KOMPAS.com - Dampak konflik AS-Israel Vs Iran mulai mengubah peta industri plastik di Asia.
Konflik ini memicu kenaikan harga minyak dan mengganggu rantai produksi kimia dunia. Penutupan Selat Hormuz menghambat pasokan naphtha atau bahan baku utama plastik, sehingga harga plastik baru menjadi hampir semahal plastik daur ulang.
Melansir Eco Business, Jumat (3/4/2026) selisih harga antara plastik baru (virgin) dan plastik daur ulang (PET) kini menyusut menjadi sekitar 200 dolar AS atau Rp3,4 juta per ton, padahal tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai lebih dari 400 dolar AS atau Rp 6,8 juta per ton.
Biasanya, plastik baru jauh lebih murah karena diproduksi massal dari minyak bumi. Sementara plastik daur ulang justru lebih mahal karena proses pengumpulan dan pengolahannya sulit.
Baca juga: Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia
Namun karena konflik AS-Israel Vs Iran yang membuat harga minyak dunia melonjak, para pendaur ulang pun melaporkan lonjakan permintaan plastik daur ulang.
Rob Kaplan, pimpinan Circulate Capital, investor perusahaan daur ulang di Asia Tenggara, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di bawah naungannya mengalami lonjakan permintaan plastik daur ulang yang luar biasa. Hal ini terjadi karena para pembeli kini berebut untuk mengamankan stok mereka.
“Ini bukan cuma soal harga, tapi soal ada atau tidak barangnya. Karena harga minyak naik dan jalur Selat Hormuz terhambat sehingga bahan baku plastik baru susah didapat, permintaan untuk plastik daur ulang pun melonjak drastis,” terang Kaplan.
Ganesha Ecosphere, sebuah perusahaan daur ulang di India, mengatakan bahwa minggu ini mereka memasok plastik daur ulang dalam jumlah yang sangat besar.
Banyak perusahaan mencarinya sebagai pengganti plastik baru yang stoknya sedang langka. Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, bisnis plastik daur ulang sempat terpuruk karena kalah saing dengan harga plastik baru yang murah.
Lonjakan permintaan ini memberikan tekanan besar pada sektor pengumpul sampah informal seperti pemulung, yang selama ini menjadi tulang punggung dalam mengumpulkan sebagian besar sampah plastik rumah tangga di wilayah tersebut.
“Pasokan bahan baku tidak bisa ditambah dalam sekejap karena sangat bergantung pada sektor informal. Hal ini menyebabkan terjadinya jeda waktu antara lonjakan permintaan pembeli dengan kemampuan kami untuk menyediakan bahan baku yang cukup,” kata Kaplan.
Alvaro Aguilar, kepala operasional Prevented Ocean Plastic di Bali, mengatakan bahwa pengumpulan botol plastik di Indonesia sebenarnya masih stabil. Namun, hambatan logistik dan tekanan pada keuntungan makin terasa di seluruh rantai bisnis seiring krisis yang terus berlanjut.
“Harga minyak yang tinggi memang bisa membuat plastik daur ulang lebih bersaing dibanding plastik baru, tapi ada batasnya. Jika harga terus tidak stabil, banyak pembeli akan menunda pesanan dan menunggu sampai kepastian harga lebih jelas,” katanya.
Aguilar menambahkan plastik daur ulang seharusnya memberikan stabilitas lebih bagi pembeli karena bahan bakunya berasal dari sampah lokal, jadi pasokannya tidak gampang terpengaruh oleh gangguan dari luar.
Baca juga: Air Cucian Pabrik Daur Ulang Plastik Berpotensi Tercemar
"Dalam hal ini, daur ulang berfungsi lebih sebagai pelindung rantai pasokan, bukan sekadar alternatif harga murah," katanya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya