Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia

Kompas.com, 21 April 2026, 12:32 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - El Nino Godzilla berisiko mengurangi intensitas hujan dan ketersediaan air bersih secara drastis di Indonesia.

Air yang tersisa di dataran tercemar ketika wilayah diguyur hujan menyempit menjadi kombinasi 'menyeramkan' dari dampak fenomena El Nino berkekuatan ekstrem ini.

Sekretaris Dewan Pengurus The Habibie Center, Nadia Sofia Habibie memperkirakan, situasi di mana beberapa krisis berbeda terjadi bersamaan, saling terkait, serta memperkuat dampak buruk satu sama lain (polikrisis) itu akan semakin seram dan bertambah intens pada 2045 nanti.

Baca juga: Jakarta Terancam El Nino Ekstrem, DPRD DKI Minta Pemprov Bersiap Hadapi Krisis Air dan Pangan

"Bahwa 2045 itu kita akan melihat polikrisis seperti sekarang, tetapi dengan scale yang lebih dahsyat dan ini salah satu contohnya ya, amit-amit akan terjadi tahun ini," ujar Nadia dalam Media Gathering Waste4Change di Jakarta, Senin (21/4/2026).

Berdasarkan hasil pemantauan mutu air semester 1 2025 Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sebanyak 1.482 sungai tercemar atau 70,7 persen dari total jumlahnya di seluruh Indonesia.

Merujuk data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), 16 juta ton air lindi sampah dari tempat pemrosesan akhir (TPA) per tahun merembes ke tanah dan mencemari perairan di sekitarnya. Limbah domestik dan industri yang masih langsung dibuang ke sungai tanpa terlebih dahulu dilakukan pengelolaan secara memadai juga berkontribusi mencemari perairan darat di Indonesia.

Siklus Air

Untuk mencapai ketahanan sumber daya air, kata dia, dibutuhkan lebih dari sekadar inisiatif keberlanjutan dan upaya dekarbonisasi, dengan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).

Menurut Nadia, mitigasi krisis air lebih kompleks ketimbang krisis iklim, yang mana diperlukan upaya untuk memperbaiki siklus air dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Di tingkat rumah tangga, perbaikan siklus air dalam jangka pendek dapat dilakukan dengan menghentikan pembuangan limbah ke saluran air, menghemat air, panen air hujan, serta daur ulang air bekas cucian.

"Kalau mau kalau turun hujan, keluarkan ember, koleksi airnya di situ. Kalau sudah mengalir ke selokan, kita enggak tahu mau ke mana ya. Jadi, itu super simpel dan sudah menjadi satu solusi yang sangat inklusif. Jadi, jangan panik karena kita masih ada hujan jadi kita jangan mubazir dengan hujan yang masih ada sekarang," tutur Nadia.

Baca juga: Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia

Di tingkat pemerintah, perbaikan siklus air dalam jangka pendek bisa dilakukan dengan menegakkan sanksi bagi industri yang mencemari badan air, menuntaskan penutupan TPA bersistem open dumping, serta membuka peta risiko kekeringan kepada publik secara transparan.

Sementara itu, perbaikan siklus air dalam jangka panjang dapat dilakukan dengan merestorasi sungai sebagai salah satu tulang punggung siklus air.

Selain itu, perbaikan tersebut juga memastikan limbah rumah tangga dan industri tidak berakhir di sumber kehidupan kita, menurunkan pengeluaran emisi GRK yang memperparah El Nino, serta menegakkan aturan tata ruang untuk melindungi kawasan resapan air, seperti hutan.

"Sebetulnya polikrisis ini karena dengan adanya lebih banyak emisi, El Nino itu makin sering terjadi. Global warming affects El Nino because of the temperature increase," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
LSM/Figur
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Pemerintah
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
LSM/Figur
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Pemerintah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Swasta
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Pemerintah
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
LSM/Figur
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
LSM/Figur
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
Swasta
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Pemerintah
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Pemerintah
Gasifikasi Dinilai Tak Cocok untuk Sampah Kota, BRIN Soroti Risiko PLTSa di Indonesia
Gasifikasi Dinilai Tak Cocok untuk Sampah Kota, BRIN Soroti Risiko PLTSa di Indonesia
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau