JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisiplin (CTSS) IPB University, Damayanti Buchori, menilai pemerintah perlu mengubah cara pandang dan pendekatan dalam mengintervensi pertanian tradisional.
Menurutnya, pemerintah harus berhenti menggunakan paradigma top down, di mana kebijakan dari atas wajib ditaati masyarakat di bawah, dan mulai memberi ruang bagi inovasi berbasis kearifan lokal.
"Paradigma pembangunan Indonesia ini sudah enggak bisa kayak gini lagi. Nah, kalau kita lihat sekarang, kita balik ke zaman Orde Baru, kan? dengan retorik-retorik dan sebagainya. Ini kemunduran luar biasa. bagaimana kita bisa membuat perubahan ketika pemerintah memberlakukan informasi dan komunikasi satu arah. Jadi, bagaimana caranya membuat pemerintah itu hidup di zaman 2025," ujar Damayanti dalam webinar, Rabu (24/9/2025).
Ia menegaskan, pemerintah seharusnya menghormati sistem sosial lokal yang sudah ada, misalnya Subak di Bali. Untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan, kearifan lokal mesti dikawinkan dengan metode ilmiah modern agar tercipta pemahaman lebih utuh atas sistem sosial yang kompleks.
Baca juga: Penggunaan Pupuk Kimia Tinggi, Tanda Pertanian Indonesia Belum Berkelanjutan
"Jadi penting untuk mengawinkan Timur dan Barat atau lokal dan modern. Kita harus bisa melampauinya, memvalidasinya. Tujuannya bukan untuk melaksanakan pengetahuan lokal agar sesuai dengan kerangka ilmiah. Tapi bagaimana kita bisa merangsang penelitian dan sintesis secara kolaboratif, kemudian saling menghormati serta menggunakan pendekatan holistik," jelas Damayanti.
Ia mencontohkan riset J Stephen Lansing dan James N Kremer dari University of Southern California pada 1993 yang meneliti sistem Subak di Bali. Hasil penelitian yang terbit di jurnal American Anthropologist itu menunjukkan bagaimana kearifan lokal berpadu dengan ilmu modern mampu menghasilkan solusi berkelanjutan.
Dengan pengamatan langsung, Lansing dan Kremer menemukan kunci keberhasilan pengelolaan udara dan pertanian padi yang sudah berlangsung sejak 1.000 tahun lalu. Mereka memetakan jaringan terowongan, kanal, dan irigasi dari Danau Batur hingga ke pantai, yang kemudian membentuk komunitas Subak.
"Kemudian, mereka membuat pemodelan ekologi. Ternyata jaringan kuil air itu membuat lanskap adaptif yang merupakan sistem adaptif yang kompleks. Jadi cara mereka mengelola agroekologi itu sesuai dengan ilmu kompleks adaptive system yang sekarang banyak dikembangkan oleh orang-orang eh eh modeling. Luar biasa kan," ucapnya.
Baca juga: Tanah Terdegradasi, Iklim Memburuk: Pertanian Ramah Lingkungan Jadi Solusi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya