Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dua Sisi Piala Dunia, Cetak Keuntungan Sekaligus Picu Lonjakan Emisi Karbon

Kompas.com, 8 Juni 2026, 15:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Ahli lingkungan mengungkapkan Piala Dunia yang akan diselenggarakan musim panas ini akan menjadi turnamen terbesar dan menghasilkan banyak keuntungan dalam sejarah.

Namun di sisi lain, pagelaran ini menurut mereka juga bakal memecahkan rekor sebagai acara olahraga yang paling mengotori bumi.

"Berbeda dengan Olimpiade, di mana jejak karbon mereka terus berkurang dalam beberapa pelaksanaan terakhir, kondisi pada Piala Dunia pria FIFA justru terbalik total," kata David Gogishvili, seorang ahli geografi di Universitas Lausanne (Unil), dikutip dari Phys, Jumat (22/5/2026).

Jejak karbon terbesar dalam sejarah

Piala Dunia kali ini akan diperbanyak menjadi 48 tim untuk pertama kalinya. Turnamen ini juga untuk pertama kalinya bakal dimainkan di tiga negara sekaligus, yaitu Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat.

Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar

Acara ini memang akan menghasilkan keuntungan uang yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kendati demikian riset dari Universitas Lausanne (Unil) menunjukkan bahwa turnamen ini bakal menghasilkan jejak karbon terbesar dalam sejarah olahraga internasional.

Hitungan Unil menunjukkan polusi gas karbon (CO2) yang dihasilkan berkisar antara 5 hingga 9 juta ton.

Angka ini sangat besar jika dibandingkan dengan Olimpiade Paris 2024 yang hanya menghasilkan sekitar 1,75 juta ton.

Angka polusi itu juga jauh melampaui perkiraan 2,17 juta ton karbon yang dihasilkan di Piala Dunia Rusia 2018. Angka itu juga mengalahkan 3,17 juta ton karbon dari Piala Dunia Qatar 2022 yang sempat dikritik karena stadion-stadion raksasanya dibangun terburu-buru dan menggunakan pendingin ruangan.

Sementara itu, seluruh 16 stadion yang dipakai untuk Piala Dunia musim panas ini sudah berdiri sejak wilayah ini terpilih menjadi tuan rumah. Stadion-stadion tersebut mulai dari yang "paling kecil" di Toronto dengan 45.000 kursi, hingga yang terbesar di Arlington, Texas, yang mampu menampung 94.000 penonton.

Sumber emisi Piala Dunia

Studi menemukan sumber emisi Piala Dunia, salah satunya berasal dari jarak acara yang berjauhan. Misalnya saja jarak antara kota Miami (di ujung tenggara Amerika) dan Vancouver (di ujung barat Kanada) sangatlah jauh, yaitu lebih dari 4.500 kilometer.

Hal ini akan memperparah sumber polusi karbon terbesar dalam acara-acara internasional, yaitu penerbangan pesawat yang digunakan oleh tim sepak bola, panitia, media, dan terutama lebih dari lima juta suporter yang ditargetkan oleh FIFA.

Sebagai contoh, tim dari negara Bosnia dan Herzegovina harus terbang sejauh 5.040 kilometer hanya untuk memainkan babak penyisihan grup di tiga kota yang berbeda, yaitu Toronto, lalu ke Los Angeles, dan terakhir di Seattle.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang sebelumnya menggebu-gebu menyatakan tekadnya untuk melawan perubahan iklim di Konferensi COP26 di Glasgow, telah berjanji untuk mengukur, mengurangi, dan menebus polusi yang dihasilkan dari acara Piala Dunia.

Namun, setelah ditegur pada Juni 2023 oleh Komisi Keadilan Swiss (CSL) karena terbukti berbohong saat mempromosikan bahwa Piala Dunia Qatar 2022 bebas polusi iklim, FIFA kini memilih diam dan tidak berani memberikan jaminan apa pun untuk Piala Dunia kali ini.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
LSM/Figur
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
LSM/Figur
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Swasta
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
LSM/Figur
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
LSM/Figur
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Pemerintah
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Pemerintah
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
LSM/Figur
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
LSM/Figur
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan 'Sanctuary Park'
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan "Sanctuary Park"
Swasta
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
LSM/Figur
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Pemerintah
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
Pemerintah
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau