KOMPAS.com - Asap kebakaran hutan yang menyelimuti negara bagian New York, Amerika Serikat, pada 2023 tidak hanya menurunkan kualitas udara bagi manusia, tetapi juga memengaruhi kemunculan burung liar.
Studi terbaru dari University at Buffalo menemukan sedikitnya 40 spesies burung di New York menjadi lebih jarang terlihat ketika konsentrasi partikel halus (PM2.5) di udara meningkat akibat asap kebakaran hutan di Kanada.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal "Biodiversity and Conservation" berdasarkan analisis terhadap musim kawin burung pada 2021–2023.
Baca juga: Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
Penulis utama studi, Festus Adegbola, mengatakan burung kemungkinan mengubah perilakunya selama kondisi berasap sehingga lebih sulit diamati.
"Ada kemungkinan kondisi berasap mengubah perilaku burung. Mereka lebih jarang bernyanyi dan bergerak, serta menghabiskan lebih banyak waktu di kanopi hutan yang lebat sehingga lebih sulit dideteksi," ujar Adegbola, kandidat doktor di Departemen Geografi University at Buffalo, dikutip dari laman resmi kampus tersebut, Sabtu (18/7/2026).
Untuk mengetahui pengaruh asap kebakaran hutan terhadap burung, tim peneliti menganalisis kadar PM2.5 selama musim kawin di New York pada 2021 hingga 2023.
Konsentrasi PM2.5 tertinggi tercatat pada 2023 ketika asap dari kebakaran hutan besar di Kanada menyelimuti New York sepanjang Juni dan Juli.
Pada beberapa kesempatan, kadar partikel halus tersebut bahkan mencapai delapan kali lipat di atas pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Data kualitas udara kemudian dipadankan dengan hampir 99.000 daftar pengamatan burung yang dikumpulkan melalui eBird, basis data sains warga yang dikelola Laboratorium Ornitologi Universitas Cornell.
Dengan menggunakan penyaringan data dan analisis statistik, peneliti mengevaluasi 84 spesies burung yang diamati selama tiga musim kawin terakhir.
Hasilnya, hampir separuh spesies yang dianalisis cenderung lebih jarang terlihat ketika kadar PM2.5 meningkat. Kelompok tersebut didominasi burung penyanyi penghuni hutan, seperti warbler, vireo, dan jay.
Sebaliknya, 15 spesies justru lebih sering teramati selama kondisi berasap, sedangkan 29 spesies lainnya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Penulis sekaligus profesor madya geografi University at Buffalo, Adam Wilson, mengatakan meningkatnya peluang pengamatan pada sebagian spesies tidak berarti asap memberikan manfaat bagi burung.
Menurut dia, spesies-spesies tersebut umumnya hidup di habitat yang lebih terbuka sehingga kemungkinan lebih mudah diamati ketika pengamat burung menghindari kawasan berhutan saat kualitas udara memburuk.
"Spesies-spesies ini sering menghuni lingkungan yang lebih terbuka. Karena itu, peningkatan penampakan mereka mungkin lebih berkaitan dengan lokasi pengamatan daripada respons burung terhadap asap," ujar Wilson.
Baca juga: Sensus Burung Air 2026 Digelar di Pesisir Jakarta
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya