Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Godzilla El Nino Berisiko Picu Karhutla, Ancam Iklim dan Keanekaragaman Hayati

Kompas.com, 24 April 2026, 19:39 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia berpotensi menghadapi Gozilla El Nino kuat pada 2026, yang berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fenomena tersebut diperkirakan bakal diperkuat Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berpotensi membuat musim kemarau lebih panjang dan lebih kering.

CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari), Karmele Llano Sanchez mengatakan di Ketapang, Kalimantan Barat hujan dilaporkan sudah tidak turun sejak Februari 2026.

Sementara, karhutla dengan luasan cukup besar telah terjadi termasuk di kawasan restorasi Yiari, Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat.

Menurut dia, lanskap hutan tropis di Kalimantan, kombinasi El Niño, perubahan tata guna lahan, degradasi hutan, dan krisis iklim menciptakan efek yang berbahaya.

Baca juga: 65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI

“Hutan yang telah dibuka, dikonversi, atau terdampak aktivitas ekstraktif menjadi jauh lebih rentan terbakar. Risiko meningkat berkali lipat pada kawasan yang telah kehilangan tutupan alami dan pada bentang alam gambut yang mengering," kata Karmele dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).

Dia menjelaskan, efek karhutla tidak berhenti pada hilangnya vegetasi tetapi juga memperburuk pemanasan global dan berpotensi menciptakan krisis yang lebih ekstrem.

Hal ini yang terjadi pada Februari dan Maret lalu di hutan Desa Pematang Gadung. Ketika kondisi sekitar kering dan banyak bahan bakar, banyak orang yang membakar lahan untuk keperluan pertanian dan perkebunan, menyebabkan menjalar dengan cepat. 

“Kami melihat tanda-tanda bahaya sudah terlihat jauh sebelum puncak musim kemarau datang dan ini sangat mengkhawatirkan. Kondisi sudah jauh lebih kering dari biasanya, padahal musim kemarau belum benar-benar mencapai puncaknya," jelas Karmele.

Ia menambahkan, saat hujan berhenti lebih lama maka vegetasi mengering, sumber air menyusut, dan bentang alam yang telah terdegradasi menjadi sangat mudah terbakar. Karhutla juga berdampak pada biodiversitas, iklim global, dan kesehatan manusia.

Baca juga: Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat

“Saat hutan terbakar, kita kehilangan habitat dan mendorong satwa liar semakin dekat ke ambang kepunahan. Orangutan, beruang madu, macan dahan, hingga berbagai spesies lain kehilangan ruang hidup, sumber pakan, dan perlindungan," papar Karmele.

"Di saat yang sama, asap kebakaran mengancam kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” imbuh dia.

Pengalaman masa lalu menunjukkan besarnya risiko jika ancaman ini tidak ditangani sejak dini. Peristiwa El Niño 2015–2016, salah satu yang terkuat dalam sejarah, memicu lonjakan kebakaran hutan dalam skala besar, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, peristiwa tersebut menyebabkan krisis kabut asap yang berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Pada 2015, Yiari harus menyelamatkan sedikitnya 44 orangutan akibat kebakaran hutan dan lahan.

“Dalam kondisi ekstrem, tidak semua kebakaran bisa dicegah sepenuhnya. Namun dengan persiapan yang matang, pemantauan dini, pelibatan masyarakat, serta respons cepat di titik rawan, kita masih bisa memperlambat penyebaran api dan meminimalkan kerusakan,” kata dia.

Sejauh ini, Yiari mulai patroli rutin, pemantauan titik rawan, hingga peningkatan kesiapsiagaan kebakaran. Masyarakat juga dilibatkan untuk mengantisipasi karhutla di area konservasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau