KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan lautan di dunia saat ini sedang berada di bawah tekanan yang parah dan semakin cepat akibat aktivitas manusia, di mana kecepatan kenaikan permukaan air laut melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu.
Melansir Guardian, Senin (8/6/2026) laporan tersebut menyatakan bahwa faktor-faktor perusak yang semakin parah ini termasuk pencemaran limbah dan penangkapan ikan secara besar-besaran oleh industri yang efeknya terus menumpuk.
Selain itu, laporan menemukan pula faktor-faktor utama yang merusak lingkungan laut meliputi pertumbuhan jumlah penduduk manusia, kemajuan teknologi, perubahan sistem aturan hukum, serta ketidakstabilan sosial, ekonomi, dan politik dunia (geopolitik).
Sebagai contoh, jumlah penduduk dunia meningkat dari 7,7 miliar jiwa pada tahun 2017 menjadi 8,2 miliar jiwa pada akhir tahun 2024. Lebih dari sepertiga penduduk bumi tinggal di wilayah yang jaraknya kurang dari 100 kilometer dari garis pantai, dan 11 persen di antaranya tinggal di daratan yang tingginya kurang dari 10 meter di atas permukaan laut.
Akibatnya, terjadi kepunahan makhluk hidup laut secara luas dan membuat sistem ekosistem samudra berada dalam kondisi yang sangat kritis.
Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal
Laporan Penilaian Samudra Dunia ketiga dari PBB ini merangkum hasil kerja dari hampir 600 ilmuwan yang berasal dari 86 negara, yang meneliti kesehatan lautan dunia dari tahun 2021 hingga 2025.
Laporan sebelumnya yang mencakup data hingga tahun 2018, sudah menemukan adanya kerusakan yang terus-menerus pada lingkungan laut.
Lima tahun kemudian, para ilmuwan kini lebih memahami tentang dampak buruk yang saling menumpuk dari aktivitas manusia terhadap lautan. Laporan terbaru ini menunjukkan betapa besarnya kerusakan yang telah terjadi hanya dalam beberapa tahun terakhir ini saja.
Temuan utama para ilmuwan tersebut meliputi permukaan air laut terus naik dengan kecepatan yang semakin tinggi, dari yang sebelumnya naik 2 mm per tahun sebelum tahun 2015, kini melonjak menjadi naik 4,3 mm per tahun pada tahun 2023.
Selain itu, 16 persen dari total peningkatan panas lautan global sejak tahun 1955 ternyata terjadi baru-baru ini saja, yaitu setelah tahun 2018. Peningkatan suhu panas yang paling tinggi juga terpantau terjadi di Samudra Atlantik serta bagian selatan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Masih banyak hal yang belum diketahui tentang lautan di mana baru 27 persen dari total dasar laut yang berhasil dipetakan hingga tahun 2025, sehingga ekosistem laut dalam masih sangat sulit untuk dipahami.
Baca juga: Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik
"Kita tidak bisa terus-menerus memperlakukan lautan seolah-olah kekayaannya tidak ada batasnya. Kerja sama global yang mendesak sangat dibutuhkan untuk melindungi ekosistem laut," kata António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB.
"Kita harus membangun hubungan baru dengan lautan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, dipayungi oleh hukum internasional, dan dibangun di atas rasa tanggung jawab bersama antarnegara, antarsektor industri, dan antargenerasi," paparnya lagi.
Laporan tersebut menyatakan bahwa telah ada kemajuan besar dalam upaya perlindungan lautan, termasuk adanya perjanjian laut lepas (high seas treaty) yang bersejarah.
Perjanjian ini mulai berlaku resmi pada tahun 2026 ini dan menetapkan aturan internasional untuk melindungi dua pertiga bagian lautan dunia yang berada di luar wilayah kekuasaan negara mana pun.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya