JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah pada Sabtu (13/6/2026) sampai Minggu (14/6/2026).
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, banjir terjadi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan Sabtu lalu. Peristiwa ini dipicu hujan deras yang menyebabkan debit air sungai meluap dan melimpas ke permukiman.
"Wilayah terdampak yaitu Kelurahan Salubattang dan Pentojangan yang berada di Kecamatan Telluwanua. Hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palopo mencatat sebanyak 10 unit rumah dan satu hektare lahan perkebunan terendam dengan tinggi muka air mencapai 30 sentimeter," kata Abdul dalam keterangannya, Senin (15/5/2026).
Baca juga: BMKG: 28 Persen Wilayah Indonesia Masuk Kemarau
Sementara itu, angin kencang menerjang Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau pada hari yang sama. Abdul mengungkapkan, sebanyak 80 rumah warga rusak, dengan rincian 14 unit rusak berat dan 66 unit lainnya rusak ringan.
Angin kencang turut merusak dua sekolah. Di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, angin kencang juga terjadi pada Jumat (12/6/2026).
"Sebanyak 12 unit rumah warga yang berada di Desa Parbuluan IV, Kecamatan Parbuluan, mengalami kerusakan setelah diterjang angin kencang. Merespons hal ini, BPBD Kabupaten Dairi melakukan pendataan dan monitoring di lokasi terdampak," tutur Abdul.
Di sisi lain, karhutla dilaporkan terjadi di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Lahan seluas 20 hektare yang berada di Desa Eimau dan Eilode kebakaran sejak Kamis (11/6/2026).
BPBD Kabupaten Sabu Raijua dan tim gabungan menyampaikan, karhutla diduga berasal dari sisa pembakaran sampah yang terbawa angin sehingga menyebar dan memicu kebakaran. Api berhasil dipadamkan dan situasi telah kondusif sejak Sabtu.
Baca juga: Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
"Merespons kejadian bencana yang terjadi, BNPB mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Saat terjadi hujan deras dalam durasi lebih dari satu jam, masyarakat diharapkan berlindung di lokasi yang aman dan memperhatikan wilayah sekitar apabila terdapat tanda-tanda alam yang berpotensi menjadi bencana turunan, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor," beber Abdul.
Ia mengimbau warga tetap bertahan di dalam bangunan seperti rumah atau gedung lainnya jika terjadi angin kencang. Bila berada di luar rumah, masyarakat diminta mencari tempat berlindung yang aman dan menjauhi pohon serta baliho atau bangunan semi permanen lainnya.
Selain itu, BNPB meminta masyarakat di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan tidak membakar sampah pada lahan yang kering serta memastikan sampah yang dibakar telah benar-benar padam..
"Bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait agar melakukan penguatan personel dan peralatan serta rutin memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat sesuai dengan potensi bencana yang ada di wilayah masing-masing," papar Abdul.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya