KOMPAS.com-Laporan baru dari PBB memperingatkan bahwa panas ekstrem sedang mendorong sistem pangan dan pertanian dunia ke titik kritis.
Laporan tersebut menyoroti bagaimana gelombang panas yaitu suhu tinggi yang berlangsung lama baik siang maupun malam memengaruhi hasil panen, hewan ternak, perikanan, dan hutan, sekaligus membahayakan kesehatan para pekerja di sektor pertanian.
Menurut laporan tersebut, kenaikan suhu dan gelombang panas yang makin sering terjadi mengancam mata pencaharian lebih dari satu miliar orang dan mengubah cara makanan diproduksi di seluruh dunia.
Pasalnya, melansir laman resmi United Nations, Rabu (22/4/2026) laporan bersama dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) ini menemukan bahwa panas ekstrem telah menyebabkan hilangnya 500 miliar jam kerja setiap tahunnya.
Baca juga: Krisis Iklim dan Konflik Global Mengancam, Saatnya Indonesia Andalkan Pangan Lokal
Dampak tersebut diperkirakan akan semakin parah seiring terus meningkatnya suhu bumi.
"Panas ekstrem semakin menentukan bagaimana sistem pangan dan pertanian kita bekerja," ujar Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo.
Ia juga memperingatkan bahwa panas ini menjadi faktor risiko tambahan yang memperparah kelemahan yang sudah ada dalam sistem pertanian kita.
"Panas ekstrem adalah 'faktor pelipat ganda risiko yang besar'," ujar Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu.
Maksudnya adalah panas bukan hanya satu masalah tunggal melainkan membuat masalah lain seperti ekonomi dan ketersediaan pangan jadi jauh lebih sulit.
Dampak panas ekstrem sudah mulai terlihat jelas di berbagai sistem pertanian.
Untuk banyak tanaman utama, hasil panen mulai menurun saat suhu di atas 30 derajat C. Suhu panas ini membuat struktur tanaman melemah dan produktivitasnya berkurang.
Hewan ternak bahkan mengalami stres, terutama babi dan unggas yang tidak bisa mendinginkan tubuhnya sendiri dengan baik. Akibatnya, pertumbuhan mereka terhambat, produksi susu menurun, dan dalam kasus yang parah, bisa menyebabkan gagal organ.
Di laut, kenaikan suhu menurunkan kadar oksigen sehingga ikan-ikan tertekan. Tercatat 91 persen wilayah lautan global mengalami setidaknya satu kali gelombang panas laut pada tahun 2024. Hutan juga terdampak karena panas ekstrem mengganggu proses fotosintesis dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Panas ekstrem juga memperparah risiko iklim lainnya. Suhu yang sangat tinggi dapat memicu kekeringan, memperburuk kelangkaan air, meningkatkan risiko kebakaran hutan, dan mempercepat penyebaran hama serta penyakit.
Laporan ini pun menyebutnya sebagai "efek berantai" yang dampaknya menjalar ke seluruh ekosistem.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya