Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon

Kompas.com, 24 April 2026, 17:03 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah studi internasional menemukan bahwa meningkatnya permintaan dunia terhadap daging sapi adalah penyebab utama gundulnya hutan hujan Amazon.

Penelitian ini menunjukkan bagaimana konsumsi masyarakat di berbagai negara berhubungan langsung dengan pembukaan lahan di Brasil, yang seringkali terjadi melalui rantai pasok rumit dan sulit diawasi.

Dengan menggabungkan analisis ekonomi dan lingkungan, studi ini mengungkap mengapa upaya pencegahan penebangan hutan saat ini sulit menandingi besarnya permintaan global.

Hasil temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Competition & Change.

Melansir Phys, Rabu (22/4/2026) penelitian ini berfokus pada wilayah Amazon di Brasil, di mana peternakan sapi menjadi penyebab utama penggundulan hutan.

Pola Konsumsi Berhubungan dengan Lingkungan

Studi ini menunjukkan bahwa keputusan para peternak dipengaruhi oleh campuran kuat antara permintaan pasar dunia, harga lahan, dan kebijakan pemerintah.

Baca juga: Hutan Hujan Amazon Terancam Mengering akibat Deforestasi

Dalam banyak kasus, membabat hutan justru meningkatkan harga jual tanah. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana penggundulan hutan menghasilkan keuntungan, yang kemudian memicu penggundulan hutan lebih lanjut.

Di saat yang sama, aturan lingkungan dan program keberlanjutan sering kali gagal menjangkau para pelaku di lapangan yang sebenarnya mengambil keputusan atas penggunaan lahan tersebut.

Meskipun Amazon terasa jauh, studi ini pun menekankan bagaimana pola konsumsi kita sehari-hari berhubungan langsung dengan perubahan lingkungan. Daging sapi yang dijual di supermarket dan restoran di seluruh dunia bisa dilacak sumbernya hingga ke keputusan pembukaan lahan di hutan hujan tersebut.

Dampaknya bersifat global. Hutan Amazon berperan penting dalam menyimpan karbon dan mengatur iklim dunia. Ketika hutan dibabat, hal ini memicu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pola cuaca yang lebih ekstrem di seluruh dunia.

Kebanyakan penelitian biasanya hanya melihat sistem ekonomi saja atau sistem lingkungan saja, tetapi jarang melihat keduanya secara bersamaan.

Studi ini menggunakan pendekatan baru yang menghubungkan rantai pasok global dengan ekosistem lokal, serta menunjukkan bagaimana keduanya saling memengaruhi secara langsung.

Hasilnya mengungkap bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar efek samping yang tidak disengaja tetapi memang sudah menjadi bagian dari cara kerja sistem produksi global saat ini.

Tantangan Menghadapi Deforestasi

Masalah utama dari penanganan deforestasi adalah sistem pengawasan yang terpecah-pecah. Pemerintah, perusahaan, dan organisasi lingkungan sering kali bekerja sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik.

Sebagai contoh, perusahaan daging besar mungkin menerapkan aturan ketat untuk pemasok yang berhubungan langsung dengan mereka. Namun, pemasok tidak langsung, tempat di mana banyak penebangan hutan terjadi, sering kali lolos dari pengawasan.

Di saat yang sama, peternak kecil sering kali kesulitan mendapatkan pinjaman modal atau bantuan teknis, sehingga sulit bagi mereka untuk beralih ke cara-cara yang lebih ramah lingkungan.

Studi ini menyoroti beberapa peluang utama untuk mengurangi penggundulan hutan. Beberapa hal yang disarankan peneliti adalah dengan mempertegas penegakan hukum lingkungan, memperbaiki sistem pelacakan di seluruh rantai pasok agar asal-usul produk lebih jelas.

Selain itu juga memberikan dukungan kepada petani atau peternak melalui modal dan pelatihan. Dan hal lain yang bisa dilakukan juga yakni dengan memberikan sistem imbalan bagi yang menjaga alam melalui insentif seperti pembayaran jasa lingkungan.

Baca juga: Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik

Hal yang terpenting, penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak ada solusi tunggal yang bisa bekerja sendiri. Kemajuan sangat bergantung pada koordinasi yang lebih baik antara sistem global dan sistem lokal.

Seiring dengan terus meningkatnya permintaan dunia terhadap daging sapi, tekanan terhadap hutan Amazon diperkirakan akan semakin besar.

Para peneliti menyatakan bahwa temuan mereka memberikan panduan yang lebih jelas bagi pemerintah, pelaku bisnis, dan organisasi yang sedang berupaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan.

Selain itu, studi ini menawarkan cara baru untuk menangani salah satu tantangan lingkungan paling mendesak di dunia.

"Studi kami menunjukkan bahwa penggundulan hutan bukan hanya masalah lokal. Hal ini didorong oleh interaksi antara rantai pasok global dan sistem lingkungan setempat. Dengan menyatukan tata kelola ekonomi dan dampak ekologis, kita bisa lebih tepat menentukan di mana tindakan kita akan memberikan dampak terbesar untuk membuat produksi global menjadi lebih berkelanjutan," ujar penulis utama, John Loomis.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Godzilla El Nino Berisiko Picu Karhutla, Ancam Iklim dan Keanekaragaman Hayati
Godzilla El Nino Berisiko Picu Karhutla, Ancam Iklim dan Keanekaragaman Hayati
LSM/Figur
Warga Eropa Bayar Listrik 25 Persen Lebih Murah Berkat Pembangkit EBT
Warga Eropa Bayar Listrik 25 Persen Lebih Murah Berkat Pembangkit EBT
Pemerintah
Pendanaan Iklim Bisa Tekan Risiko Konflik di 85 Negara Berkembang
Pendanaan Iklim Bisa Tekan Risiko Konflik di 85 Negara Berkembang
Pemerintah
Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon
Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon
Pemerintah
Citra Satelit Jadi Cara Pantau Deforestasi dan Kepatuhan ESG Secara Akurat
Citra Satelit Jadi Cara Pantau Deforestasi dan Kepatuhan ESG Secara Akurat
Pemerintah
Krisis Iklim Perparah Risiko Longsor, AI Bantu Minimalisir Korban
Krisis Iklim Perparah Risiko Longsor, AI Bantu Minimalisir Korban
LSM/Figur
LSMPA Tak Sekadar Perluas Kawasan, tapi Perkuat Pengelolaan Laut Berbasis Data
LSMPA Tak Sekadar Perluas Kawasan, tapi Perkuat Pengelolaan Laut Berbasis Data
LSM/Figur
Radiasi Radioaktif di Perbatasan Ukraina-Rusia Lampaui Zona Perang
Radiasi Radioaktif di Perbatasan Ukraina-Rusia Lampaui Zona Perang
LSM/Figur
India Dilanda Gelombang Panas, Suhunya Capai 40 Derajat
India Dilanda Gelombang Panas, Suhunya Capai 40 Derajat
Pemerintah
Data Jadi Aset Strategis, Inovasi Bisnis Perlu Keamanan Siber
Data Jadi Aset Strategis, Inovasi Bisnis Perlu Keamanan Siber
Swasta
Target PLTS 100 GW Dinilai Bikin RI Lebih Tahan Guncangan Krisis Energi
Target PLTS 100 GW Dinilai Bikin RI Lebih Tahan Guncangan Krisis Energi
LSM/Figur
Pekerja Keamanan Siber Makin Dibutuhkan, Swasta dan Pemerintah Perlu Berinvestasi
Pekerja Keamanan Siber Makin Dibutuhkan, Swasta dan Pemerintah Perlu Berinvestasi
Pemerintah
EV Lebih Efisien dari WFH, Pemerintah Berpotensi Hemat Rp 12 Triliun
EV Lebih Efisien dari WFH, Pemerintah Berpotensi Hemat Rp 12 Triliun
LSM/Figur
BSSN: Serangan Siber Naik 7 Kali Lipat pada 2025 dan Berlanjut di Awal 2026
BSSN: Serangan Siber Naik 7 Kali Lipat pada 2025 dan Berlanjut di Awal 2026
Pemerintah
Indef: Cukai Emisi Kendaraan Berpotensi Hasilkan Rp 40 Triliun Per Tahun
Indef: Cukai Emisi Kendaraan Berpotensi Hasilkan Rp 40 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau