Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah

Kompas.com, 5 Juni 2026, 15:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konflik geopolitik di Timur Tengah mengerek harga bahan bakar minyak (BBM) dan pupuk, menyingkap kerentanan negara-negara Asia Tenggara terhadap krisis yang saling tumpang tindih.

El Nino Godzilla akan meningkatkan risiko pangan dan inflasi di Asia Tenggara, memperparah dampak konflik geopolitik di Timur Tengah, yang telah mendorong kenaikan biaya input pertanian dan transportasi.

"‎Cuaca yang sangat kering merupakan 'kejutan lain' bagi negara-negara Asia Tenggara. El Nino super, atau sangat parah, pada dasarnya adalah 'kisah inflasi pangan' karena kekeringan berkepanjangan dan curah hujan yang tidak menentu dapat mengurangi pasokan pangan dan menaikkan harga," ujar direktur Segi Enam Advisors di Singapura, Khor Yu Leng, dilansir dari China Daily, Jumat (5/6/2026).‎

Mengancam ketahanan pangan

‎Kurangnya pasokan beras menjadi isu yang sangat sensitif bagi negara-negara Asia Tenggara karena makanan pokok ini merupakan komoditas yang perdagangannya tipis. Terlebih lagi, sedikit gangguan dalam pasokan dapat memicu pengendalian ekspor, penimbunan, dan pembelian panik (panic buying) yang mendorong harga jauh melebihi kerugian panen sebenarnya.

"Harga pangan seringkali naik lebih cepat daripada kerugian panen karena pasar bereaksi bukan hanya terhadap kekurangan, tetapi juga terhadap rasa takut," tutur Khor.

Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memperkirakan ada kemungkinan 82 persen El Nino akan muncul antara Mei dan Juli 2026, serta berlanjut hingga Februari 2027.

Laporan terbaru NOAA mengungkapkan, suhu permukaan laut khatulistiwa yang mendekati atau di atas rata-rata telah bertahan di seluruh Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur sejak pertengahan April 2026.

Menurut profesor madya meteorologi dan klimatologi di Universitas Malaya, Sheeba Chenoli, El Nino Godzilla kemungkinan akan mengurangi produksi tanaman pangan dan memicu kebakaran hutan di beberapa bagian Asia Tenggara.

El Nino Godzilla mengurangi hasil pertanian, mengubah pola cuaca lokal, dan semakin meningkatkan suhu global yang sudah meningkat akibat krisis iklim.

Kemunculan super El Nino harus dilihat sebagai peringatan untuk mempercepat adaptasi iklim di bidang pertanian di seluruh Asia Tenggara,” ucapnya.
‎ ‎

‎Asisten Profesor Adjung di Departemen Studi Asia Tenggara di Universitas Nasional Singapura, Serina Abdul Rahman menilai, El Nino Godzila akan berdampak pada ketahanan pangan dalam jangka panjang.

El Nino Godzila memiliki efek domino, di mana tanaman tidak dapat tumbuh seperti biasa, dengan benih dan bibit tidak bisa dijamin untuk musim tanam berikutnya.

Selain itu, kenaikan suhu laut yang disebabkan oleh El Nino Godzilla akan mengubah pola migrasi ikan, yang dapat mengurangi hasil tangkapan ikan.

"Nelayan dan petani berada di bagian bawah piramida ekonomi. Makanan mereka sendiri akan lebih mahal karena mereka perlu menjual hasil panen mereka untuk mendapatkan uang tunai guna membiayai pengeluaran lainnya. Mereka harus menderita kemiskinan pangan meskipun mereka menyediakan makanan untuk orang lain," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau