"Dampak dari El Nino akan terasa di berbagai wilayah hingga akhir tahun ini dan seterusnya, termasuk sepanjang tahun 2027," kata Silva.
WMO menyatakan bahwa mereka sedang meningkatkan bantuan sistem peringatan dini untuk membantu persiapan negara-negara, terutama di sektor-sektor yang sangat terpengaruh oleh cuaca seperti pertanian dan kesehatan.
"Langkah-langkah tersebut sangat penting untuk menyelamatkan nyawa serta mengurangi dampak buruk pada perekonomian dan masyarakat kita," kata Kepala WMO, Celeste Saulo.
"Kondisi El Nino sudah mulai terjadi sekarang dan diperkirakan akan menguat dengan cepat menjadi fenomena yang besar. Hal ini akan meningkatkan peluang terjadinya kekeringan dan hujan lebat, serta risiko gelombang panas di daratan maupun gelombang panas di dalam laut di banyak wilayah," terangnya lagi.
Baca juga: Bumi yang Lebih Panas, El Nino yang Lebih Mahal
Laporan terbaru ini memprediksi pula kemungkinan yang sangat besar bahwa suhu udara akan menjadi lebih panas dari biasanya di hampir seluruh daratan bumi, mencakup hampir semua wilayah yang ditinggali manusia di luar kawasan kutub yang dingin.
Selain itu, perkiraan curah hujan dari bulan Juli hingga September sangat sejalan dengan sifat El Nino yang makin menguat.
Wilayah seperti Amerika Serikat bagian barat daya diperkirakan akan mengalami hujan yang lebih lebat dari biasanya, sementara wilayah anak benua India dan sebagian besar Australia diperkirakan akan mengalami curah hujan yang jauh lebih sedikit.
Meski begitu, WMO menyatakan bahwa belum ada bukti kuat bahwa perubahan iklim menjadi penyebab makin sering atau makin kuatnya fenomena El Nino ini terjadi.
Namun, mereka meyakini bahwa perubahan iklim bisa memperparah dampak dari El Nino. Hal ini terjadi karena air laut dan udara yang makin panas menyediakan lebih banyak energi dan uap air, yang menjadi "bahan bakar" bagi terjadinya bencana cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan hujan lebat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya