Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap Parah

Kompas.com, 12 Desember 2025, 17:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Studi iklim tahun 2024 tentang kerugian ekonomi akibat perubahan iklim ditarik kembali setelah para peneliti mengidentifikasi kesalahan dalam data historis. Namun, setelah direvisi, kerugiannya tetap besar. 

Studi yang dilakukan oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) itu sebelumnya menarik perhatian dan sempat dikutip oleh lembaga keuangan dan media.

Baca juga: 

Meskipun direvisi, studi yang awalnya diterbitkan di Nature tersebut tetap menunjukkan angka-angka yang mengkhawatirkan, dengan kerugian ekonomi global dan kerusakan iklim yang diproyeksikan akan meningkat tajam pada pertengahan abad ini.

Kendati demikian, revisi ini telah memicu perdebatan tentang keakuratan proyeksi iklim, serta implikasinya terhadap kebijakan dan investasi.

Studi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim direvisi

Penelitian awal menunjukkan, pendapatan global diprediksi menurun sebesar 19 persen dan menimbulkan kerugian tahunan sebesar 38 triliun dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 632.547 triliun) pada tahun 2050. Hal itu akibat ancaman ekonomi yang ditimbulkan oleh krisis iklim.

Penelitian awal juga menyatakan, ada kemungkinan 99 persen bahwa memperbaiki kerusakan iklim akan menelan biaya lebih besar daripada melakukan tindakan pencegahan dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Namun, setelah mengoreksi kesalahan dalam data ekonomi dan mengatasi faktor statistik yang terabaikan, angka-angka tersebut direvisi.

Baca juga:

Sebuah studi iklim 2024 tentang kerugian ekonomi akibat perubahan iklim direvisi karena kesalahan data. Namun, angkanya tetap mengkhawatirkan.Marti Bug Catcher/ Shutterstock Sebuah studi iklim 2024 tentang kerugian ekonomi akibat perubahan iklim direvisi karena kesalahan data. Namun, angkanya tetap mengkhawatirkan.

Perhitungan yang diperbarui menunjukkan penurunan pendapatan global sebesar 17 persen, sedangkan kerugian tahunan sebesar 32 triliun dollar AS.

Selain itu kemungkinan 91 persen mengatasi dampak iklim akan lebih mahal daripada mencegahnya.

Penyesuaian ini menunjukkan distribusi kerusakan yang tidak merata, dengan wilayah yang lebih miskin menghadapi kerugian yang lebih besar secara proporsional terhadap pendapatan sehingga menurunkan nilai kerugian global dalam dollar.

Proyeksi yang salah tersebut berasal dari ketidakakuratan data ekonomi historis dan variabilitas statistik yang diremehkan. Para peneliti memperbarui data dan menerapkan kontrol yang lebih ketat untuk anomali, serta memperhitungkan korelasi antar-wilayah.

Meski PIK menarik kembali penelitian tersebut, para peneliti mengatakan, konsekuensi ekonomi dari perubahan iklim sangat besar.

Para ahli independen mengonfirmasi bahwa pola kerugian secara keseluruhan tetap konsisten, meskipun angka pastinya sedikit bergeser.

Penarikan kembali tersebut memicu kritik di media sosial, dengan beberapa pihak menyatakan bahwa ilmu iklim bisa dimanipulasi atau didorong oleh kepentingan politik.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
LSM/Figur
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
LSM/Figur
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau