Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara

Kompas.com, 17 Juni 2026, 20:17 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com – Upaya mewujudkan pendidikan yang inklusif membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, hingga keluarga. Semangat tersebut menjadi benang merah dalam workshop "Neurodiversity as a Strength: Strengthening Collaboration in Inclusive Education" yang diselenggarakan MagnaMinds di Manado, Sulawesi Utara.

Kegiatan tersebut diikuti 109 peserta dari 31 institusi, yang terdiri atas perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, guru, kepala sekolah, psikolog, terapis, pengelola sekolah inklusi, mahasiswa, orang tua, hingga pemerhati pendidikan.

Wali Kota Manado Andrei Angouw yang membuka kegiatan tersebut menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia menjadi fondasi utama kemajuan bangsa.

Baca juga: Wujudkan Pembangunan Inklusif dari Desa, Rumah Senja Hadirkan Living Lab SDGs

"Kekayaan sebuah negara adalah sumber daya manusianya. Ini adalah pekerjaan rumah kita semua," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (17/6/2026).

Meningkatnya partisipasi berbagai institusi dalam workshop tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap pentingnya membangun sistem pendidikan yang mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan belajar setiap anak.

Tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, kegiatan tersebut juga menjadi forum kolaborasi bagi pendidik, orang tua, psikolog, terapis, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendiskusikan praktik-praktik terbaik dalam mendukung anak dengan kebutuhan perkembangan yang beragam.

Neurodiversitas sebagai bagian dari keberagaman

Psikolog sekaligus praktisi Agents of Behavior Change (ABC), Anita Chandra, MPsi., Psikolog, SAP, mengatakan bahwa meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan perkembangan anak membuat pendidikan inklusif semakin relevan.

Baca juga: Indonesia Bergabung dalam Kampanye Global 50-in-5 untuk Bangun Masa Depan Digital yang Inklusif

"Ketika kita berbicara mengenai inklusivitas di masa depan, jumlah anak dengan kebutuhan khusus terus meningkat. Karena itu, inklusivitas tidak bisa diabaikan dan harus dipersiapkan dengan baik," ujarnya.

Menurut Anita, pemahaman mengenai neurodiversitas membantu masyarakat melihat perbedaan cara berpikir, belajar, dan berinteraksi bukan sebagai kekurangan, melainkan bagian dari keberagaman manusia yang perlu dihargai.

Sementara itu, psikolog klinis Margaretha T Kuera, MPsi., Psikolog, menilai bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berbicara tentang akses pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

Baca juga: Kisah Nadin di Purworejo, Siswi Kristen yang Bersihkan Mushala demi Wisata Inklusif

"Keberagaman adalah fakta, keadilan adalah pilihan, inklusi adalah aksi, dan hasilnya adalah perasaan diterima sebagai bagian dari masyarakat," ujarnya

Kolaborasi menjadi kunci

Diskusi yang berlangsung selama workshop menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata.

Peserta menilai perlunya kolaborasi yang lebih erat antara sekolah inklusi, pusat terapi, psikolog, tenaga kesehatan, orang tua, hingga pemerintah agar dukungan yang diterima anak berlangsung secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.

Selain itu, deteksi dan intervensi dini juga dinilai menjadi faktor penting. Semakin cepat kebutuhan perkembangan anak dikenali, semakin besar peluang untuk memberikan pendampingan yang tepat sehingga mereka dapat berkembang sesuai potensinya.

Baca juga: Jalan Terjal Anak ADHD Mendapatkan Pendidikan yang Inklusif

Ketua Sekolah Inklusi Amadeus Lini Mondigir mengatakan bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan kekuatan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel.

"Anak-anak itu berbeda, tetapi berbeda bukan berarti kurang. Mereka memiliki cara bertumbuh dan belajar yang berbeda. Sekolah inklusi harus mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut melalui program pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak," katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan Merry Christian Wuisan, perwakilan dari Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara.

Ia berharap, banyak sekolah mampu menerima dan memberikan layanan pendidikan yang setara bagi anak berkebutuhan khusus melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat.

Bagi peserta workshop, kegiatan tersebut tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membuka ruang jejaring lintas profesi untuk memperkuat pendidikan inklusif di Sulawesi Utara.

Baca juga: Wajah Baru Perpustakaan Kota Padang, Menuju Simpul Peradaban Digital dan Inklusif

Mahasiswi Universitas Kristen Indonesia Tomohon Fatihah Masloman mengatakan bahwa workshop tersebut memberinya perspektif baru mengenai pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mendukung pendidikan inklusif.

Ia berharap semakin banyak anak muda berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang menerima keberagaman.

Sebagai informasi, MagnaMinds merupakan komunitas yang didirikan sekitar satu tahun lalu oleh Ryan Winston Angouw sebagai wadah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai neurodiversitas dan pendidikan inklusif.

Menurut Ryan, workshop dirancang agar peserta memperoleh pemahaman praktis mengenai pendekatan inklusif, strategi komunikasi, hingga adaptasi lingkungan yang mendukung individu neurodivergen, termasuk penyandang autisme, ADHD, dan disleksia.

Baca juga: Dukung Pembelajaran Anak Disabilitas, Wenny Yosselina Kembangkan Buku Visual Inklusif

"Kami berharap setiap peserta pulang dengan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana menerapkan inklusivitas di lingkungan masing-masing. Guru, terapis, psikolog, mahasiswa, dan orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan mendukung bagi individu neurodivergen," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, MagnaMinds juga meluncurkan buku Panduan Praktis Neurodiversitas karya Ryan Winston Angouw yang dibagikan secara gratis kepada peserta.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak sekaligus Konsultan Saraf Anak, Prof Dr dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K), Subsp.Neuro(K), dalam kata pengantar buku tersebut menyampaikan apresiasi atas kepedulian Ryan terhadap anak-anak dengan autisme dan berbagai gangguan perkembangan lainnya.

Menurutnya, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari individu yang memiliki kepedulian untuk belajar, mendengarkan, dan mengambil peran dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
LSM/Figur
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat 'Hitung Cepat'
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"
Pemerintah
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Pemerintah
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Pemerintah
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Pemerintah
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Pemerintah
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Swasta
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
Pemerintah
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Pemerintah
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Pemerintah
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Pemerintah
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Pemerintah
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
Pemerintah
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau