Editor
"Anak-anak itu berbeda, tetapi berbeda bukan berarti kurang. Mereka memiliki cara bertumbuh dan belajar yang berbeda. Sekolah inklusi harus mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut melalui program pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak," katanya.
Pandangan serupa juga disampaikan Merry Christian Wuisan, perwakilan dari Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara.
Ia berharap, banyak sekolah mampu menerima dan memberikan layanan pendidikan yang setara bagi anak berkebutuhan khusus melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat.
Bagi peserta workshop, kegiatan tersebut tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membuka ruang jejaring lintas profesi untuk memperkuat pendidikan inklusif di Sulawesi Utara.
Baca juga: Wajah Baru Perpustakaan Kota Padang, Menuju Simpul Peradaban Digital dan Inklusif
Mahasiswi Universitas Kristen Indonesia Tomohon Fatihah Masloman mengatakan bahwa workshop tersebut memberinya perspektif baru mengenai pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mendukung pendidikan inklusif.
Ia berharap semakin banyak anak muda berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang menerima keberagaman.
Sebagai informasi, MagnaMinds merupakan komunitas yang didirikan sekitar satu tahun lalu oleh Ryan Winston Angouw sebagai wadah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai neurodiversitas dan pendidikan inklusif.
Menurut Ryan, workshop dirancang agar peserta memperoleh pemahaman praktis mengenai pendekatan inklusif, strategi komunikasi, hingga adaptasi lingkungan yang mendukung individu neurodivergen, termasuk penyandang autisme, ADHD, dan disleksia.
Baca juga: Dukung Pembelajaran Anak Disabilitas, Wenny Yosselina Kembangkan Buku Visual Inklusif
"Kami berharap setiap peserta pulang dengan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana menerapkan inklusivitas di lingkungan masing-masing. Guru, terapis, psikolog, mahasiswa, dan orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan mendukung bagi individu neurodivergen," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, MagnaMinds juga meluncurkan buku Panduan Praktis Neurodiversitas karya Ryan Winston Angouw yang dibagikan secara gratis kepada peserta.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak sekaligus Konsultan Saraf Anak, Prof Dr dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K), Subsp.Neuro(K), dalam kata pengantar buku tersebut menyampaikan apresiasi atas kepedulian Ryan terhadap anak-anak dengan autisme dan berbagai gangguan perkembangan lainnya.
Menurutnya, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari individu yang memiliki kepedulian untuk belajar, mendengarkan, dan mengambil peran dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya