NGAWI, KOMPAS.com - Pola makan remaja di berbagai daerah termasuk Kabupaten Ngawi Jawa Timur masih belum teratur, dengan hanya makan satu atau dua kali dalam sehari, yang didominasi makanan ultra-proses (ultra-processed food/UPF).
Berdasarkan hasil penelitian analisis situasi kesehatan remaja desa model di Kabupaten Ngawi yang dilakukan pemerintah daerah setempat, sebenarnya para remaja memahami konsep 'Isi Piringku', merujuk panduan gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan. Namun, mereka enggan menerapkannya dan menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dengan perilaku remaja.
Sebagian dari responden mengaku belum mengetahui adanya pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR). Sebagian lainnya kurang nyaman dengan PKPR karena layanannya tidak bersifat privat. Fasilitas, kegiatan, dan koordinasi lintas sektor untuk mendukung pemanfaatan PKPR masih belum optimal.
Baca juga: Hasil Smart Farming UKSW Digunakan Melawan Stunting
Selain penguatan kualitas dan peningkatan akses layanan, remaja disarankan untuk menjadi peer educator atau mengedukasi teman sebaya tentang PKPR di puskesmas.
Orang tua juga harus memainkan perannya dalam menyediakan makanan dengan gizi yang seimbang. Temuan dari penelitian ini menggarisbawahi bahwa perilaku remaja dan peran orang tua belum selaras dengan amanat dalam Peraturan Bupati 10/2024.
Perwakilan puskemas Kabupaten Ngawi, Supriyono mengakui bahwa sampai hari ini masih menghadapi kendala keterbatasan ruang khusus untuk remaja.
Bayi, balita, anak pra sekolah, anak sekolah, remaja, serta ibu hamil, bersalin, dan nifas, digolongkan dalam Klaster 2. Layanan untuk Klaster 2 memang berada dalam suatu ruangan yang sama, dengan privasi tetap terjaga.
"Artinya, pasien dimasukkan satu per satu. Setelah ibu hamil selesai, kami panggil nomor urut berikutnya untuk remaja. Di sana, kami berikan ruang yang cukup bebas, cukup apa, representatif," ujar Supriyono, Rabu (15/4/2026).
Remaja biasanya mendatangi PKPR usai merasakan keluhan sakit, pingsan di sekolah, atau saat membutuhkan tablet tambah darah dan suplemen vitamin untuk meningkatkan nafsu makan.
Di sisi lain, puskesmas proaktif dengan melakukan screening ke sekolah-sekolah dan menemukan sebesar hampir 30 persen remaja putri mengidap anemia. Pola, porsi, dan kualitas makanan remaja putri yang tidak sesuai standar menjadi salah satu faktor utama banyaknya kasus anemia.
Selain pola makan yang salah, remaja putri lebih rentan terkena anemia ketimbang putra lantaran kombinasi antara kehilangan darah saat menstruasi bulanan dan peningkatan kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan. Remaja putri tidak terlalu menyukai makanan dengan serat dan protein tinggi.
Baca juga: Hashim: Rumah Kumuh Penyebab Stunting dan TBC Anak-anak di Indonesia
"Ada siklus menstruasi yang alamiah banget bagi perempuan, juga mindset body goals, ini ada kecenderungan Gen Z makannya sudah tidak terlalu menyukai sayur dan buah. Ini adalah masalah kronis dari survei kami. Mereka cenderung menyukai makanan siap saja, yang awet, dan yang seperti seblak," tutur Supriyono.
Ketika mengamati cara remaja putra-putri dalam kegiatan makan bersama di sekolah, kata dia, kurang dari 30 persen yang membawa sayuran. Selebihnya, remaja putra-putri membawa nugget, mie, sampai pentol sebagai lauk untuk mendampingi nasi, yang menciptakan kombinasi asupan gizi tidak seimbang, dengan kandungan karbohidrat terlalu mendominasi.
Bermula dari anemia, pola makan rendah nutrisi, serta kurangnya asupan zat besi atau protein selama pertumbuhan, seorang remaja bisa mengidap stunting. Sosialisasi pencegahan stunting perlu dimulai dari relevansinya bagi kehidupan mereka di masa depan.
Menurut Program Manager PASTI Wahana Visi Indonesia (WVI), Hotmianida Panjaitan, materi tentang cara memilih makanan bergizi, sampai risiko anemia dan pernikahan dini harus diajarkan terlebih dahulu sebelum masuk ke pembahasan stunting.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya