Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peringatan PBB: Panas Ekstrem Picu Krisis Pangan Global

Kompas.com, 25 April 2026, 14:58 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Laporan baru dari PBB memperingatkan bahwa panas ekstrem sedang mendorong sistem pangan dan pertanian dunia ke titik kritis.

Laporan tersebut menyoroti bagaimana gelombang panas yaitu suhu tinggi yang berlangsung lama baik siang maupun malam memengaruhi hasil panen, hewan ternak, perikanan, dan hutan, sekaligus membahayakan kesehatan para pekerja di sektor pertanian.

Menurut laporan tersebut, kenaikan suhu dan gelombang panas yang makin sering terjadi mengancam mata pencaharian lebih dari satu miliar orang dan mengubah cara makanan diproduksi di seluruh dunia.

Pasalnya, melansir laman resmi United Nations, Rabu (22/4/2026) laporan bersama dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) ini menemukan bahwa panas ekstrem telah menyebabkan hilangnya 500 miliar jam kerja setiap tahunnya.

Baca juga: Krisis Iklim dan Konflik Global Mengancam, Saatnya Indonesia Andalkan Pangan Lokal

Dampak tersebut diperkirakan akan semakin parah seiring terus meningkatnya suhu bumi.

"Panas ekstrem semakin menentukan bagaimana sistem pangan dan pertanian kita bekerja," ujar Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo.

Ia juga memperingatkan bahwa panas ini menjadi faktor risiko tambahan yang memperparah kelemahan yang sudah ada dalam sistem pertanian kita.

Faktor pelipat ganda risiko

"Panas ekstrem adalah 'faktor pelipat ganda risiko yang besar'," ujar Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu.

Maksudnya adalah panas bukan hanya satu masalah tunggal melainkan membuat masalah lain seperti ekonomi dan ketersediaan pangan jadi jauh lebih sulit.

Dampak panas ekstrem sudah mulai terlihat jelas di berbagai sistem pertanian.

Untuk banyak tanaman utama, hasil panen mulai menurun saat suhu di atas 30 derajat C. Suhu panas ini membuat struktur tanaman melemah dan produktivitasnya berkurang.

Hewan ternak bahkan mengalami stres, terutama babi dan unggas yang tidak bisa mendinginkan tubuhnya sendiri dengan baik. Akibatnya, pertumbuhan mereka terhambat, produksi susu menurun, dan dalam kasus yang parah, bisa menyebabkan gagal organ.

Di laut, kenaikan suhu menurunkan kadar oksigen sehingga ikan-ikan tertekan. Tercatat 91 persen wilayah lautan global mengalami setidaknya satu kali gelombang panas laut pada tahun 2024. Hutan juga terdampak karena panas ekstrem mengganggu proses fotosintesis dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Panas ekstrem juga memperparah risiko iklim lainnya. Suhu yang sangat tinggi dapat memicu kekeringan, memperburuk kelangkaan air, meningkatkan risiko kebakaran hutan, dan mempercepat penyebaran hama serta penyakit.

Fakta di lapangan

Laporan ini pun menyebutnya sebagai "efek berantai" yang dampaknya menjalar ke seluruh ekosistem.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau