Ia mulai menekuni bisnis pempek usai berpindah ke kantor yang lebih fleksibel jam kerjanya. Bahkan, kantornya sekarang justru memberi keleluasaan baginya untuk mengembangkan bisnis pempek, termasuk menjualnya melalui e-commerce.
"Karena yang penting pekerjaannya selesai ya? enggak mengganggu itu dan memang enggak satu ranah, enggak double job seperti menjadi sama-sama researcher di tempat lain," ucap peneliti & policy strategis di organisasi nirlaba yang berfokus mendorong kebijakan transisi energi bersih dan berkeadilan ini.
Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai fenomena pekerja membangun usaha sampingan lebih tepat dipahami sebagai strategi bertahan dibanding sekadar tren gaya hidup.
Ia mengatakan, banyak pekerja merasa kenaikan pendapatan dari pekerjaan utama tidak lagi mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup, mulai dari kebutuhan perumahan, pendidikan, transportasi, cicilan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
"Usaha sampingan, personal brand, jualan online, jasa kreatif, dan bisnis kecil menjadi bentuk diversifikasi pendapatan untuk mengurangi risiko keuangan keluarga," ujar Rizal, Senin (6/7/2026).
Menurut Rizal, tekanan terhadap kelas menengah perlu menjadi perhatian karena kelompok ini memegang peran besar dalam perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelas menengah dan calon kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk Indonesia dan menyumbang 81,49 persen konsumsi rumah tangga.
Namun, daya tahan kelompok ini mulai tergerus. Rata-rata upah pekerja pada November 2025 tercatat sekitar Rp 3,33 juta per bulan, sementara jumlah penduduk kelas menengah menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.
"Artinya, banyak pekerja merasa bekerja keras di pekerjaan utama belum tentu cukup untuk naik kelas secara ekonomi," katanya.
Baca juga: UKT dan Tekanan Kelas Menengah
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital membuat semakin banyak orang dapat memulai usaha dengan modal relatif kecil melalui media sosial maupun platform perdagangan elektronik.
Meski demikian, Rizal mengingatkan bahwa peluang tersebut juga diiringi tantangan yang tidak ringan. Persaingan semakin ketat, biaya promosi digital meningkat, margin keuntungan menurun, dan regulasi perpajakan di sektor e-commerce mulai diperketat.
Karena itu, menurut dia, maraknya pekerja yang membangun usaha sampingan memang mencerminkan tumbuhnya semangat kewirausahaan.
Namun, fenomena tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pendapatan dari pekerjaan utama belum cukup kuat untuk menopang standar hidup kelas menengah secara berkelanjutan.
"Fenomena ini positif dari sisi kewirausahaan, tetapi juga menunjukkan bahwa pekerjaan utama belum lagi memberikan daya dukung yang memadai bagi kehidupan kelas menengah," ujar Rizal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya