Editor
SEBAGAI negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada, Indonesia memegang kunci vital dalam upaya global mitigasi perubahan iklim.
Pesisir Indonesia bukan hanya hamparan pantai yang luas tetapi bagian krusial dalam keberlangsungan hidup di bumi. Laut menghasilkan sebagian besar oksigen di bumi.
Laut mengatur iklim dan menyediakan sumber protein serta rumah keanekaragaman hayati. Laut dan ekosistem pesisir adalah penopang hidup bagi masyarakat pesisir.
Di balik pesona hamparan bahari Indonesia, tersimpan kekayaan yang kerap luput dari pandangan mata: ekosistem karbon biru. Istilah ini merujuk pada karbon dioksida yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir, terutama melalui rimbunnya hutan mangrove dan hamparan padang lamun yang membentang di bawah permukaan air.
Baca juga: Potensi Karbon Biru Indonesia Capai Rp 33 Triliun per Tahun, Apa Tantangannya?
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2021, total luas hutan mangrove Indonesia seluas 3.364.076 Ha. Luas ini berarti sekitar 20 persen dari total mangrove dunia.
Ekosistem ini bukan sekadar vegetasi di tepian air, melainkan sebuah benteng fisik yang mampu meredam abrasi, hantaman tsunami, hingga mencegah intrusi air laut ke pemukiman warga.
Secara biologis, akar-akar mangrove yang kokoh menjadi rumah bagi berbagai biota laut untuk memijah dan berkembang biak. Lebih dari itu, kemampuannya menyimpan karbon di dalam tanah di bawah akarnya menjadikan mangrove salah satu penyerap emisi paling efisien di bumi, jauh melampaui kemampuan hutan hujan tropis di daratan.
Perlindungan iklim Indonesia tidak hanya berhenti di garis pantai. Masuk sedikit ke dalam perairan dangkal, terdapat padang lamun yang sering dijuluki sebagai "Pahlawan Laut yang Terlupakan". Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang mampu hidup sepenuhnya di bawah permukaan laut.
Meski jarang dibicarakan, lamun memiliki efisiensi mengunci karbon sangat tinggi, para ilmuwan memperkirakan lamun mampu mengunci karbon hingga 35 kali lebih cepat dibandingkan hutan tropis di daratan.
Data Low Carbon Development Indonesia menunjukkan Indonesia memiliki luas padang lamun terbesar kedua dunia setelah Australia. Itu artinya kurang lebih 15 persen dari total padang lamun dunia. Kekayaan aset karbon biru yang melimpah ini bisa menjadi daya tawar kuat dalam diskursus iklim internasional.
Padang lamun merupakan bioindikator atau petunjuk alami kesehatan ekosistem pesisir Menjadi seabed atau alas laut, keberadaan lamun akan selaras dengan melimpahnya populasi ikan. Namun realitanya, biota laut seperti mangrove dan lamun di pesisir Indonesia terus tergerus akibat laju peralihan tata ruang seperti pembangunan pariwisata.
Potensi ekologi yang masif ini berbanding lurus dengan peluang ekonomi biru yang menjanjikan. Melalui skema perdagangan karbon dan pembayaran jasa ekosistem, perlindungan wilayah pesisir dapat bertransformasi menjadi sumber pendanaan baru bagi pembangunan berkelanjutan.
Strategi ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat sehingga penduduk lokal yang merawat pesisir bisa mendapatkan insentif ekonomi langsung. Dengan begitu, upaya konservasi tidak lagi dipandang sebagai hambatan pembangunan, melainkan aset masa depan yang meningkatkan taraf hidup nelayan dan masyarakat pesisir.
Menurut Eco-Socio Journalist Didi Kasim, pencemaran masih jadi tantangan besar. Pencemaran sampah plastik dari daratan yang tersangkut di akar-akar mangrove sehingga mencekik pertumbuhannya.
Di sisi lain, praktik pembabatan mangrove ilegal serta reklamasi demi pembangunan resor wisata terus menggerus rumah alami bagi ikan dan udang. Dampaknya dirasakan langsung oleh para nelayan kecil yang melaporkan penurunan drastis hasil tangkapan dibandingkan beberapa dekade silam.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya