Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 8 Juli 2026, 12:04 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

TPAK perempuan Morowali juga terendah di provinsi tersebut. Pada 2025, angkanya hanya 36,95 persen. Sebagai perbandingan, TPAK perempuan Kabupaten Buol dengan pertumbuhan ekonomi terendah di Sulawesi Tengah tercatat 56,55 persen.

TPAK yang rendah tersebut mengindikasikan bahwa masih terdapat kelompok penduduk usia kerja yang belum sepenuhnya terhubung dengan peluang ekonomi yang tercipta dari ekspansi hilirisasi nikel.

Kondisi ini terlihat lebih jelas pada perempuan yang tingkat partisipasinya jauh tertinggal ketimbang daerah lain.

Oleh karena itu, Ahlis mendorong pemerintah mendesain kebijakan pembangunan yang memastikan manfaat ekonomi hilirisasi dapat dinikmati secara lebih merata.

“Pembangunan perlu memastikan manfaat ekonomi dapat dinikmati secara lebih merata, terutama oleh masyarakat yang mengalami perubahan mata pencaharian ataupun menanggung berbagai konsekuensi sosial akibat berkembangnya kawasan industri,” ujarnya.

Baca juga: Morowali Tanggung Beban Hilirisasi Nikel, DPRD Soroti Ketimpangan Manfaat

Menata ulang benefit sharing mechanism

Analis Sosial Ekonomi Article 33 Indonesia Harriz Jati menilai, pemerataan manfaat sektor mineral, seperti hilirisasi nikel, dapat dilakukan melalui pendekatan benefit sharing mechanism (BSM).

BSM sendiri merupakan kerangka untuk memastikan manfaat pengelolaan sumber daya alam (SDA) tidak berhenti pada perusahaan ataupun pemerintah pusat, tetapi turut dirasakan oleh daerah penghasil dan masyarakat terdampak.

“Jadi, bukan hanya soal membagi uang, tetapi bagaimana kekayaan dari nikel bisa diubah menjadi pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Harriz dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (1/7/2026).

BSM mencakup empat elemen utama, yakni manfaat melalui aktivitas ekonomi lokal, mekanisme fiskal, seperti dana bagi hasil (DBH), manfaat langsung kepada masyarakat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM), serta perlindungan lingkungan.

Menurut Harriz, berbagai instrumen tersebut sebenarnya telah tersedia di Indonesia. Namun, pelaksanaannya masih berjalan sendiri-sendiri sehingga belum membentuk satu kerangka pembangunan yang utuh.

“Berbagai instrumen yang telah tersedia, seperti DBH, Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Desa, (seharusnya) diarahkan pada tujuan pembangunan yang sama,” jelasnya.

Baca juga: Ekspansi Industri Nikel Gerus Lahan Pertanian dan Kampung Nelayan di Morowali

Bupati Iksan mengamini bahwa masih ada tantangan dalam hilirisasi nikel. Salah satunya terkait dana bagi hasil.

Data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian keuangan, menunjukkan, nilai DBH Kabupaten Morowali berfluktuasi dalam beberapa tahun terakhir.

Setelah mencapai Rp 985,68 miliar pada 2023, nilainya turun menjadi Rp 622,89 miliar pada 2024 dan kembali berkurang menjadi Rp 604,68 miliar pada 2025.

Fluktuasi tersebut menunjukkan bahwa tingginya aktivitas ekonomi di daerah tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan yang diterima pemerintah daerah.

Padahal, pemerintah daerah tetap harus menanggung berbagai konsekuensi pembangunan, mulai dari kebutuhan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, hingga penyediaan layanan publik bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh aktivitas industri.

Iksan menyatakan, kontribusi Morowali yang cukup besar terhadap industri nasional perlu diikuti perhatian yang lebih besar dari pemerintah pusat.

"Pendapatan itu memang dihitung di pemerintah pusat. Karena itu, kami terus menyuarakan agar Morowali sebagai daerah penyumbang besar juga mendapat perhatian. Kami membutuhkan dukungan pemerintah pusat, mulai dari pembangunan jalan hingga penguatan sektor perikanan, karena kemampuan fiskal daerah juga terbatas," ujarnya.

Untuk peningkatan TPAK, Pemkab Morowali tengah menyiapkan program pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) agar kompetensi masyarakat lokal meningkat sehingga lebih banyak terserap di sektor industri.

"Kami akan membuat pelatihan BLK. Targetnya, warga lokal bisa mengoperasikan alat-alat berat yang dibutuhkan industri, seperti dump truck, ekskavator, wheel loader, dan sejenisnya. Dengan begitu mereka punya keahlian untuk masuk dan bersaing di kawasan industri," ujar Iksan.

Baca juga: Ketika Desa-Desa di Lingkar Industri Nikel Morowali Berubah jadi Sentra Kos

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pohon Lontar, Gula Sabu, dan Kearifan Lokal di Bumi Gersang
Pohon Lontar, Gula Sabu, dan Kearifan Lokal di Bumi Gersang
LSM/Figur
 Di Balik Lonjakan PDRB Morowali, Seberapa Merata Manfaat Hilirisasi Nikel?
Di Balik Lonjakan PDRB Morowali, Seberapa Merata Manfaat Hilirisasi Nikel?
LSM/Figur
APNI: Penerapan ESG Industri Nikel Harus Dimulai dari Tambang
APNI: Penerapan ESG Industri Nikel Harus Dimulai dari Tambang
Swasta
Picu Lonjakan Kematian Penambang Kobalt di Kongo, Riset Ungkap Alasan Moral Mempercepat Transisi ke EV
Picu Lonjakan Kematian Penambang Kobalt di Kongo, Riset Ungkap Alasan Moral Mempercepat Transisi ke EV
LSM/Figur
PLN Mengaku 'Blackout' Sumatera Sebabkan Rugi Rp 80 Miliar
PLN Mengaku "Blackout" Sumatera Sebabkan Rugi Rp 80 Miliar
BUMN
PLN: Cuaca Ekstrem Bukan Satu-satunya Penyebab Pemadaman Listrik
PLN: Cuaca Ekstrem Bukan Satu-satunya Penyebab Pemadaman Listrik
BUMN
Pakar Soroti Wacana Penggabungan RUU Tata Kelola Iklim dengan RUU PPLH
Pakar Soroti Wacana Penggabungan RUU Tata Kelola Iklim dengan RUU PPLH
LSM/Figur
PBB Wanti-Wanti El Nino Tahun Ini Bakal Lebih Kuat dan Berbahaya
PBB Wanti-Wanti El Nino Tahun Ini Bakal Lebih Kuat dan Berbahaya
Pemerintah
Gelombang Panas Bikin Penjualan AC di Inggris Meroket 320 Persen
Gelombang Panas Bikin Penjualan AC di Inggris Meroket 320 Persen
Pemerintah
Bank Dunia: Sembilan Negara Dominasi 83 Persen Total Gas Flaring Dunia
Bank Dunia: Sembilan Negara Dominasi 83 Persen Total Gas Flaring Dunia
Pemerintah
Beri Makan Sapi Biji-bijian, Tekan Emisi Metana Hingga 56 Persen
Beri Makan Sapi Biji-bijian, Tekan Emisi Metana Hingga 56 Persen
Pemerintah
Tambang Berkelanjutan Tak Cukup Komitmen, Audit Independen Jadi Ujian Sesungguhnya
Tambang Berkelanjutan Tak Cukup Komitmen, Audit Independen Jadi Ujian Sesungguhnya
Pemerintah
Krisis Iklim Picu Kerugian Besar akibat Hilangnya Kesempatan Karang Bertumbuh
Krisis Iklim Picu Kerugian Besar akibat Hilangnya Kesempatan Karang Bertumbuh
Pemerintah
Morowali Tanggung Beban Hilirisasi Nikel, DPRD Soroti Ketimpangan Manfaat
Morowali Tanggung Beban Hilirisasi Nikel, DPRD Soroti Ketimpangan Manfaat
Pemerintah
Hutan Luksemburg Mengkhawatirkan, Pohon-pohon 'Sekarat' Akibat Krisis Iklim-Spesies Invasif
Hutan Luksemburg Mengkhawatirkan, Pohon-pohon 'Sekarat' Akibat Krisis Iklim-Spesies Invasif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau