Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030

Kompas.com, 21 April 2026, 17:48 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Vietnam bersiap memperpanjang potongan pajak khusus untuk kendaraan listrik hingga tahun 2030. Langkah ini diambil untuk mempercepat pengurangan emisi transportasi dan membangun industri kendaraan listrik dalam negeri.

Pemerintah akan mengajukan usulan ini kepada parlemen setelah menerima rekomendasi dari Kementerian Keuangan.

Melansir ESG News, Senin (21/4/2026) kebijakan yang dimulai sejak 2022 ini memangkas pajak kendaraan listrik menjadi hanya 1 persen hingga 3 persen dari yang sebelumnya mencapai 11 persen, dan telah terbukti efektif meningkatkan minat masyarakat dalam membeli kendaraan listrik.

Pemerintah kini berencana mempertahankan tarif pajak rendah tersebut untuk kendaraan bertenaga baterai hingga akhir dekade ini, sebelum nantinya dinaikkan secara bertahap mulai tahun 2031.

Dampak kebijakan insentif pajak EV

Dampak dari insentif pajak Vietnam ini terlihat sangat nyata. Penjualan tahunan kendaraan listrik melonjak tajam, dari sekitar 7.000 unit pada tahun 2022 menjadi hampir 175.000 unit pada tahun 2025.

Baca juga: Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi

Pemerintah juga terus mendorong minat masyarakat dengan langkah tambahan, termasuk memperpanjang pembebasan biaya pendaftaran kendaraan listrik hingga awal 2027. Gabungan antara dukungan dana dan aturan ini merupakan strategi pemerintah untuk mengurangi emisi transportasi sekaligus memajukan pertumbuhan industri.

Menurut Kementerian Keuangan, mempertahankan kebijakan pajak rendah sangat penting pada tahap perkembangan pasar EV saat ini.

"Pertama, hal ini akan membantu mempercepat peralihan ke kendaraan bertenaga energi bersih, mengurangi emisi dari kegiatan transportasi, dan meningkatkan kualitas udara, terutama di kota-kota besar, sekaligus membantu mengurangi polusi suara akibat lalu lintas," terang kementerian tersebut.

Kementerian juga menyoroti masalah harga sebagai hambatan utama, karena harga beli kendaraan listrik masih lebih mahal dibandingkan kendaraan biasa.

"Kedua, kebijakan ini akan memudahkan masyarakat dan pelaku usaha untuk memiliki kendaraan rendah emisi, di saat pasar kendaraan listrik dalam negeri masih dalam tahap awal perkembangan dan biaya investasi awal untuk kendaraan listrik umumnya masih lebih tinggi daripada kendaraan berbahan bakar fosil," tambah kementerian keuangan Vietnam.

Selain masalah emisi, kebijakan ini dirancang untuk memperkuat manufaktur dan rantai pasok dalam negeri. Vietnam menjadikan insentif kendaraan listrik sebagai pendorong perkembangan industri untuk menarik investasi di bidang perakitan, komponen, dan teknologi pendukung.

"Kebijakan ini akan mendukung arah investasi dalam pembuatan dan perakitan kendaraan listrik di dalam negeri, mendorong perkembangan industri pendukung, serta secara bertahap membentuk ekosistem teknis yang sejalan dengan transisi teknologi di sektor otomotif," papar kementerian keuangan lagi.

Usulan tersebut mencakup tarif pajak yang berbeda-beda berdasarkan ukuran kendaraan. Mobil listrik penumpang yang lebih kecil tetap dikenakan tarif 3 persen hingga tahun 2030, sementara kendaraan yang lebih besar mendapatkan tarif yang lebih rendah lagi.

Setelah itu, semua kategori kendaraan akan mengalami kenaikan pajak mulai tahun 2031, sehingga memberikan kepastian aturan bagi para investor untuk jangka panjang.

Baca juga: Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?

Berhasil kurangi emisi di Vietnam

Kebijakan pajak Vietnam sudah membuahkan hasil nyata dalam pengurangan emisi. Data pemerintah menunjukkan pemangkasan emisi CO2 terus meningkat setiap tahun sejak kebijakan ini dimulai, mencapai 148.492 ton pada tahun 2025 saja.

Setiap kendaraan listrik diperkirakan dapat mengurangi emisi sekitar 0,85 ton per tahun dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin. Dengan lebih dari 300.000 kendaraan listrik yang terjual antara tahun 2022 hingga 2025, total pengurangan emisi kini diperkirakan mencapai sekitar 256.000 ton per tahun.

Kementerian Keuangan menyatakan bahwa hasil tersebut membuktikan pentingnya kebijakan pajak dalam mencapai target iklim nasional. Kementerian menegaskan bahwa memperpanjang insentif ini sejalan dengan komitmen lingkungan yang lebih luas, serta membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus memperbaiki kualitas udara di perkotaan.

Bagi para pelaku industri, usulan perpanjangan ini memberikan kepastian aturan yang sangat penting. Para produsen dan investor sedang memantau keputusan ini saat mereka memperluas operasional di pasar kendaraan listrik Asia Tenggara yang sedang berkembang.

"Jika disetujui, ini akan menjadi sumber daya yang sangat penting untuk mendorong perusahaan berinvestasi di pasar kendaraan listrik. Pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik yang kuat akan mengurangi jumlah kendaraan berbahan bakar fosil, sehingga memangkas emisi polutan dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih hijau," ungkap Dao Cong Quyet, kepala Subkomite Komunikasi dari Asosiasi Produsen Otomotif Vietnam.

Baca juga: Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi

Aturan tepat sasaran percepat perbaikan iklim

Pendekatan Vietnam menunjukkan bagaimana aturan pajak yang tepat sasaran dapat mempercepat perbaikan iklim sekaligus mengubah industri. Dengan menghubungkan insentif pajak ke rencana jangka panjang, pemerintah mengurangi risiko bagi investor sekaligus mengubah kebiasaan pembeli.

Bagi para pemimpin perusahaan, pesannya sudah jelas: Asia Tenggara sedang berpindah dari tahap uji coba menuju penggunaan kendaraan listrik secara massal, dengan aturan yang semakin mendukung infrastruktur, pembuatan produk, dan permintaan pasar.

Bagi para investor, Vietnam menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dijalankan secara terpadu. Penggabungan antara insentif pajak, strategi industri, dan target emisi menjadi model bagi negara berkembang lainnya yang ingin menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pengurangan emisi.

Di tengah persaingan global dalam rantai pasok kendaraan listrik, perpanjangan insentif pajak ini membuat Vietnam menjadi pemain serius dalam tahap transisi transportasi berikutnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RUU Migas Dinilai Harus Selaras dengan Transisi Energi
RUU Migas Dinilai Harus Selaras dengan Transisi Energi
LSM/Figur
KLH Beberkan Kronologi Kadis LH Jakarta Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara
KLH Beberkan Kronologi Kadis LH Jakarta Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara
Pemerintah
Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB
Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB
Pemerintah
Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun  bagi Perekonomian Global
Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun bagi Perekonomian Global
Pemerintah
Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik
Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik
Pemerintah
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
LSM/Figur
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Pemerintah
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
LSM/Figur
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Pemerintah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Swasta
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Pemerintah
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
LSM/Figur
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
LSM/Figur
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau