simak alasannya berdasarkan penelitian terbaru.Dok. Freepik/wirestock Penguin di kebun binatang bisa hidup lebih lama, tapi menua lebih cepat. Simak alasannya berdasarkan penelitian terbaru.

Kehidupan penguin raja di Kebun Binatang Zurich, Swiss, dan Loro Parque di Pulau Tenerife, Spanyol, yang mengalami kondisi terlindungi, hampir mirip seperti kehidupan manusia modern.

Temuan dari studi ini menunjukkan, dalam kondisi stabil di kebun binatang, penguin menua lebih cepat daripada spesies yang sama di alam liar.

Tubuh seekor penguin berusia 15 tahun di kebun binatang serupa dengan spesies yang sama berumur 20 tahun di alam liar. Namun, penguin di kebun binatang memiliki harapan hidup lebih lama secara keseluruhan.

Penguin di kebun binatang kemungkinan kurang bugar secara fisik dan menjalani hidup tanpa perlu mengkhawatirkan ancaman predator alami atau badai Antartika.

"Dengan akses ke perawatan dokter hewan, mereka dapat bertahan hidup jauh melampaui usia di mana mereka biasanya akan mati di Samudera Selatan,” tutur peneliti pendamping Céline Le Bohec dari CNRS Prancis, yang telah mempelajari penguin raja di alam liar selama lebih dari dua dekade.

Para peneliti menelusuri efek ini pada proses biologis yang erat kaitannya dengan metabolisme, pertumbuhan sel, dan pemeliharaan.

Kondisi di kebun binatang, seperti akses tetap ke makanan, berkurangnya aktivitas, dan terganggunya ritme alami, tampaknya mempercepat penuaan penguin.

Baca juga:

Pelajaran bagi manusia

Penguin di kebun binatang bisa hidup lebih lama, tapi menua lebih cepat. Simak alasannya berdasarkan penelitian terbaru.Dok. Freepik/wirestock Penguin di kebun binatang bisa hidup lebih lama, tapi menua lebih cepat. Simak alasannya berdasarkan penelitian terbaru.

Penguin dan manusia bisa memperoleh manfaat dari umur yang lebih panjang di lingkungan dengan perawatan medis canggih. Namun, hidup lebih lama tidak selalu berarti tetap bertambah sehat.

Cristofari dan rekan-rekan penelitinya berupaya mengidentifikasi pola gaya hidup untuk mendukung umur panjang dan kesehatan yang baik.

Temuan dari studi berjudul "Lifestyle Change Accelerates Epigenetic Ageing in King Penguins" ini menunjukkan hubungan yang terkonservasi antara gaya hidup dan percepatan penuaan.

Bukti evolusi semacam itu bisa membantu para peneliti meningkatkan deteksi risiko dan, yang pada akhirnya, terapi untuk percepatan penuaan lebih disebabkan oleh gaya hidup pada manusia.

“Saat ini kami sedang melakukan penelitian di mana kami mendorong penguin untuk makan lebih sedikit dan berolahraga lebih banyak. Penting untuk menemukan gaya hidup moderat di dunia yang berlimpah, bagi kita manusia juga,” ucap simpul kurator penelitian dari Kebun Binatang Zurich, Leyla Davis.

Baca juga: Populasi Penguin Kaisar Turun 22 Persen dalam 15 Tahun, Lebih Buruk dari Prediksi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
Pemerintah
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
LSM/Figur
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Pemerintah
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Swasta
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Pemerintah
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Pemerintah
Mengenal 'Micromanagement', Gaya Kepemimpinan 'Tirani' yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
Mengenal "Micromanagement", Gaya Kepemimpinan "Tirani" yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
LSM/Figur
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Pemerintah
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Swasta
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau