Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 2 November 2023, 15:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi Riau meluncurkan kurikulum pendidikan gambut dan mangrove sebagai materi muatan lokal untuk SMA dan SMK di provinsi tersebut.

Dengan adanya konten pendidikan itu, Riau tercatat menjadi provinsi pertama yang menyelenggarakan kurikulum muatan lokal mengenai gambut dan mangrove.

Deputi Bidang Konstruksi, Operasi, dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) RI Tris Raditian mengatakan, kurikulum tersebut penting diimplementasikan untuk memberikan pemahaman mengenai gambut dan mangrove di kalangan pelajar.

Baca juga: Pentingnya Lahan Gambut untuk Mitigasi Perubahan Iklim dan Keanekaragaman Hayati

“Riau menjadi provinsi pertama yang meluncurkan kurikulum pendidikan gambut dan mangrove sebagai materi muatan lokal,” kata Tris di Gedung Daerah Balai Pauh Janggi, Pekanbaru, Riau, Rabu (1/11/2023), sebagaimana dilansir Antara.

Tris mengatakan, pemberian materi muatan lokal mengenai gambut dan mangrove kepada para pelajar juga merupakan salah satu upaya menciptakan generasi peduli lingkungan.

Dia menyampaikan, dengan memberi edukasi sedini mungkin, generasi muda dapat melanjutkan pembangunan gambut dan mangrove.

“Ketika sudah belajar dan memahami sejak dini bagaimana sifat gambut dan mangrove, serta bagaimana perlindungan dan pengelolaan, maka kelak mereka akan menjadi generasi muda yang cinta lingkungan,” ucap Tris.

Baca juga: Mitigasi Kebakaran Lahan Gambut, BRGM Gelar Sekolah Lapang Petani Gambut

Tris menuturkan, BRGM bekerja sama dengan Provinsi Riau meluncurkan program bernama Riau Hijau yaitu pembagunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

“Kami berharap dengan diimplementasikan modul tersebut menjadi upaya strategis meningkatkan pengetahuan, keterampilan pelajar, yang dapat mempengaruhi sikap serta perilaku generasi muda dalam pengambilan keputusan di masa datang,” tutur Tris.

Lahan gambut merupakan sumber daya alam yang perlu dilindungi karena mempunyai pengaruh besar terhadap kelestarian alam.

Keberadaan ekosistem lahan gambut di indonesia terus mengalami gangguan dan kerusakan akibat pola pemanfaatan yang serampangan.

Baca juga: Polres Se-Kepri Tanam Mangrove, Jaga Kelestarian Lingkungan

Diberitakan Kompas.com sebelumnya, Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sasa Sofyan Munawar mengatakan, lahan gambut adalah ekosistem penting bagi keanekaragaman hayati.

Lahan gambut juga sekaligus menjadi solusi yang efektif dalam mitigasi perubahan iklim.

"Perlindungan dan restorasi gambut tidak hanya berperan untuk target iklim nasional, tetapi juga untuk mitigasi perubahan iklim secara global," ujar Sasa, sebagaimana dilansir Antara, 23 Mei 2023.

Indonesia yang memiliki total luas gambut 13,4 juta hektare (ha) atau setara dengan 80 persen dari total lahan gambut di Asia Tenggara, menyimpan 14 persen karbon gambut global.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Merencanakan Keuangan bagi Korban Banjir Sumatera
Merencanakan Keuangan bagi Korban Banjir Sumatera
Swasta
Spesies Invasif Menekan Tumbuhan Pakan Badak Jawa, Dampak Krisis Iklim
Spesies Invasif Menekan Tumbuhan Pakan Badak Jawa, Dampak Krisis Iklim
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang hingga 8 Januari 2026 akibat Siklon Tropis
BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang hingga 8 Januari 2026 akibat Siklon Tropis
Pemerintah
Penguin Afrika Kelaparan, Sumber Pakan Hilang akibat Krisis Iklim
Penguin Afrika Kelaparan, Sumber Pakan Hilang akibat Krisis Iklim
LSM/Figur
Kawasan Lindung Dunia Meluas, tapi Belum Berhasil Cegah Hilangnya Biodiversitas
Kawasan Lindung Dunia Meluas, tapi Belum Berhasil Cegah Hilangnya Biodiversitas
LSM/Figur
Populasi Gurita di Inggris Melonjak, Disebut akibat Krisis Iklim
Populasi Gurita di Inggris Melonjak, Disebut akibat Krisis Iklim
LSM/Figur
Populasi Hiu Putih Besar di Laut Mediterania Menurun, Ini Alasannya
Populasi Hiu Putih Besar di Laut Mediterania Menurun, Ini Alasannya
LSM/Figur
Kawasan Konservasi Dunia Belum Maksimal Lindungi Biodiversitas, Apa Sebabnya?
Kawasan Konservasi Dunia Belum Maksimal Lindungi Biodiversitas, Apa Sebabnya?
LSM/Figur
Taiwan Capai Target Penurunan Polusi Udara PM2.5 pada 2025
Taiwan Capai Target Penurunan Polusi Udara PM2.5 pada 2025
Pemerintah
Inggris Catat Rekor Tertinggi Produksi Listrik Energi Terbarukan pada 2025
Inggris Catat Rekor Tertinggi Produksi Listrik Energi Terbarukan pada 2025
Swasta
Ratusan Bunga di Inggris Mekar Tidak pada Waktunya akibat Krisis Iklim
Ratusan Bunga di Inggris Mekar Tidak pada Waktunya akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ketika Alam Menagih Tanggung Jawab
Ketika Alam Menagih Tanggung Jawab
Pemerintah
93 Butir Telur Penyu Diselamatkan BKSDA Maluku Demi Penetasan Aman
93 Butir Telur Penyu Diselamatkan BKSDA Maluku Demi Penetasan Aman
Pemerintah
LPDB Koperasi Salurkan Dana Bergulir Rp 1,7 Triliun Sepanjang 2025, Lampaui Target Pemerintah
LPDB Koperasi Salurkan Dana Bergulir Rp 1,7 Triliun Sepanjang 2025, Lampaui Target Pemerintah
LSM/Figur
Kapan Gletser di Bumi Bisa Mencair akibat Pemanasan Global?
Kapan Gletser di Bumi Bisa Mencair akibat Pemanasan Global?
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau