Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil

Kompas.com, 13 Juli 2026, 18:25 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

"Ini adalah tanda nyata bahwa ekosistem alam sedang dalam kondisi stres," kata Nätscher.

Kejutan yang lebih besar baru terlihat setelah semua kumpulan data tersebut akhirnya bisa dibandingkan. Para peneliti membagi masa krisis alam menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah krisis akibat pemanasan global yang parah, sedangkan kelompok kedua adalah krisis akibat hal lain seperti pendinginan suhu atau berkurangnya oksigen. Hasilnya menunjukkan bahwa krisis akibat pemanasan suhu berdampak jauh lebih merusak.

Pada tiap jenis hewan yang diteliti, penyusutan ukuran tubuh mereka jauh lebih ekstrem dan drastis selama masa-masa bumi memanas tersebut.

Baca juga: Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat

Ukuran tubuh mereka berubah sangat drastis dan tidak menentu dari satu waktu ke waktu berikutnya, jauh berbeda dengan perubahan ukuran yang lebih stabil saat menghadapi krisis jenis lain.

Tim peneliti menyebut fenomena ini sebagai pengerdilan sejati (genuine dwarfing).

Artinya, ukuran tubuh dalam satu jenis hewan memang benar-benar mengecil secara langsung, bukan karena jenis hewan yang berukuran besar punah dan menyisakan jenis hewan yang sejak awal berukuran kecil.

"Rata-rata, efek penyusutan ini terjadi dua kali lebih kuat saat suhu memanas dibandingkan saat terjadi krisis jenis lainnya," kata Kenneth De Baets, salah satu penulis penelitian tersebut.

Mengapa suhu panas membuat tubuh menyusut

Para ahli biologi telah melihat sendiri fenomena ini terjadi di lautan saat ini. Ketika air laut memanas, banyak hewan berdarah dingin tumbuh dengan sangat cepat di awal kehidupan mereka, tetapi proses tumbuh parah itu berhenti lebih cepat. Akibatnya, ukuran tubuh mereka saat dewasa menjadi lebih kecil.

Alasan utamanya berkaitan dengan oksigen. Air yang panas menyimpan lebih sedikit oksigen, sementara tubuh hewan yang kepanasan justru membakar pasokan oksigen mereka dengan jauh lebih cepat.

Hewan yang terus tumbuh besar membutuhkan lebih banyak oksigen daripada yang bisa diserap oleh insangnya. Berbagai bukti menunjukkan bahwa dengan menjaga tubuh tetap kecil, hewan tersebut bisa lebih mudah mengatasi masalah kekurangan oksigen ini.

Respons fisik yang cepat tersebut membantu menjelaskan mengapa efek pemanasan global bisa membuat ukuran tubuh hewan berubah-ubah dengan sangat cepat.

Para peneliti menduga bahwa penyusutan akibat suhu panas ini bisa terjadi dalam satu masa hidup si hewan saja. Prosesnya pun bisa berbalik sama cepatnya ketika kondisi air kembali membaik. Akibatnya, ukuran tubuh mereka tampak naik-turun dengan cepat mengikuti perubahan iklim yang tidak menentu.

Sebaliknya, krisis alam yang tidak disertai suhu panas berjalan lebih lambat. Krisis jenis ini langsung memusnahkan seluruh spesies, alih-alih mengubah ukuran tubuh hewan yang berhasil bertahan hidup.

Peringatan bagi industri perikanan

Karena tingkat penyusutan tubuh hewan di masa lalu selalu mengikuti seberapa parah suhu pemanasan bumi saat itu, catatan sejarah ini bisa digunakan untuk meramal masa depan.

Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau