KOMPAS.com - Keberadaan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai yang berkembang sangat pesat ternyata memengaruhi ekosistem di bawah laut.
Penelitian dari Wageningen University & Research di Belanda menunjukkan bahwa proyek transisi energi bersih bisa membawa dampak buruk bagi hiu dan pari karena mereka sangat peka terhadap medan elektromagnetik.
Melansir Eco Business, Kamis (11/6/2026) proyek riset selama enam tahun bernama "Elasmopower" mengamati bagaimana gelombang elektromagnetik dari kabel listrik bawah laut di area turbin angin memengaruhi hiu dan pari yang hidup di dasar laut.
Sebagai informasi, hewan-hewan tersebut sangat bergantung pada medan listrik dan magnet alami untuk melakukan aktivitas penting, seperti mencari arah jalan, mendeteksi keberadaan mangsa, memilih tempat tinggal, dan melakukan perjalanan jauh, terutama di kondisi air laut yang gelap atau keruh.
Hasil penelitian dari proyek Elasmopower ini telah diterbitkan dalam empat jurnal ilmiah.
Hiu dan pari memiliki organ sensor khusus bernama ampullae of Lorenzini.
Baca juga: Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
Saluran sensor berisi gel yang berada di sekitar kepala dan moncong mereka ini mampu mendeteksi gelombang elektromagnetik yang sangat lemah sekalipun, baik dari mangsa, pemangsa, pergerakan air, hingga medan magnet bumi.
Erwin Winter, ilmuwan dari Wageningen mengatakan sistem sensor ini menjadi kunci utama bagi mereka untuk berburu dan menentukan arah jalan. Itulah mengapa kelompok hiu dan pari ini menjadi satwa yang paling penting dipelajari untuk melihat dampak paparan gelombang listrik dari proyek energi lepas pantai.
Saat mempresentasikan ringkasan riset Elasmopower di konferensi Sharks International 2026 di Colombo, Sri Lanka, Mei lalu, Winter mencatat bahwa kabel bawah laut bertegangan tinggi yang mengalirkan listrik dari turbin angin lepas pantai menghasilkan gelombang elektromagnetik yang berada dalam jangkauan radar indra hewan-hewan ini.
Hal ini memicu pertanyaan besar tentang kemungkinan adanya gangguan pada sensor alami mereka seiring dengan terus meluasnya proyek listrik di tengah laut.
Untuk menyelidiki masalah ini, para peneliti menggabungkan pengukuran langsung di laut dalam jangka panjang dengan eksperimen di dalam laboratorium.
Mereka menguji dua spesies satwa asal Eropa yaitu hiu kucing berbintik kecil (small-spotted catshark) dan pari duri (thornback ray) yang diambil dari akuarium dengan paparan tingkat gelombang elektromagnetik yang mirip dengan kondisi di dekat kabel listrik laut yang sedang menyala.
Pengujian ini dilakukan pada berbagai usia, mulai dari embrio, usia muda, hingga dewasa, untuk melihat perbedaan dampaknya di setiap tahap kehidupan.
Annemiek Hermans, kepala peneliti sekaligus kandidat doktor (S3) di Wageningen menyebut secara keseluruhan, reaksi yang ditunjukkan berbeda-beda tergantung pada jenis spesies dan tingkat usia mereka, di mana beberapa kelompok terlihat jauh lebih sensitif dibandingkan yang lain.
Hermans mengatakan bahwa temuan ini mungkin juga berlaku bagi makhluk laut penghuni dasar laut lainnya, seperti ikan sebelah yang tinggal di sekitar area kabel bawah laut dan bisa terkena dampak dari perubahan lingkungan yang serupa.
Dalam eksperimen, hiu kucing dewasa tidak menunjukkan tanda-tanda sangat tertarik atau ketakutan saat terkena paparan arus listrik bolak-balik (AC).
Namun, perubahan kecil terjadi ketika mereka terkena arus listrik searah (DC). Perubahan itu berupa berkurangnya keaktifan mereka, serta pergerakan yang menjadi 25 persen lebih cepat berpindah-pindah dibandingkan saat diuji dengan arus AC atau tanpa listrik sama sekali.
Hal ini menunjukkan adanya dampak perilaku yang lebih halus. Jika hiu terus-menerus mengurangi keaktifan mereka setiap kali berpapasan dengan kabel, hal itu bisa memotong waktu yang seharusnya mereka pakai untuk aktivitas penting lainnya, seperti mencari makan atau mencari pasangan.
Masih banyak rahasia yang belum diketahui tentang bagaimana gelombang elektromagnetik (EMF) memengaruhi hubungan berburu antara pemangsa dan mangsa, jalur migrasi, serta cara berkembang biak hewan-hewan ini. Selain itu, belum diketahui juga bagaimana dampak gabungan dari berbagai tekanan di lingkungan laut lepas.
Namun beberapa cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah menanam kabel listrik lebih dalam di bawah dasar laut, mengikat kabel menjadi satu kelompok untuk memperkecil pancaran gelombang listriknya, dan mengalihkan jalur kabel agar menjauh dari tempat tinggal hewan yang sensitif.
Baca juga: Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Para ilmuwan dari Wageningen juga menegaskan bahwa pembangunan turbin angin lepas pantai dan pelestarian laut sebenarnya tidak harus saling bermusuhan, asalkan pemahaman tentang alam sekitar sudah dipelajari sejak awal demi kelestarian jangka panjang.
“Seiring dengan meluasnya proyek energi bersih lepas pantai di seluruh dunia, mempelajari dampak-dampak ini bisa membantu memastikan bahwa peralihan ke energi ramah lingkungan tidak secara tidak sengaja merusak hewan laut dan ekosistem yang sensitif,” kata Hermans.
Andrew Gill dari Institut Ilmu Kelautan Australia, yang menjabat sebagai ketua kelompok pengarah proyek Elasmopower, mengingatkan bahwa semua kabel listrik bawah laut pasti menghasilkan gelombang elektromagnetik. Kabel-kabel ini termasuk kabel penghubung antar-pulau atau negara dan kabel jaringan listrik utama.
Gill menambahkan bahwa mempelajari gelombang listrik di dalam laut memang sangat rumit karena kondisi alam yang saling memengaruhi, keadaan di lapangan yang penuh tantangan, serta adanya batasan aturan hukum. Hal inilah yang membuat penelitian jangka panjang menjadi sangat sulit dilakukan, tetapi sekaligus sangat penting untuk terus dilanjutkan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya