KOMPAS.com - Tim peneliti menunjukkan bahwa sampah plastik merugikan nelayan di seluruh dunia.
Kerugian itu akibat sampah plastik yang akhirnya menyebabkan jaringan yang robek, baling-baling kapal yang tersangkut sampah hingga waktu melaut yang hilang karena kapal mereka terpaksa berhenti beroperasi.
Melansir Earth, Minggu (14/6/2026) tim yang dipimpin oleh ilmuwan kelautan Duc Nguyen dari Heriot-Watt University menyimpulkan setelah melakukan studi terhadap hampir 200 nelayan tradisional di sepanjang pesisir Vietnam.
Wawancara ini dilakukan di tiga wilayah muara sungai, lalu hasilnya dicocokkan kembali dengan kelompok nelayan lain serta pemeriksaan langsung terhadap sampah yang benar-benar tersangkut di jaring mereka.
Setelah dihitung semuanya, sampah plastik di laut membuat satu kapal merugi sekitar 3.400 dolar AS setiap tahunnya.
Jumlah itu menghabiskan sekitar 12 persen dari pendapatan kotor tahunan sebuah kapal, dan hampir seperempat dari uang bersih yang bisa dibawa pulang oleh pemiliknya. Bagi keluarga nelayan yang penghasilannya pas-pasan, kehilangan uang sebanyak itu akibat sampah terapung sangatlah menyakitkan.
Baca juga: Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
Sebagian besar uang yang hilang itu bukan karena alat-alat yang rusak. Lebih dari separuh kerugian justru berasal dari kondisi kapal yang terpaksa berhenti melaut. waktu yang seharusnya dipakai untuk menangkap ikan, malah habis terbuang hanya untuk membersihkan sampah plastik yang tersangkut di jaring.
Kerugian besar lainnya datang dari jumlah tangkapan ikan yang berkurang drastis akibat sampah menyumbat atau merobek lubang jaring. Sisanya adalah kerugian untuk membayar tenaga orang yang membersihkan plastik dari hasil tangkapan, biaya memperbaiki alat pancing, serta memperbaiki baling-baling kapal yang macet melilit sampah.
Sebelum adanya penelitian ini, perkiraan-perkiraan lama hanya menghitung kerusakan yang terlihat mata saja dan melewatkan kerugian yang jauh lebih besar yaitu hilangnya kesempatan untuk menjala ikan.
Sebagai informasi, seorang nelayan bercerita untuk memenuhi jatah tangkapan harian, mereka hanya butuh melempar jaring 6 sampai 7 kali saja. Sekarang, mereka harus melempar jaring sampai 20 hingga 25 kali.
Tak hanya mengurangi pendapatan, nelayan juga berhadapan dengan risiko tinggi saat harus membersihkan sampah yang tersangkut di kapal mereka.
Tali dan jaring bekas yang hanyut di laut sering kali melilit baling-baling kapal. Proses memotong jaring agar baling-baling terbebas bisa berujung fatal atau mematikan. Di antara para nelayan yang diwawancarai, hampir separuhnya pernah berjuang melepaskan baling-baling yang tersangkut sampah, rata-rata terjadi beberapa kali dalam setahun.
Beberapa kejadian menyebabkan tangan terluka parah atau teriris. Kejadian lainnya sampai membuat nelayan kehilangan anggota tubuh, atau kru kapal terseret masuk ke dalam pusaran pisau baling-baling saat mereka menjangkau ke bawah air untuk membersihkan sampah. Kasus ini memang jarang terjadi, tetapi benar-benar nyata.
Kecelakaan seperti ini memang tidak terjadi setiap hari, tetapi hal ini membuktikan bahwa sampah terapung di laut membawa risiko bahaya fisik bagi keselamatan nyawa, di luar kerugian uang yang sudah mereka tanggung.
Para nelayan ternyata memiliki solusi sendiri untuk mengatasi masalah ini dan dengan biayanya sangat murah.
Kebanyakan nelayan mau membawa kembali sampah plastik ke daratan daripada membuangnya lagi ke laut jika ada pihak yang mau membeli sampah tersebut dengan harga murah.
Untuk membayar satu kapal agar mau membawa pulang semua sampah plastik yang mereka jaring, biayanya sekitar 60 dolar AS per tahun.
Baca juga: KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Saat ini, kebanyakan nelayan langsung melempar kembali sampah yang tersangkut di jaring ke dalam laut. Mereka merasa usaha mengumpulkan sampah itu sia-sia selama orang-orang lain masih terus membuang sampah sembarangan.
Lebih lanjut, sebelum adanya penelitian ini, kerugian akibat polusi plastik bagi keluarga nelayan sebagian besar hanyalah tebakan yang disusun dari hitungan rumus komputer. Sekarang, sudah ada angka pasti yang nyata berdasarkan cerita langsung dari para nelayan sendiri, dan kerusakan yang terjadi ternyata jauh lebih parah daripada sekadar biaya perbaikan alat yang selama ini dihitung orang-orang.
Beban kerugian itu jatuh kepada orang-orang yang sebenarnya paling tidak mampu untuk menanggungnya seperti nelayan tradisional yang menyumbang sebagian besar hasil tangkapan ikan dunia dan memberi makan miliaran orang di bumi. Oleh karena itu, berkurangnya pendapatan mereka secara diam-diam ini dampaknya akan meluas jauh melampaui wilayah muara sungai itu saja.
Para penulis penelitian ini memaparkan langkah nyata berikutnya yang bisa dilakukan yaitu memetakan komunitas nelayan paling miskin yang tinggal di sekitar sungai-sungai paling penuh sampah, lalu mengirimkan dana bantuan pembersihan ke sana terlebih dahulu. Jika sasarannya tepat, program-program ini bisa meringankan beban hidup di tempat yang dampaknya paling parah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya