Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Energi Bersih: Kabel Turbin Angin Lepas Pantai Ganggu Hiu dan Ikan Pari

Kompas.com, 15 Juni 2026, 17:15 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Keberadaan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai yang berkembang sangat pesat ternyata memengaruhi ekosistem di bawah laut.

Penelitian dari Wageningen University & Research di Belanda menunjukkan bahwa proyek transisi energi bersih bisa membawa dampak buruk bagi hiu dan pari karena mereka sangat peka terhadap medan elektromagnetik.

Melansir Eco Business, Kamis (11/6/2026) proyek riset selama enam tahun bernama "Elasmopower" mengamati bagaimana gelombang elektromagnetik dari kabel listrik bawah laut di area turbin angin memengaruhi hiu dan pari yang hidup di dasar laut.

Sebagai informasi, hewan-hewan tersebut sangat bergantung pada medan listrik dan magnet alami untuk melakukan aktivitas penting, seperti mencari arah jalan, mendeteksi keberadaan mangsa, memilih tempat tinggal, dan melakukan perjalanan jauh, terutama di kondisi air laut yang gelap atau keruh.

Hasil penelitian dari proyek Elasmopower ini telah diterbitkan dalam empat jurnal ilmiah.

Pengaruh gelombang elektromagnetik pada ikan

Hiu dan pari memiliki organ sensor khusus bernama ampullae of Lorenzini.

Baca juga: Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional

Saluran sensor berisi gel yang berada di sekitar kepala dan moncong mereka ini mampu mendeteksi gelombang elektromagnetik yang sangat lemah sekalipun, baik dari mangsa, pemangsa, pergerakan air, hingga medan magnet bumi.

Erwin Winter, ilmuwan dari Wageningen mengatakan sistem sensor ini menjadi kunci utama bagi mereka untuk berburu dan menentukan arah jalan. Itulah mengapa kelompok hiu dan pari ini menjadi satwa yang paling penting dipelajari untuk melihat dampak paparan gelombang listrik dari proyek energi lepas pantai.

Saat mempresentasikan ringkasan riset Elasmopower di konferensi Sharks International 2026 di Colombo, Sri Lanka, Mei lalu, Winter mencatat bahwa kabel bawah laut bertegangan tinggi yang mengalirkan listrik dari turbin angin lepas pantai menghasilkan gelombang elektromagnetik yang berada dalam jangkauan radar indra hewan-hewan ini.

Hal ini memicu pertanyaan besar tentang kemungkinan adanya gangguan pada sensor alami mereka seiring dengan terus meluasnya proyek listrik di tengah laut.

Untuk menyelidiki masalah ini, para peneliti menggabungkan pengukuran langsung di laut dalam jangka panjang dengan eksperimen di dalam laboratorium.

Mereka menguji dua spesies satwa asal Eropa yaitu hiu kucing berbintik kecil (small-spotted catshark) dan pari duri (thornback ray) yang diambil dari akuarium dengan paparan tingkat gelombang elektromagnetik yang mirip dengan kondisi di dekat kabel listrik laut yang sedang menyala.

Pengujian ini dilakukan pada berbagai usia, mulai dari embrio, usia muda, hingga dewasa, untuk melihat perbedaan dampaknya di setiap tahap kehidupan.

Annemiek Hermans, kepala peneliti sekaligus kandidat doktor (S3) di Wageningen menyebut secara keseluruhan, reaksi yang ditunjukkan berbeda-beda tergantung pada jenis spesies dan tingkat usia mereka, di mana beberapa kelompok terlihat jauh lebih sensitif dibandingkan yang lain.

Hermans mengatakan bahwa temuan ini mungkin juga berlaku bagi makhluk laut penghuni dasar laut lainnya, seperti ikan sebelah yang tinggal di sekitar area kabel bawah laut dan bisa terkena dampak dari perubahan lingkungan yang serupa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau