Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia

Kompas.com, 12 April 2026, 19:31 WIB
Add on Google
Ni Luh Made Pertiwi F.

Editor

Sumber KompasTV

“Kita sering mengotori piring makan kita, sayangnya. Jadi, seperti masyarakat pesisir yang hidup bergantung yang mereka hari-hari itu bergantung dari rumput laut, dari lamun, dari pesisir dan berbagai mereka, hari ini masih buang sampah di laut juga,” sebut Eco-Socio Journalist, Didi Kasim.

Baca juga: KKP Susun Informasi Dasar Lamun untuk Perkuat Tata Kelola Karbon Biru

Nelayan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta, misalnya terpaksa harus menggantungkan hidupnya dari pariwisata karena hasil tangkapan laut yang terus menurun.

Lahir dan besar di Pulau Pari, nelayan bernama Hamdi menyebut ekosistem laut seperti mangrove dan lamun terus tergerus. Belajar dari pengalaman hidup, Hamdi paham bahwa lamun adalah tempat hidup ikan, udang, dan hewan laut lainnya. 

“Lamun sama mangrove berkurang sejak adanya pembangunan. Itu padang lamun kita udah mulai rusak. Nelayan penghasilannya juga sudah mulai rusak, mulai berkurang. Tempat-tempat sarang-sarang ikan yang biasanya ada, dengan berkurangnya mangrove dan lamun, penangkapan kita berkurang juga hasilnya,” tutur Hamdi.

Meski keberpihakan terhadap pesisir kian digaungkan pemerintah tetapi aturan yang digagas di hulu dan disiplin penegakan di hilir dinilai belum melindungi hak masyarakat pesisir.

“Kita negara maritim. Tapi apakah kita berpihak? Mungkin setahun ini saya bisa merasakan sedikit ada keberpihakan. Ada pergeseran anggaran dari terrestrial ke pesisir itu terlihat. (Namun) apakah visi itu diterjemahkan ke dalam konkret yang kita lakukan di lapangan. Nah hari ini ada ketidaknyambungan antara visi kita, darat pesisir, dengan langkah konkret kita yang kita lakukan di pesisir kita,” terang Didi Kasim. 

Masa Depan Karbon Biru

Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim Atau COP30 Di Belém, Brasil, November 2025 lalu, Indonesia meluncurkan Peta Jalan Dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru.

Langkah ini merupakan komitmen untuk mendorong solusi iklim berbasis pesisir dan diharapkan mampu membuka peluang pendanaan konservasi laut di luar pendanaan Pemerintah.

Namun, menurut Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim & Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, Ary Sudijanto pembahasan pendanaan konservasi laut belum secara konkret dibahas di COP-30. 

“Di COP ke-30 di Belém, Brasil kemarin itu agenda untuk ocean and climate itu tidak dibahas. Jadi memang belum mendapat perhatian lah karena memang mungkin karena ini Brasil, kemudian tagline yang diangkat ke Amazon begitu ya jadi memang sangat karbon terrestrial," ujar Ary.

Pihaknya berharap pada COP ke-31 tahun depan dapat mengusung tema-tema kelautan.

"Walaupun tuan rumahnya nanti di Turki tetapi presidensinya Australia yang kemudian Australia juga akan mengusung tema-tema tetangga-tetangga yang dari Oceania,” tambahnya.

Baca juga: COP 30: Dagang Karbon Kuno dan Terbukti Gagal, Indonesia Perlu Strategi Baru

Implementasi pendanaan konservasi laut atau perdagangan karbon biru butuh waktu. Namun Kementerian Lingkungan Hidup memastikan skema yang diterapkan tak hanya dinikmati segelintir pihak. Lewat skema benefit sharing, Ary berharap insentif akan diberikan kepada masyarakat yang merawat pesisir.

“Jadi nanti akan ada skema-skema pendanaan untuk misalnya kalau kita bisa merawat, memelihara, bahkan merehabilitasi mangrove yang rusak," ungkap Ary. 

Oleh karena itu, lanjut Ary, pihaknya ingin bisa memobilisasi dari awal sudah ada insentif untuk masyarakat.

"Oh ternyata kemudian merawat mangrove, nanti juga menjaga lamun, itu ternyata juga bisa ada manfaat ekonomi bagi penghidupan masyarakat yang ada di sekitar pesisir,” jelasnya.

Masa depan bumi tak hanya bergantung di daratan tetapi juga di pesisir, dari hutan mangrove hingga akar lamun di garis pantai. Potensi karbon biru dan keberpihakan pada pesisir seharusnya tak lagi sekadar wacana tetapi aksi yang hidup di antara kita. (Penulis: KOMPASTV/Wella Chen)

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau