KOMPAS.com - Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir (KPPMPI) menyebut anak muda makin enggan menjadi nelayan lantaran laut yang terus tercemar akibat limbah. Kondisi ini dinilai sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan regenerasi nelayan di Indonesia.
“Minat pemuda pesisir terus menurun. Bukan karena mereka tidak ingin, tetapi karena kondisi laut yang semakin tercemar membuat hasil tangkapan tidak lagi menjanjikan,” ungkap Ketua Umum KPPMPI, Hendra Wiguna dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).
Ia menambahkan, hasil studi terbaru menunjukkan sekitar 70 persen kawasan konservasi laut telah terkontaminasi limbah cair. Limbah berasal dari aktivitas domestik, industri, serta aliran dari daratan yang bermuara ke laut.
Baca juga: Hari Nelayan 2026, KIARA Soroti Tekanan yang Dihadapi Nelayan Tradisional di Indonesia
Pencemaran ini bahkan telah menjangkau wilayah yang seharusnya menjadi zona perlindungan ekosistem laut. Hendra berpandangan, situasi itu memperburuk ketidakpastian ekonomi nelayan.
Hasil tangkapan yang menurun, ditambah biaya operasional yang tetap tinggi, membuat profesi nelayan membuat generasi muda tidak tertarik untuk melaut.
“Ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi sudah menjadi persoalan sosial dan ekonomi. Jika dibiarkan, kita bisa kehilangan generasi nelayan,” tutur dia.
Hendra menyampaikan, rusaknya ekosistem laut berdampak pada keberlanjutan sumber daya perikanan, serta mengancam ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat pesisir.
Baca juga: Studi Ungkap 70 Persen Area Konservasi Laut Terkontaminasi Limbah Cair
Di wilayah pesisir Cilamaya, Karawang, misalnya, di mana aktivitas eksplorasi perusahaan pembangkit listrik disinyalir menjadi sumber pencemaran laut yang berdampak langsung pada nelayan kecil.
“Dulu nelayan bisa mendapatkan Rp300.000 hingga Rp400.000 per hari. Sekarang, untuk mendapatkan Rp50.000 saja sudah sangat sulit. Ikan semakin jarang ditemukan di wilayah tangkap mereka,” jelas Hendra.
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai daerah lain. Di Kepulauan Riau, seperti di Bintan, perairan yang menjadi wilayah tangkap nelayan kecil kerap mengalami pencemaran. Limbah batu bara dan tumpahan minyak hitam dilaporkan mengganggu aktivitas penangkapan ikan sekaligus merusak sektor pariwisata bahari.
Tercatat pula tangkapan nelayan kecil di Kota Tarakan yang terus menurun karena sampah. Diduga, hal itu terjadi akibat pengelolaan limbah domestik dan industri yang belum optimalsehingga mencemari perairan.
Dampak yang paling signifikan lainnya ialah ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya ikan.
“Jika wilayah pesisir terus tercemar, ikan akan kesulitan berkembang biak. Dalam jangka panjang, ini bisa merusak ekosistem laut,” beber Hendra.
Karenanya, KPPMPI mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan segera mengambil langkah konkret dalam mengatasi pencemaran laut.
Baca juga: Perairan Romang-Damer Punya Keanekaragaman Hayati Terlengkap se-Asia
Penguatan regulasi dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran dinilai menjadi langkah penting, diiringi dengan perbaikan sistem pengelolaan limbah dari hulu ke hilir.
Selain itu, diperlukan kebijakan yang berpihak pada nelayan muda, antara lain penyediaan akses teknologi, pelatihan, serta jaminan perlindungan ekonomi agar profesi nelayan kembali memiliki daya tarik.
“Jika laut dapat dipulihkan, kami yakin pemuda akan kembali melihat masa depan di sektor perikanan. Namun jika tidak, kita akan menghadapi krisis regenerasi nelayan yang nyata,” papar dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya