KOMPAS.com - Sebuah studi internasional menemukan bahwa meningkatnya permintaan dunia terhadap daging sapi adalah penyebab utama gundulnya hutan hujan Amazon.
Penelitian ini menunjukkan bagaimana konsumsi masyarakat di berbagai negara berhubungan langsung dengan pembukaan lahan di Brasil, yang seringkali terjadi melalui rantai pasok rumit dan sulit diawasi.
Dengan menggabungkan analisis ekonomi dan lingkungan, studi ini mengungkap mengapa upaya pencegahan penebangan hutan saat ini sulit menandingi besarnya permintaan global.
Hasil temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Competition & Change.
Melansir Phys, Rabu (22/4/2026) penelitian ini berfokus pada wilayah Amazon di Brasil, di mana peternakan sapi menjadi penyebab utama penggundulan hutan.
Studi ini menunjukkan bahwa keputusan para peternak dipengaruhi oleh campuran kuat antara permintaan pasar dunia, harga lahan, dan kebijakan pemerintah.
Baca juga: Hutan Hujan Amazon Terancam Mengering akibat Deforestasi
Dalam banyak kasus, membabat hutan justru meningkatkan harga jual tanah. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana penggundulan hutan menghasilkan keuntungan, yang kemudian memicu penggundulan hutan lebih lanjut.
Di saat yang sama, aturan lingkungan dan program keberlanjutan sering kali gagal menjangkau para pelaku di lapangan yang sebenarnya mengambil keputusan atas penggunaan lahan tersebut.
Meskipun Amazon terasa jauh, studi ini pun menekankan bagaimana pola konsumsi kita sehari-hari berhubungan langsung dengan perubahan lingkungan. Daging sapi yang dijual di supermarket dan restoran di seluruh dunia bisa dilacak sumbernya hingga ke keputusan pembukaan lahan di hutan hujan tersebut.
Dampaknya bersifat global. Hutan Amazon berperan penting dalam menyimpan karbon dan mengatur iklim dunia. Ketika hutan dibabat, hal ini memicu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pola cuaca yang lebih ekstrem di seluruh dunia.
Kebanyakan penelitian biasanya hanya melihat sistem ekonomi saja atau sistem lingkungan saja, tetapi jarang melihat keduanya secara bersamaan.
Studi ini menggunakan pendekatan baru yang menghubungkan rantai pasok global dengan ekosistem lokal, serta menunjukkan bagaimana keduanya saling memengaruhi secara langsung.
Hasilnya mengungkap bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar efek samping yang tidak disengaja tetapi memang sudah menjadi bagian dari cara kerja sistem produksi global saat ini.
Masalah utama dari penanganan deforestasi adalah sistem pengawasan yang terpecah-pecah. Pemerintah, perusahaan, dan organisasi lingkungan sering kali bekerja sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik.
Sebagai contoh, perusahaan daging besar mungkin menerapkan aturan ketat untuk pemasok yang berhubungan langsung dengan mereka. Namun, pemasok tidak langsung, tempat di mana banyak penebangan hutan terjadi, sering kali lolos dari pengawasan.
Di saat yang sama, peternak kecil sering kali kesulitan mendapatkan pinjaman modal atau bantuan teknis, sehingga sulit bagi mereka untuk beralih ke cara-cara yang lebih ramah lingkungan.
Studi ini menyoroti beberapa peluang utama untuk mengurangi penggundulan hutan. Beberapa hal yang disarankan peneliti adalah dengan mempertegas penegakan hukum lingkungan, memperbaiki sistem pelacakan di seluruh rantai pasok agar asal-usul produk lebih jelas.
Selain itu juga memberikan dukungan kepada petani atau peternak melalui modal dan pelatihan. Dan hal lain yang bisa dilakukan juga yakni dengan memberikan sistem imbalan bagi yang menjaga alam melalui insentif seperti pembayaran jasa lingkungan.
Baca juga: Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik
Hal yang terpenting, penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak ada solusi tunggal yang bisa bekerja sendiri. Kemajuan sangat bergantung pada koordinasi yang lebih baik antara sistem global dan sistem lokal.
Seiring dengan terus meningkatnya permintaan dunia terhadap daging sapi, tekanan terhadap hutan Amazon diperkirakan akan semakin besar.
Para peneliti menyatakan bahwa temuan mereka memberikan panduan yang lebih jelas bagi pemerintah, pelaku bisnis, dan organisasi yang sedang berupaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan.
Selain itu, studi ini menawarkan cara baru untuk menangani salah satu tantangan lingkungan paling mendesak di dunia.
"Studi kami menunjukkan bahwa penggundulan hutan bukan hanya masalah lokal. Hal ini didorong oleh interaksi antara rantai pasok global dan sistem lingkungan setempat. Dengan menyatukan tata kelola ekonomi dan dampak ekologis, kita bisa lebih tepat menentukan di mana tindakan kita akan memberikan dampak terbesar untuk membuat produksi global menjadi lebih berkelanjutan," ujar penulis utama, John Loomis.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya