Risilience sedang bekerja sama dengan berbagai perusahaan untuk membuat rencana darurat guna membantu mereka menghadapi kemungkinan macetnya jalur pasokan barang.
"Perusahaan-perusahaan bisa melakukan hal-hal seperti menambah stok simpanan barang mereka untuk berjaga-jaga, mencari sumber pemasok yang berbeda, atau mendaftarkan asuransi gagal panen," kata Dr. Coburn.
Baca juga: El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
Ia menambahkan, para petani kecil juga bisa dibantu dengan cara diberikan bibit tanaman yang tahan kekeringan, pelatihan bertani, serta bantuan untuk mencari penghasilan tambahan di luar bertani asalkan dana untuk melakukan semua ini memang tersedia.
"Kita memasuki tahun El Niño di saat sistem pangan kita sebenarnya sudah sekarat akibat krisis iklim. Orang-orang yang selama ini bekerja keras memberi makan dan menggerakkan ekonomi dunia justru menjadi pihak yang merasakan dampak paling buruk dari krisis iklim ini, padahal mereka adalah orang yang paling sedikit menyumbang polusi penyebabnya," kata Marie Rumsby, direktur advokasi di Fairtrade Foundation.
"Bukan tugas para petani untuk membereskan krisis yang bukan ciptaan mereka. Mengharapkan kesadaran sukarela dari perusahaan saja sudah tidak lagi cukup. Kita butuh pemerintah untuk bertindak dengan membuat aturan hukum yang tegas dan jelas untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan, melindungi manusia serta bumi, dan memastikan bahwa biaya kerugian akibat perubahan iklim tidak dibebankan kepada mereka yang paling miskin," tambahnya.
Selain itu cara paling jelas untuk mengatasi masalah ini adalah dengan berupaya mencapai target net zero untuk melawan krisis iklim dan mencegah kondisi menjadi semakin parah dan berbahaya pada masa-masa El Niño di masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya