Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem

Kompas.com, 8 April 2026, 16:56 WIB
Add on Google
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Tekanan terhadap rantai pasok global kembali menjadi perhatian seiring kenaikan harga sejumlah bahan baku industri.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dinamika global tidak hanya berdampak pada perdagangan internasional, tetapi juga langsung menyentuh operasional pelaku usaha di dalam negeri.

Kenaikan harga plastik, misalnya, menunjukkan bahwa gangguan pasokan dapat menjalar ke berbagai sektor. Plastik yang selama ini kerap dilihat sebagai isu lingkungan, kini juga menegaskan posisinya sebagai komponen penting dalam struktur biaya industri.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut bahwa lonjakan harga tersebut dipicu oleh pasokan bahan baku yang terganggu. Situasi ini berdampak pada distribusi dan ketersediaan di pasar yang pada akhirnya mulai dirasakan oleh pelaku industri melalui peningkatan biaya produksi.

“Hampir seluruh pedagang di berbagai tempat mengeluhkan harga plastik yang melonjak dalam beberapa hari terakhir. Saya dengar (harga) biji plastiknya juga naiknya luar biasa,” ujar Zulhas sebagaimana diberitakan Kompas.com, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga: Pesan Tersembunyi di Balik Kenaikan Harga Plastik

Dalam konteks ini, kenaikan harga plastik bukan sekadar isu sektoral, melainkan cerminan kerentanan yang lebih luas dalam sistem industri yang masih bergantung pada bahan baku tertentu. Ketergantungan yang tinggi terhadap material baru (virgin material) dinilai membuat industri lebih rentan terhadap fluktuasi global.

Tekanan tersebut juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Kenaikan harga bahan baku kemasan, misalnya, berpotensi menggerus margin usaha jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual. Namun, langkah ini tidak selalu mudah dilakukan karena berkaitan langsung dengan daya saing produk di pasar.

Ketahanan menjadi kunci

Situasi itu akhirnya mendorong pelaku industri untuk mulai mengkaji ulang strategi operasional mereka. Ketahanan (resilience) menjadi kata kunci. Sebab, upaya ini tidak hanya dilakukan guna menjaga keberlanjutan bisnis, tetapi juga respons ketidakpastian yang semakin sering terjadi.

Sejumlah pelaku industri mulai mengkaji ulang strategi operasional mereka. Diversifikasi sumber bahan baku, efisiensi penggunaan material, hingga pengembangan model produksi yang lebih adaptif menjadi beberapa langkah yang mulai ditempuh.

Baca juga: Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali

Selain itu, pendekatan berbasis efisiensi sumber daya juga mulai mendapat perhatian. Model yang mengedepankan penggunaan ulang (reuse) dan pengisian kembali (refill) dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku baru.

Perubahan pendekatan itu mulai terlihat di sejumlah sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap kemasan dan distribusi berbasis material. Beberapa pelaku usaha mengembangkan sistem operasional yang lebih efisien sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan di tengah ketidakpastian.

Di sektor air minum, misalnya, model distribusi berbasis isi ulang menjadi salah satu pendekatan yang mulai berkembang. Skema ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku baru sekaligus menjaga stabilitas operasional. Hal ini pula yang dilakukan penyedia layanan air minum isi ulang Air Minum Biru.

Baca juga: Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang

Direktur PT Biru Semesta Abadi (Air Minum Biru) Yantje Wongso mengatakan bahwa ketahanan sistem menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika tersebut.

Menurutnya, pendekatan operasional yang tidak sepenuhnya bergantung pada produksi material baru dapat membantu perusahaan lebih adaptif.

“Dalam kondisi seperti sekarang, sistem yang efisien dalam penggunaan sumber daya menjadi penting. Sejak awal, kami mengembangkan model berbasis isi ulang untuk mengurangi ketergantungan pada produksi material baru dan lebih adaptif terhadap perubahan di rantai pasok,” ujar Yantje dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (8/4/2026).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
LSM/Figur
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau