KOMPAS.com - Indonesia berpotensi menghadapi Gozilla El Nino kuat pada 2026, yang berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fenomena tersebut diperkirakan bakal diperkuat Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berpotensi membuat musim kemarau lebih panjang dan lebih kering.
CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari), Karmele Llano Sanchez mengatakan di Ketapang, Kalimantan Barat hujan dilaporkan sudah tidak turun sejak Februari 2026.
Sementara, karhutla dengan luasan cukup besar telah terjadi termasuk di kawasan restorasi Yiari, Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat.
Menurut dia, lanskap hutan tropis di Kalimantan, kombinasi El Niño, perubahan tata guna lahan, degradasi hutan, dan krisis iklim menciptakan efek yang berbahaya.
Baca juga: 65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
“Hutan yang telah dibuka, dikonversi, atau terdampak aktivitas ekstraktif menjadi jauh lebih rentan terbakar. Risiko meningkat berkali lipat pada kawasan yang telah kehilangan tutupan alami dan pada bentang alam gambut yang mengering," kata Karmele dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Dia menjelaskan, efek karhutla tidak berhenti pada hilangnya vegetasi tetapi juga memperburuk pemanasan global dan berpotensi menciptakan krisis yang lebih ekstrem.
Hal ini yang terjadi pada Februari dan Maret lalu di hutan Desa Pematang Gadung. Ketika kondisi sekitar kering dan banyak bahan bakar, banyak orang yang membakar lahan untuk keperluan pertanian dan perkebunan, menyebabkan menjalar dengan cepat.
“Kami melihat tanda-tanda bahaya sudah terlihat jauh sebelum puncak musim kemarau datang dan ini sangat mengkhawatirkan. Kondisi sudah jauh lebih kering dari biasanya, padahal musim kemarau belum benar-benar mencapai puncaknya," jelas Karmele.
Ia menambahkan, saat hujan berhenti lebih lama maka vegetasi mengering, sumber air menyusut, dan bentang alam yang telah terdegradasi menjadi sangat mudah terbakar. Karhutla juga berdampak pada biodiversitas, iklim global, dan kesehatan manusia.
Baca juga: Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
“Saat hutan terbakar, kita kehilangan habitat dan mendorong satwa liar semakin dekat ke ambang kepunahan. Orangutan, beruang madu, macan dahan, hingga berbagai spesies lain kehilangan ruang hidup, sumber pakan, dan perlindungan," papar Karmele.
"Di saat yang sama, asap kebakaran mengancam kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” imbuh dia.
Pengalaman masa lalu menunjukkan besarnya risiko jika ancaman ini tidak ditangani sejak dini. Peristiwa El Niño 2015–2016, salah satu yang terkuat dalam sejarah, memicu lonjakan kebakaran hutan dalam skala besar, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, peristiwa tersebut menyebabkan krisis kabut asap yang berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Pada 2015, Yiari harus menyelamatkan sedikitnya 44 orangutan akibat kebakaran hutan dan lahan.
“Dalam kondisi ekstrem, tidak semua kebakaran bisa dicegah sepenuhnya. Namun dengan persiapan yang matang, pemantauan dini, pelibatan masyarakat, serta respons cepat di titik rawan, kita masih bisa memperlambat penyebaran api dan meminimalkan kerusakan,” kata dia.
Sejauh ini, Yiari mulai patroli rutin, pemantauan titik rawan, hingga peningkatan kesiapsiagaan kebakaran. Masyarakat juga dilibatkan untuk mengantisipasi karhutla di area konservasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya