Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen

Kompas.com, 16 April 2026, 15:15 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan terbaru menyimpulkan bahwa pendapatan rata-rata masyarakat kemungkinan bakal turun hingga 15 persen pada tahun 2050 akibat lemahnya aksi pemerintah dalam menangani perubahan iklim.

Dalam kurun waktu yang sama, biaya untuk memperbaiki masalah akibat iklim diperkirakan bakal memakan seperlima (20 persen) anggaran kesejahteraan pemerintah.

Melansir Edie, Rabu (16/4/2026) pengeluaran tersebut membengkak karena pemerintah harus menangani bencana cuaca ekstrem, penurunan produktivitas akibat memburuknya kesehatan masyarakat, serta berkurangnya lapangan kerja yang layak.

Data ini berasal dari laporan terbaru Grantham Research Institute yang dipresentasikan kepada para pengambil kebijakan keuangan di pertemuan musim semi IMF di New York.

Temuan Utama Laporan

Prediksi laporan ini didasarkan pada perkiraan bahwa suhu bumi akan naik sebesar 2,5 derajat C pada tahun 2050.

Baca juga: Aksi Iklim Ambisius Bisa Selamatkan 1,32 Juta Jiwa pada 2040

Sebagai perbandingan, PBB memperkirakan kenaikan suhu bisa mencapai 2,8 derajat C pada tahun 2100. Dalam skenario yang diteliti ini, diasumsikan tidak ada peningkatan dana yang berarti untuk upaya perlindungan atau adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Grantham Research Institute sendiri mempelajari hampir 300 penelitian untuk menilai risiko ekonomi akibat iklim bagi berbagai negara mulai dari pendapatan per orang (PDB per kapita), produktivitas, kesenjangan sosial, kenaikan harga, hingga utang.

Hasilnya menyimpulkan bahwa pada tahun 2050, pendapatan rata-rata masyarakat dunia bisa jadi 15 persen lebih rendah dibandingkan jika kondisi iklim bumi tetap aman.

Negara miskin dan berkembang kemungkinan akan menderita kerugian yang lebih parah. Laporan tersebut menyatakan bahwa banyak dari negara ini yang pendapatannya sudah berkurang 4-12 persen, dan angka kerugian tersebut bisa menembus 20 persen pada tahun 2050.

Hal ini terjadi karena sebagian besar negara tersebut terkena dampak ganda yakni bencana cuaca ekstrem sekaligus perubahan jangka panjang seperti suhu panas yang menyengat, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut.

Laporan ini memperingatkan bahwa temuan tersebut sebenarnya masih tergolong "ringan".

Pasalnya, penelitian tersebut dianggap belum mencakup semua dampak, karena belum memasukkan risiko besar seperti banjir, dampak penuh badai tropis, hingga efek domino dari berbagai bencana yang terjadi bersamaan.

Jadi, jika tidak ada upaya perlindungan yang lebih kuat, kerugian aslinya bisa jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Perlu Dana Adaptasi

Pendanaan untuk adaptasi iklim selama ini sangatlah kurang. Pada tahun 2023, negara-negara kaya hanya memberikan bantuan sebesar 26 miliar dolar AS (sekitar Rp445,6 triliun) kepada negara berkembang untuk menangani dampak iklim.

Selain itu, investasi dari pihak swasta di negara-negara tersebut hanya mencapai 5 miliar dolar AS (sekitar Rp85,7 triliun).

PBB menyimpulkan bahwa negara-negara berkembang membutuhkan dana setidaknya 310 miliar dolar AS (sekitar Rp5.313 triliun) setiap tahunnya pada 2035 untuk menghadapi dampak iklim.

Kebutuhan ini bahkan bisa melonjak hingga 365 miliar dolar AS (sekitar Rp6.256 triliun) karena lemahnya upaya banyak negara dalam mengurangi polusi.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal

Untuk mencapai angka tersebut, pendanaan dari pemerintah dunia harus naik setidaknya 12 kali lipat, sementara pendanaan dari sektor swasta juga perlu ditingkatkan hingga 10 kali lipat.

Laporan dari Grantham Research Institute menyatakan bahwa investasi dalam proyek adaptasi iklim sangat menguntungkan. Biasanya, manfaat yang didapat mencapai 4 kali lipat dari uang yang dikeluarkan.

"Keuntungan ekonomi dari upaya adaptasi biasanya lebih besar daripada sekadar keuntungan uang, karena banyak manfaatnya yang tidak bisa dihargai dengan harga pasar," tulis laporan tersebut.

Hal ini menunjukkan pentingnya campur tangan pemerintah dan kerja sama dengan pihak lain agar investasi untuk perlindungan iklim tidak terlalu rendah.

Laporan juga menegaskan pentingnya berinvestasi sekarang juga, bukan menunggu hingga tahun 2040 atau 2050.

"Investasi sejak dini akan memperkuat keuangan negara karena bisa mengurangi pengeluaran akibat bencana iklim, menjaga pendapatan pemerintah, serta membuat ekonomi lebih stabil. Hal ini juga membantu negara agar tidak perlu berutang banyak dan menjaga reputasi keuangan negara di mata dunia," tulis laporan itu lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau