KOMPAS.com - Vietnam bersiap memperpanjang potongan pajak khusus untuk kendaraan listrik hingga tahun 2030. Langkah ini diambil untuk mempercepat pengurangan emisi transportasi dan membangun industri kendaraan listrik dalam negeri.
Pemerintah akan mengajukan usulan ini kepada parlemen setelah menerima rekomendasi dari Kementerian Keuangan.
Melansir ESG News, Senin (21/4/2026) kebijakan yang dimulai sejak 2022 ini memangkas pajak kendaraan listrik menjadi hanya 1 persen hingga 3 persen dari yang sebelumnya mencapai 11 persen, dan telah terbukti efektif meningkatkan minat masyarakat dalam membeli kendaraan listrik.
Pemerintah kini berencana mempertahankan tarif pajak rendah tersebut untuk kendaraan bertenaga baterai hingga akhir dekade ini, sebelum nantinya dinaikkan secara bertahap mulai tahun 2031.
Dampak kebijakan insentif pajak EV
Dampak dari insentif pajak Vietnam ini terlihat sangat nyata. Penjualan tahunan kendaraan listrik melonjak tajam, dari sekitar 7.000 unit pada tahun 2022 menjadi hampir 175.000 unit pada tahun 2025.
Baca juga: Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah juga terus mendorong minat masyarakat dengan langkah tambahan, termasuk memperpanjang pembebasan biaya pendaftaran kendaraan listrik hingga awal 2027. Gabungan antara dukungan dana dan aturan ini merupakan strategi pemerintah untuk mengurangi emisi transportasi sekaligus memajukan pertumbuhan industri.
Menurut Kementerian Keuangan, mempertahankan kebijakan pajak rendah sangat penting pada tahap perkembangan pasar EV saat ini.
"Pertama, hal ini akan membantu mempercepat peralihan ke kendaraan bertenaga energi bersih, mengurangi emisi dari kegiatan transportasi, dan meningkatkan kualitas udara, terutama di kota-kota besar, sekaligus membantu mengurangi polusi suara akibat lalu lintas," terang kementerian tersebut.
Kementerian juga menyoroti masalah harga sebagai hambatan utama, karena harga beli kendaraan listrik masih lebih mahal dibandingkan kendaraan biasa.
"Kedua, kebijakan ini akan memudahkan masyarakat dan pelaku usaha untuk memiliki kendaraan rendah emisi, di saat pasar kendaraan listrik dalam negeri masih dalam tahap awal perkembangan dan biaya investasi awal untuk kendaraan listrik umumnya masih lebih tinggi daripada kendaraan berbahan bakar fosil," tambah kementerian keuangan Vietnam.
Selain masalah emisi, kebijakan ini dirancang untuk memperkuat manufaktur dan rantai pasok dalam negeri. Vietnam menjadikan insentif kendaraan listrik sebagai pendorong perkembangan industri untuk menarik investasi di bidang perakitan, komponen, dan teknologi pendukung.
"Kebijakan ini akan mendukung arah investasi dalam pembuatan dan perakitan kendaraan listrik di dalam negeri, mendorong perkembangan industri pendukung, serta secara bertahap membentuk ekosistem teknis yang sejalan dengan transisi teknologi di sektor otomotif," papar kementerian keuangan lagi.
Usulan tersebut mencakup tarif pajak yang berbeda-beda berdasarkan ukuran kendaraan. Mobil listrik penumpang yang lebih kecil tetap dikenakan tarif 3 persen hingga tahun 2030, sementara kendaraan yang lebih besar mendapatkan tarif yang lebih rendah lagi.
Setelah itu, semua kategori kendaraan akan mengalami kenaikan pajak mulai tahun 2031, sehingga memberikan kepastian aturan bagi para investor untuk jangka panjang.
Baca juga: Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?
Kebijakan pajak Vietnam sudah membuahkan hasil nyata dalam pengurangan emisi. Data pemerintah menunjukkan pemangkasan emisi CO2 terus meningkat setiap tahun sejak kebijakan ini dimulai, mencapai 148.492 ton pada tahun 2025 saja.
Setiap kendaraan listrik diperkirakan dapat mengurangi emisi sekitar 0,85 ton per tahun dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin. Dengan lebih dari 300.000 kendaraan listrik yang terjual antara tahun 2022 hingga 2025, total pengurangan emisi kini diperkirakan mencapai sekitar 256.000 ton per tahun.
Kementerian Keuangan menyatakan bahwa hasil tersebut membuktikan pentingnya kebijakan pajak dalam mencapai target iklim nasional. Kementerian menegaskan bahwa memperpanjang insentif ini sejalan dengan komitmen lingkungan yang lebih luas, serta membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus memperbaiki kualitas udara di perkotaan.
Bagi para pelaku industri, usulan perpanjangan ini memberikan kepastian aturan yang sangat penting. Para produsen dan investor sedang memantau keputusan ini saat mereka memperluas operasional di pasar kendaraan listrik Asia Tenggara yang sedang berkembang.
"Jika disetujui, ini akan menjadi sumber daya yang sangat penting untuk mendorong perusahaan berinvestasi di pasar kendaraan listrik. Pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik yang kuat akan mengurangi jumlah kendaraan berbahan bakar fosil, sehingga memangkas emisi polutan dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih hijau," ungkap Dao Cong Quyet, kepala Subkomite Komunikasi dari Asosiasi Produsen Otomotif Vietnam.
Baca juga: Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Aturan tepat sasaran percepat perbaikan iklim
Pendekatan Vietnam menunjukkan bagaimana aturan pajak yang tepat sasaran dapat mempercepat perbaikan iklim sekaligus mengubah industri. Dengan menghubungkan insentif pajak ke rencana jangka panjang, pemerintah mengurangi risiko bagi investor sekaligus mengubah kebiasaan pembeli.
Bagi para pemimpin perusahaan, pesannya sudah jelas: Asia Tenggara sedang berpindah dari tahap uji coba menuju penggunaan kendaraan listrik secara massal, dengan aturan yang semakin mendukung infrastruktur, pembuatan produk, dan permintaan pasar.
Bagi para investor, Vietnam menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dijalankan secara terpadu. Penggabungan antara insentif pajak, strategi industri, dan target emisi menjadi model bagi negara berkembang lainnya yang ingin menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pengurangan emisi.
Di tengah persaingan global dalam rantai pasok kendaraan listrik, perpanjangan insentif pajak ini membuat Vietnam menjadi pemain serius dalam tahap transisi transportasi berikutnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya