"Ini adalah tanda nyata bahwa ekosistem alam sedang dalam kondisi stres," kata Nätscher.
Kejutan yang lebih besar baru terlihat setelah semua kumpulan data tersebut akhirnya bisa dibandingkan. Para peneliti membagi masa krisis alam menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama adalah krisis akibat pemanasan global yang parah, sedangkan kelompok kedua adalah krisis akibat hal lain seperti pendinginan suhu atau berkurangnya oksigen. Hasilnya menunjukkan bahwa krisis akibat pemanasan suhu berdampak jauh lebih merusak.
Pada tiap jenis hewan yang diteliti, penyusutan ukuran tubuh mereka jauh lebih ekstrem dan drastis selama masa-masa bumi memanas tersebut.
Baca juga: Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Ukuran tubuh mereka berubah sangat drastis dan tidak menentu dari satu waktu ke waktu berikutnya, jauh berbeda dengan perubahan ukuran yang lebih stabil saat menghadapi krisis jenis lain.
Tim peneliti menyebut fenomena ini sebagai pengerdilan sejati (genuine dwarfing).
Artinya, ukuran tubuh dalam satu jenis hewan memang benar-benar mengecil secara langsung, bukan karena jenis hewan yang berukuran besar punah dan menyisakan jenis hewan yang sejak awal berukuran kecil.
"Rata-rata, efek penyusutan ini terjadi dua kali lebih kuat saat suhu memanas dibandingkan saat terjadi krisis jenis lainnya," kata Kenneth De Baets, salah satu penulis penelitian tersebut.
Para ahli biologi telah melihat sendiri fenomena ini terjadi di lautan saat ini. Ketika air laut memanas, banyak hewan berdarah dingin tumbuh dengan sangat cepat di awal kehidupan mereka, tetapi proses tumbuh parah itu berhenti lebih cepat. Akibatnya, ukuran tubuh mereka saat dewasa menjadi lebih kecil.
Alasan utamanya berkaitan dengan oksigen. Air yang panas menyimpan lebih sedikit oksigen, sementara tubuh hewan yang kepanasan justru membakar pasokan oksigen mereka dengan jauh lebih cepat.
Hewan yang terus tumbuh besar membutuhkan lebih banyak oksigen daripada yang bisa diserap oleh insangnya. Berbagai bukti menunjukkan bahwa dengan menjaga tubuh tetap kecil, hewan tersebut bisa lebih mudah mengatasi masalah kekurangan oksigen ini.
Respons fisik yang cepat tersebut membantu menjelaskan mengapa efek pemanasan global bisa membuat ukuran tubuh hewan berubah-ubah dengan sangat cepat.
Para peneliti menduga bahwa penyusutan akibat suhu panas ini bisa terjadi dalam satu masa hidup si hewan saja. Prosesnya pun bisa berbalik sama cepatnya ketika kondisi air kembali membaik. Akibatnya, ukuran tubuh mereka tampak naik-turun dengan cepat mengikuti perubahan iklim yang tidak menentu.
Sebaliknya, krisis alam yang tidak disertai suhu panas berjalan lebih lambat. Krisis jenis ini langsung memusnahkan seluruh spesies, alih-alih mengubah ukuran tubuh hewan yang berhasil bertahan hidup.
Karena tingkat penyusutan tubuh hewan di masa lalu selalu mengikuti seberapa parah suhu pemanasan bumi saat itu, catatan sejarah ini bisa digunakan untuk meramal masa depan.
Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya