Editor
KOMPAS.com – Upaya mewujudkan pendidikan yang inklusif membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, hingga keluarga. Semangat tersebut menjadi benang merah dalam workshop "Neurodiversity as a Strength: Strengthening Collaboration in Inclusive Education" yang diselenggarakan MagnaMinds di Manado, Sulawesi Utara.
Kegiatan tersebut diikuti 109 peserta dari 31 institusi, yang terdiri atas perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, guru, kepala sekolah, psikolog, terapis, pengelola sekolah inklusi, mahasiswa, orang tua, hingga pemerhati pendidikan.
Wali Kota Manado Andrei Angouw yang membuka kegiatan tersebut menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia menjadi fondasi utama kemajuan bangsa.
Baca juga: Wujudkan Pembangunan Inklusif dari Desa, Rumah Senja Hadirkan Living Lab SDGs
"Kekayaan sebuah negara adalah sumber daya manusianya. Ini adalah pekerjaan rumah kita semua," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (17/6/2026).
Meningkatnya partisipasi berbagai institusi dalam workshop tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap pentingnya membangun sistem pendidikan yang mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan belajar setiap anak.
Tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, kegiatan tersebut juga menjadi forum kolaborasi bagi pendidik, orang tua, psikolog, terapis, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendiskusikan praktik-praktik terbaik dalam mendukung anak dengan kebutuhan perkembangan yang beragam.
Psikolog sekaligus praktisi Agents of Behavior Change (ABC), Anita Chandra, MPsi., Psikolog, SAP, mengatakan bahwa meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan perkembangan anak membuat pendidikan inklusif semakin relevan.
Baca juga: Indonesia Bergabung dalam Kampanye Global 50-in-5 untuk Bangun Masa Depan Digital yang Inklusif
"Ketika kita berbicara mengenai inklusivitas di masa depan, jumlah anak dengan kebutuhan khusus terus meningkat. Karena itu, inklusivitas tidak bisa diabaikan dan harus dipersiapkan dengan baik," ujarnya.
Menurut Anita, pemahaman mengenai neurodiversitas membantu masyarakat melihat perbedaan cara berpikir, belajar, dan berinteraksi bukan sebagai kekurangan, melainkan bagian dari keberagaman manusia yang perlu dihargai.
Sementara itu, psikolog klinis Margaretha T Kuera, MPsi., Psikolog, menilai bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berbicara tentang akses pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Baca juga: Kisah Nadin di Purworejo, Siswi Kristen yang Bersihkan Mushala demi Wisata Inklusif
"Keberagaman adalah fakta, keadilan adalah pilihan, inklusi adalah aksi, dan hasilnya adalah perasaan diterima sebagai bagian dari masyarakat," ujarnya
Diskusi yang berlangsung selama workshop menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata.
Peserta menilai perlunya kolaborasi yang lebih erat antara sekolah inklusi, pusat terapi, psikolog, tenaga kesehatan, orang tua, hingga pemerintah agar dukungan yang diterima anak berlangsung secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.
Selain itu, deteksi dan intervensi dini juga dinilai menjadi faktor penting. Semakin cepat kebutuhan perkembangan anak dikenali, semakin besar peluang untuk memberikan pendampingan yang tepat sehingga mereka dapat berkembang sesuai potensinya.
Baca juga: Jalan Terjal Anak ADHD Mendapatkan Pendidikan yang Inklusif
Ketua Sekolah Inklusi Amadeus Lini Mondigir mengatakan bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan kekuatan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya