Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 8 Juli 2026, 12:04 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Selain mengembangkan pelatihan kerja, pemerintah daerah juga memprioritaskan pembangunan jalan, fasilitas pengelolaan sampah, serta dukungan bagi nelayan. Sejumlah program tersebut turut didukung oleh perusahaan yang beroperasi di kawasan industri.

BSM lebih terstruktur dan berkelanjutan

Harriz menilai, penguatan BSM tidak cukup dilakukan melalui peningkatan dana atau program tanggung jawab sosial perusahaan semata.

Menurutnya, manfaat sektor tambang seharusnya tidak berhenti sebagai penerimaan ekonomi jangka pendek, tetapi harus menjadi modal untuk memperkuat kapasitas daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Benefit sharing perlu diarahkan untuk membangun fondasi ekonomi daerah, tidak sekadar menjadi mekanisme kompensasi jangka pendek. Manfaatnya harus digunakan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, dan menjaga kualitas lingkungan agar tetap dirasakan setelah aktivitas pertambangan berakhir,” ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memiliki tata kelola BSM yang mampu menghubungkan berbagai instrumen, mulai dari mekanisme fiskal, program PPM, pemberdayaan ekonomi lokal, hingga perlindungan lingkungan dalam satu kerangka kebijakan yang saling terintegrasi.

Dalam pelaksanaan PPM, misalnya, perlu diselaraskan dengan kebutuhan pembangunan daerah dan masyarakat sekitar tambang, tidak sekadar memenuhi kewajiban perusahaan.

Harriz juga mendorong penguatan instrumen fiskal, termasuk pengembangan skema Dana Abadi Sumber Daya Alam Daerah.

“Dengan mekanisme tersebut, sebagian manfaat ekonomi dari sektor tambang dapat disisihkan untuk membiayai pembangunan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemulihan lingkungan, hingga pengembangan ekonomi daerah setelah aktivitas pertambangan berakhir,” imbuhnya.

Baca juga: Permintaan Mineral Kritis Naik, Industri Nikel RI Didorong Lebih Berkelanjutan

Senada, Prof Ahlis merekomendasikan lima langkah agar BSM lebih berkelanjutan. Pertama, melakukan formalisasi regulasi dan sinkronisasi fiskal melalui optimalisasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) serta redistribusi anggaran ke desa.

Kedua, meningkatkan partisipasi dan transparansi dalam penyelenggaraan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP), khususnya program PPM di wilayah lingkar tambang, melalui perencanaan partisipatif.

“Selain itu, perlu diperkuat mekanisme audit dan pengawasan. Program PPM disarankan dikelola melalui rekening desa agar penggunaannya dapat dipantau oleh kementerian terkait dan diaudit oleh inspektorat,” jelasnya.

Ketiga, memperkuat pemberdayaan ekonomi lokal dan keterlibatan pelaku usaha daerah dalam rantai pasok industri. Keempat, menerapkan afirmasi tenaga kerja lokal serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia agar masyarakat setempat dapat memperoleh manfaat lebih besar dari keberadaan industri.

Kelima, memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat serta memberikan kompensasi atas dampak yang ditimbulkan oleh kawasan industri logam dasar nikel.

“Kelima langkah tersebut berada dalam satu payung besar, yakni benefit sharing mechanism atau mekanisme berbagi manfaat. Pendekatan ini perlu mulai diantisipasi sebagai bagian dari strategi keluar (exit strategy) jangka panjang,” jelasnya.

Menuju hilirisasi yang lebih inklusif

Transformasi Morowali menunjukkan bahwa hilirisasi nikel mampu menciptakan nilai tambah yang besar bagi daerah. Pertumbuhan ekonomi yang pesat, peningkatan kapasitas fiskal, pembukaan kesempatan kerja, hingga perbaikan sejumlah indikator sosial menjadi bukti bahwa manfaat industri mulai dirasakan.

Namun, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari besarnya investasi ataupun tingginya PDRB. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh manfaat tersebut dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama mereka yang hidup di sekitar kawasan industri dan kelompok yang masih tertinggal dari arus pertumbuhan.

Dengan begitu, kekayaan yang dihasilkan dari nikel dapat diwariskan menjadi kesejahteraan yang bertahan lebih lama daripada umur tambang itu sendiri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pohon Lontar, Gula Sabu, dan Kearifan Lokal di Bumi Gersang
Pohon Lontar, Gula Sabu, dan Kearifan Lokal di Bumi Gersang
LSM/Figur
 Di Balik Lonjakan PDRB Morowali, Seberapa Merata Manfaat Hilirisasi Nikel?
Di Balik Lonjakan PDRB Morowali, Seberapa Merata Manfaat Hilirisasi Nikel?
LSM/Figur
APNI: Penerapan ESG Industri Nikel Harus Dimulai dari Tambang
APNI: Penerapan ESG Industri Nikel Harus Dimulai dari Tambang
Swasta
Picu Lonjakan Kematian Penambang Kobalt di Kongo, Riset Ungkap Alasan Moral Mempercepat Transisi ke EV
Picu Lonjakan Kematian Penambang Kobalt di Kongo, Riset Ungkap Alasan Moral Mempercepat Transisi ke EV
LSM/Figur
PLN Mengaku 'Blackout' Sumatera Sebabkan Rugi Rp 80 Miliar
PLN Mengaku "Blackout" Sumatera Sebabkan Rugi Rp 80 Miliar
BUMN
PLN: Cuaca Ekstrem Bukan Satu-satunya Penyebab Pemadaman Listrik
PLN: Cuaca Ekstrem Bukan Satu-satunya Penyebab Pemadaman Listrik
BUMN
Pakar Soroti Wacana Penggabungan RUU Tata Kelola Iklim dengan RUU PPLH
Pakar Soroti Wacana Penggabungan RUU Tata Kelola Iklim dengan RUU PPLH
LSM/Figur
PBB Wanti-Wanti El Nino Tahun Ini Bakal Lebih Kuat dan Berbahaya
PBB Wanti-Wanti El Nino Tahun Ini Bakal Lebih Kuat dan Berbahaya
Pemerintah
Gelombang Panas Bikin Penjualan AC di Inggris Meroket 320 Persen
Gelombang Panas Bikin Penjualan AC di Inggris Meroket 320 Persen
Pemerintah
Bank Dunia: Sembilan Negara Dominasi 83 Persen Total Gas Flaring Dunia
Bank Dunia: Sembilan Negara Dominasi 83 Persen Total Gas Flaring Dunia
Pemerintah
Beri Makan Sapi Biji-bijian, Tekan Emisi Metana Hingga 56 Persen
Beri Makan Sapi Biji-bijian, Tekan Emisi Metana Hingga 56 Persen
Pemerintah
Tambang Berkelanjutan Tak Cukup Komitmen, Audit Independen Jadi Ujian Sesungguhnya
Tambang Berkelanjutan Tak Cukup Komitmen, Audit Independen Jadi Ujian Sesungguhnya
Pemerintah
Krisis Iklim Picu Kerugian Besar akibat Hilangnya Kesempatan Karang Bertumbuh
Krisis Iklim Picu Kerugian Besar akibat Hilangnya Kesempatan Karang Bertumbuh
Pemerintah
Morowali Tanggung Beban Hilirisasi Nikel, DPRD Soroti Ketimpangan Manfaat
Morowali Tanggung Beban Hilirisasi Nikel, DPRD Soroti Ketimpangan Manfaat
Pemerintah
Hutan Luksemburg Mengkhawatirkan, Pohon-pohon 'Sekarat' Akibat Krisis Iklim-Spesies Invasif
Hutan Luksemburg Mengkhawatirkan, Pohon-pohon 'Sekarat' Akibat Krisis Iklim-Spesies Invasif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau